Headline.co.id, Sleman ~ Daerah Istimewa Yogyakarta, mengembangkan pisang Cavendish sebagai komoditas buah bernilai tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar modern. Pengembangan itu dilakukan Rocky, pedagang buah dari Pasar Pusat Gamping, melalui perkebunan seluas 1,5 hektare di Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Godean. Memasuki tahun ketiga, kebun tersebut mengelola sekitar 3.000 pohon produktif dan memasok sedikitnya 60 tandan pisang Cavendish setiap pekan ke sejumlah jaringan supermarket.
Pengembangan pisang Cavendish ini menjadi bagian dari upaya diversifikasi komoditas di Sleman yang selama ini dikenal sebagai sentra salak pondoh. Budidaya dilakukan secara terencana dengan menggabungkan pengaturan masa tanam, perawatan tanaman, pengawasan mutu, hingga penanganan pascapanen agar buah memenuhi standar ritel modern.
Menurut bahan publikasi , inisiatif tersebut muncul karena pisang lokal kerap kesulitan bersaing di rak swalayan. Beberapa kendalanya ialah pola penanaman yang tidak teratur, waktu panen yang tidak serentak, serta ukuran dan kondisi fisik buah yang belum konsisten.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Pisang Cavendish Dikembangkan di Lahan 1,5 Hektare
Rocky menyewa lahan seluas 1,5 hektare di Sidomulyo untuk membangun perkebunan yang secara khusus diarahkan menghasilkan pisang Cavendish bagi pasar ritel berskala besar. Perkebunan itu dirancang bukan sekadar untuk menghasilkan buah, melainkan juga menjaga kesinambungan pasokan dan keseragaman mutu.
Operasional kebun didukung tujuh tenaga kerja. Mereka menangani sejumlah pekerjaan harian, mulai dari pengelolaan hara tanah, penyiangan gulma, hingga penyemprotan pelindung hama.
Andi, pemuda lokal yang turut mengelola kebun, menjelaskan bahwa siklus panen pisang Cavendish berlangsung relatif cepat. Pohon induk dapat dipanen pada bulan kedelapan. Setelah itu, tunas-tunas anakan di sekitar pohon akan matang secara bergiliran setiap tiga bulan.
Pengaturan rotasi tersebut memungkinkan panen berlangsung secara berkesinambungan. Dengan demikian, kebun dapat menjaga ketersediaan buah tanpa jeda kekosongan stok.
Dalam satu siklus panen raya, kebun di Sidomulyo mampu menghasilkan hingga 120 tandan pisang berkualitas super dalam hitungan pekan. Pengelola menerapkan pengawasan mutu sejak tanaman masih berada pada tahap awal pertumbuhan hingga menghasilkan buah.
Mutu Pisang Dijaga sejak Panen hingga Inkubasi
Penetrasi pisang Cavendish ke pasar modern tidak hanya ditentukan oleh proses budidaya. Penanganan pascapanen menjadi tahap penting untuk memastikan buah memiliki tampilan dan tingkat kematangan sesuai kebutuhan supermarket.
Buah dipisahkan dari tandannya ketika mencapai usia pemotongan optimal, saat kulit masih berwarna hijau pekat. Setelah itu, sisir pisang dicuci menggunakan air mengalir dan diangin-anginkan secara perlahan di dalam ruangan.
Proses pengeringan tidak dilakukan di bawah sinar matahari langsung. Paparan terik matahari dinilai berisiko menimbulkan bercak pada kulit pisang dan menurunkan kualitas tampilan buah.
Tahap berikutnya dilakukan di ruang inkubasi khusus. Di ruangan tersebut, suhu dan komposisi gas diatur untuk memicu kematangan buah secara serentak. Proses itu menghasilkan pisang dengan warna kuning cerah yang menjadi salah satu kriteria penting untuk dipasarkan di segmen swalayan premium.
Setelah melalui proses inkubasi, pisang dikemas menggunakan standar pengemasan industri. Produk tersebut kemudian dipasarkan dengan merek lokal Pick Me.
Pasokan Mencapai 60 Tandan per Pekan
Penggabungan teknik budidaya dengan teknologi pematangan buah membuat perkebunan Rocky mampu menjaga pasokan secara rutin. Setiap pekan, kebun itu memasok tidak kurang dari 60 tandan pisang Cavendish ke berbagai jaringan supermarket.
Pengembangan tersebut turut membuka pekerjaan bagi tenaga kerja di perdesaan. Pada saat yang sama, keberadaan produk dengan mutu yang memenuhi kebutuhan ritel modern menunjukkan peluang komoditas lokal untuk bersaing dengan buah impor.
Budidaya pisang Cavendish di Godean juga memperluas basis komoditas pertanian Sleman. Pisang kini menjadi komoditas pendamping salak pondoh, dengan nilai ekonomi yang didukung oleh pengelolaan kebun terencana, panen berkelanjutan, serta standardisasi pascapanen.
Inisiatif itu dinilai membuka peluang bagi penguatan ketahanan ekonomi wilayah Kabupaten Sleman. Pisang Cavendish dari Sidomulyo tidak hanya diposisikan sebagai hasil kebun, tetapi juga sebagai produk pertanian lokal yang disiapkan untuk memenuhi kebutuhan pasar modern.
Sumber: , MC Kabupaten Sleman/KIM Pararta Guna Gamping/Dwi Ony Raharjo.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















