Headline.co.id, Sleman ~ Perayaan Iduladha 1447 H tidak hanya menjadi momen keagamaan, tetapi juga memicu pertumbuhan ekonomi kreatif di sektor hilirisasi pangan skala mikro. Saat masyarakat menerima banyak daging kurban, beberapa warga memanfaatkan peluang bisnis dengan menawarkan jasa pengolahan daging sapi menjadi abon yang siap saji dan tahan lama.
Salah satu pelaku usaha yang menekuni bisnis musiman ini adalah pasangan suami istri, Sandi, yang tinggal di Dusun Tegal Domban, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman. Mereka memanfaatkan momentum Iduladha dengan mengubah halaman rumah menjadi area produksi untuk memenuhi lonjakan pesanan dari warga yang ingin mengolah daging kurban menjadi abon.
Sandi menjelaskan bahwa usaha pembuatan abon daging sapi bersifat musiman dengan durasi operasional yang sangat singkat, biasanya hanya efektif selama empat hari setelah penyembelihan. Setelah periode tersebut, pasokan daging kurban menurun drastis sehingga tidak lagi efisien untuk menutup biaya operasional seperti kayu bakar dan tenaga kerja.
“Sehari-hari, kami sebenarnya memproduksi abon ayam dengan merek dagang Abon Miraos. Namun, saat Iduladha, kami fokus pada jasa pembuatan abon dari daging sapi milik warga. Dalam sehari, kami bisa mengolah hingga tiga puluh kilogram daging sapi berkat tingginya kepercayaan konsumen dari wilayah Tempel dan sekitarnya,” ujar Sandi saat menggoreng abon di halaman rumahnya, Senin (1/6/2026).
Sandi menjelaskan bahwa pembuatan abon sapi berkualitas premium memerlukan ketelatenan dan standardisasi proses yang rumit. Proses dimulai dengan pemilihan daging yang bebas lemak, direbus hingga empuk, lalu ditumbuk manual agar serat daging terurai sempurna sebelum digoreng dengan bumbu rempah tradisional.
“Tahap penggorengan sangat krusial untuk menentukan tekstur dan rasa abon. Kami menggunakan wajan besar di atas tungku kayu bakar, di mana satu wajan bisa memuat lima kilogram daging. Kami mengoperasikan dua wajan sekaligus agar sepuluh kilogram daging bisa selesai dalam sekali proses. Selama setengah jam pertama, adonan daging tidak boleh diaduk sampai minyak mendidih. Setelah itu, adonan harus diaduk terus selama tiga jam agar tidak gosong,” jelas Sandi.
Sandi memilih tetap menggunakan kayu bakar tradisional dibandingkan gas modern karena efisiensi biaya dan karakter api kayu yang memberikan panas merata serta aroma asap khas yang memperkuat cita rasa abon. Setelah penggorengan, abon yang matang dimasukkan ke mesin pemeras minyak untuk mengurangi kadar minyak hingga kering sempurna, sehingga abon tidak mudah tengik dan siap didistribusikan sebagai alternatif pangan sehat jangka panjang. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)



















