Headline.co.id, Jakarta ~ Investasi AI dan data center dinilai menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat ekonomi digital, menarik modal, serta menciptakan lapangan kerja baru. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menyampaikan pandangan itu dalam keterangannya pada Rabu (14/10/2026), dengan merujuk perkembangan dalam IMF–World Bank Annual Meetings 2026 di Bangkok. Menurut Fakhrul, Indonesia perlu memastikan pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berlangsung di dalam negeri agar manfaat investasi, transfer teknologi, dan pertumbuhan industri tidak hanya dinikmati negara lain. Strategi tersebut dilakukan dengan membangun ekosistem yang menghubungkan pusat data, energi, jaringan digital, industri pendukung, pembiayaan swasta, serta peningkatan keterampilan tenaga kerja.
Fakhrul mengatakan perkembangan AI memiliki dua sisi. Di satu sisi, otomatisasi berpotensi mengubah pasar tenaga kerja, terutama pada pekerjaan rutin. Di sisi lain, perkembangan teknologi tersebut mendorong investasi global pada infrastruktur dan rantai pasok teknologi.
Ia merujuk peringatan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, yang menyebut AI sebagai slow-moving tsunami bagi pekerjaan. Menurut Fakhrul, Indonesia perlu membangun kapasitas ekonomi untuk menarik investasi sekaligus mempersiapkan tenaga kerja menghadapi perubahan teknologi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Pertanyaannya bagi Indonesia bukan apakah gelombang ini akan datang. Gelombangnya sudah datang. Pertanyaannya: kita mau berada di sisi mana dari gelombang itu?” ujar Fakhrul.
Investasi AI dan Data Center Perlu Bangun Nilai Tambah Domestik
Fakhrul menilai Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna AI. Pemerintah perlu memastikan investasi yang menopang teknologi tersebut masuk ke perekonomian nasional dan membentuk industri pendukung di dalam negeri.
Menurut dia, pembangunan ekonomi berbasis AI perlu dipahami sebagai proses pembentukan modal atau capital formation sebelum menghasilkan peningkatan produktivitas. Infrastruktur yang dibutuhkan mencakup data center, pembangkit listrik, jaringan transmisi, serat optik, sistem pendingin, kawasan industri, konstruksi, serta jasa rekayasa teknik.
Kebutuhan tersebut, kata Fakhrul, membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI), pembiayaan proyek, pinjaman perbankan internasional, dan investasi strategis.
“Kalau kita hanya mengadopsi AI tetapi data center, listrik, rantai pasok cip, dan infrastrukturnya seluruhnya dibangun di negara lain, kita mendapatkan disrupsinya tetapi kehilangan pembentukan modalnya,” kata Fakhrul.
Karena itu, pemerintah didorong membangun ekosistem yang menghubungkan infrastruktur digital dengan sektor energi, konstruksi, elektronik, layanan digital, dan pengembangan keterampilan tenaga kerja. Dengan cara tersebut, manfaat ekonomi AI diharapkan tidak berhenti pada penggunaan teknologi, tetapi juga memperluas nilai tambah domestik dan mendorong pertumbuhan industri pendukung.
Modal Swasta Dibutuhkan untuk Infrastruktur AI
Tantangan lain yang disoroti Fakhrul adalah penyediaan pembiayaan untuk membangun infrastruktur AI dalam skala besar. Menurut dia, anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tidak dapat menjadi satu-satunya sumber pendanaan untuk membangun data center, pembangkit listrik, jaringan transmisi, dan infrastruktur digital.
Ia menilai mobilisasi modal swasta atau private capital penting, terutama karena biaya modal berada pada tingkat yang tinggi. Pemerintah, kata dia, perlu menciptakan kepastian agar investor bersedia mendanai proyek produktif jangka panjang.
“APBN tidak mungkin membiayai seluruh data center, power plant, transmission grid, dan infrastruktur digital yang kita butuhkan. Dalam dunia dengan biaya modal yang tinggi, pekerjaan pemerintah bukan membiayai semuanya, tetapi membuat private capital berani datang,” ujarnya.
Dengan pendekatan itu, keberhasilan kebijakan investasi tidak cukup diukur dari besarnya anggaran pemerintah. Ukuran lainnya adalah kemampuan pendanaan publik menarik investasi swasta, memperluas pembiayaan proyek, dan membangun aset produktif.
Dalam hal ini, Fakhrul menilai Danantara Indonesia dapat berperan sebagai investor katalis. Peran tersebut lain membantu memperbaiki struktur risiko proyek dan membuka ruang bagi keterlibatan perbankan, investor institusional, mitra strategis, serta pemodal asing.
“Danantara yang berhasil bukan Danantara yang memiliki semuanya. Danantara yang berhasil adalah Danantara yang membuat lebih banyak pihak mau ikut memiliki dan membiayai aset produktif Indonesia,” kata Fakhrul.
Ia menekankan, pembiayaan proyek sebaiknya dirancang untuk memperluas partisipasi investor, bukan sekadar memindahkan pembiayaan atau risiko dari satu neraca ke neraca lainnya. Skema yang mampu menarik modal tambahan dinilai dapat memperbesar kapasitas pembangunan infrastruktur tanpa sepenuhnya bergantung pada pembiayaan pemerintah.
Keberhasilan Tak Cukup Diukur dari Kapasitas Data Center
Fakhrul mengingatkan pemerintah agar tidak hanya menggunakan kapasitas data center atau kebutuhan listrik sebagai ukuran perkembangan investasi AI. Indikator lainnya perlu mencakup realisasi investasi, penambahan kapasitas energi, terbentuknya pemasok lokal, penciptaan lapangan kerja, peningkatan penerimaan pajak, dan transfer teknologi.
Menurut dia, data center merupakan industri padat modal yang tidak otomatis menghasilkan lapangan kerja dalam jumlah besar. Dampak ekonomi yang lebih luas akan muncul apabila pembangunan infrastruktur terhubung dengan industri domestik dan rantai pasok lokal.
“Jangan hanya menghitung gigawatt. Hitung berapa FDI yang masuk, berapa tambahan kapasitas listrik, berapa pemasok lokal yang terbentuk, berapa pekerjaan baru yang tercipta, berapa tambahan basis pajak, dan berapa besar transfer teknologi yang terjadi,” ujarnya.
Indikator tersebut diperlukan untuk menilai apakah investasi AI benar-benar memperkuat struktur industri nasional atau hanya menambah kapasitas infrastruktur tanpa keterkaitan ekonomi yang memadai.
Di tengah peluang investasi AI dan data center, Fakhrul juga mengingatkan pentingnya mengantisipasi perubahan pasar kerja. Strategi investasi perlu berjalan bersama pembaruan pendidikan, pelatihan ulang atau reskilling, peningkatan keterampilan atau upskilling, serta penguatan perlindungan sosial.
Ia menilai peningkatan investasi dan produktivitas harus menghasilkan pekerjaan serta pertumbuhan pendapatan rumah tangga. “Capital formation tidak boleh berhenti menjadi server, bangunan, dan megawatt listrik. Ia harus menjadi job formation, kemudian household income formation,” katanya.
Fakhrul menambahkan, perubahan teknologi dapat memengaruhi sistem pendidikan dan basis penerimaan pajak. Jika pertumbuhan pendapatan semakin banyak berasal dari modal dibandingkan tenaga kerja, pemerintah perlu mengevaluasi kebijakan ekonomi agar manfaat produktivitas tetap dirasakan secara luas.
Menurutnya, Indonesia masih memiliki peluang mengambil posisi strategis dalam perkembangan ekonomi AI di Asia dengan menghubungkan investasi, infrastruktur, penciptaan pekerjaan, pengembangan industri lokal, dan peningkatan keterampilan tenaga kerja.
“Kalau dunia sedang membangun ekonomi AI, Indonesia jangan hanya menjadi pasar akhirnya. Kita harus menjadi salah satu tempat asetnya dibangun, modalnya ditanamkan, dan pendapatan barunya diciptakan,” ujar Fakhrul.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















