Headline.co.id, Jakarta ~ Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) memanfaatkan Lokakarya Pelatihan Internasional Memory of the World (MoW) 2026 untuk memperkuat diplomasi budaya Indonesia sekaligus menyiapkan dua proposal pengajuan arsip ke tingkat global. Kegiatan yang berlangsung di Jakarta pada 13-16 Oktober 2026 itu mempertemukan perwakilan dari 16 negara Asia Pasifik. Forum tersebut digelar untuk meningkatkan kemampuan teknis peserta dalam mengajukan arsip warisan dokumenter ke registrasi internasional.
Lokakarya Memory of the World 2026 diselenggarakan ANRI bersama Komisi Nasional Korea untuk UNESCO dan Korea Heritage Service. Selain menjadi forum pelatihan, kegiatan ini digunakan Indonesia untuk merampungkan rancangan pengajuan arsip mengenai catatan erupsi Gunung Krakatau pada 1883-1884 dan arsip tata kelola koleksi tumbuhan hidup tropis di Kebun Raya Bogor.
Forum internasional itu ditujukan untuk membantu negara-negara Asia Pasifik mengatasi kesenjangan teknis dalam proses pengajuan arsip ke tingkat global. Kawasan tersebut dinilai memiliki kekayaan dokumentasi yang merekam sejarah kemanusiaan, perjuangan, serta kebijakan lokal, tetapi sebagian di antaranya belum memperoleh pengakuan dalam daftar warisan internasional.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Dalam keterangan yang diterima , Jumat (16/10/2026), Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Korea untuk UNESCO, Hyunik Hong, menilai keragaman budaya Asia Pasifik kerap terkendala masuk ke tingkat global karena minimnya penguasaan terhadap prosedur registrasi internasional yang ketat.
Pelatihan teknis pengajuan arsip
Untuk menjawab kendala tersebut, Lokakarya Memory of the World 2026 menghadirkan konsultasi dari para pakar komite warisan dunia. Para akademisi dan pejabat kearsipan dari sejumlah negara, lain Kirgizstan, Uzbekistan, Tuvalu, dan Palau, mengikuti pelatihan mengenai identifikasi arsip, penyusunan justifikasi sejarah, serta pembuktian keaslian dokumen.
Materi tersebut diarahkan agar peserta mampu menyusun proposal yang memenuhi persyaratan penilaian internasional. Dengan demikian, kekayaan dokumenter dari negara-negara Asia Pasifik dapat diajukan melalui prosedur yang sesuai dan memiliki dasar sejarah yang kuat.
Indonesia menjadi tuan rumah dengan bekal rekam jejak dalam dokumentasi dunia. Berdasarkan bahan yang disampaikan, Indonesia memiliki 80 naskah yang terdaftar dalam registrasi nasional, lima pada tingkat regional, serta 16 mahakarya kebudayaan dalam daftar UNESCO.
Kepala ANRI, Mego Pinandito, menyatakan pencapaian tersebut menjadi modal bagi Indonesia untuk berbagi praktik dan strategi kepada negara-negara tetangga. Pengalaman itu juga dimanfaatkan dalam lokakarya untuk menyusun dua proposal pengajuan baru.
Proposal arsip erupsi Gunung Krakatau
Proposal pertama berfokus pada kumpulan catatan vulkanologi tentang erupsi Gunung Krakatau pada periode 1883 hingga 1884. Catatan tersebut diajukan melalui kerja sama pengarsipan dengan otoritas Kerajaan Belanda.
Dokumen observasi mengenai erupsi Krakatau itu disebut memiliki arti penting karena berkaitan dengan perubahan pemahaman mengenai iklim global. Melalui proposal tersebut, Indonesia berupaya memperoleh pengakuan global atas dokumentasi peristiwa vulkanologi yang menjadi bagian penting dalam sejarah ilmu pengetahuan.
Pengajuan bersama dengan otoritas Kerajaan Belanda menjadi bagian dari skema kerja sama pengarsipan yang digunakan untuk menyusun dan mengajukan catatan tersebut. Lokakarya menjadi ruang untuk mendapatkan bimbingan teknis dalam merapikan proposal sebelum diajukan ke tingkat internasional.
Arsip Kebun Raya Bogor diajukan BRIN
Proposal kedua diajukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Proposal itu memuat arsip operasional dan tata kelola sistem koleksi tumbuhan hidup tropis di Kebun Raya Bogor yang terdokumentasi sejak 1865 hingga 2019.
Dokumen tersebut menggambarkan pengelolaan koleksi tumbuhan hidup tropis dalam rentang waktu yang panjang. Pengajuan arsip itu dikaitkan dengan prioritas Asta Cita di bidang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama dalam upaya menyelamatkan keanekaragaman hayati dunia dari ancaman laju kepunahan modern.
Bagi Indonesia, pelestarian arsip tidak hanya berkaitan dengan penyimpanan dokumen masa lalu. Perlindungan terhadap dokumen-dokumen tersebut dipandang sebagai upaya mewariskan pengetahuan dan kebijaksanaan lintas zaman, sekaligus menjaga kesinambungan identitas suatu negara.
Rangkaian Lokakarya Memory of the World 2026 ditutup dengan observasi lapangan ke Museum Bank Indonesia dan Gedung Cagar Budaya ANRI. Kunjungan tersebut memberikan kesempatan kepada para delegasi asing untuk melihat secara langsung tata kelola fisik dan upaya perawatan memori kolektif peradaban di Indonesia.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
















