Headline.co.id, Lumajang ~ KKN Kolaboratif 2025 di Kabupaten Lumajang menghadirkan sejumlah program kesehatan yang dirasakan masyarakat di beberapa desa. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menjalankan kegiatan tersebut melalui pendampingan lansia, edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta pemberdayaan penyintas Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Program ini dilakukan bersama perangkat desa, tenaga kesehatan, dan warga sebagai bagian dari upaya menjadikan kesehatan sebagai fondasi kehidupan masyarakat. Pelaksanaannya mengandalkan kegiatan edukatif, pemeriksaan kesehatan, dan interaksi sosial yang disesuaikan dengan kebutuhan warga.
KKN Kolaboratif 2025 di Lumajang tidak hanya berfokus pada kegiatan fisik, tetapi juga mendorong perubahan perilaku dan kepedulian terhadap kelompok rentan. Program tersebut berlangsung di sejumlah wilayah, termasuk Desa Tunjungrejo, Desa Sumbersari, dan Desa Tukum.
KKN Kolaboratif 2025 Lumajang Hidupkan Posyandu Lansia
Di Desa Tunjungrejo, Kecamatan Yosowilangun, mahasiswa terlibat dalam kegiatan Posyandu Lansia Abi Yoso. Sumiati, warga setempat, mengatakan kehadiran mahasiswa membuat kegiatan posyandu lebih semarak dibandingkan sebelumnya.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Menurut dia, posyandu yang sebelumnya ramai ketika penimbangan dan pemeriksaan tekanan darah, kini dilengkapi kegiatan senam bersama, diskusi gizi, dan pemeriksaan kesehatan dengan pendekatan yang ramah.
“Rasanya lebih hidup, lebih semangat. Anak-anak muda ini memperlakukan kami bukan sekadar pasien, tapi keluarga,” ujar Sumiati, Sabtu (16/8/2025).
Kehadiran mahasiswa juga menumbuhkan semangat para lansia untuk tetap sehat dan produktif. Pendampingan tersebut memperluas fungsi posyandu, tidak hanya sebagai tempat pemeriksaan, tetapi juga ruang interaksi dan kegiatan bersama.
Edukasi PHBS Libatkan Anak dan Orang Tua
Program kesehatan dalam KKN Kolaboratif 2025 juga menyasar anak-anak dan keluarga di Desa Sumbersari, Kecamatan Rowokangkung. Mahasiswa memberikan edukasi PHBS dengan metode yang melibatkan permainan dan aktivitas langsung.
Anak-anak diajak menyanyi, bermain, serta mempraktikkan cara menyikat gigi yang benar. Kegiatan tersebut turut mendapat pendampingan dari para ibu sehingga pesan mengenai kebersihan dan kesehatan dapat diterapkan di lingkungan keluarga.
Zahrotul Jannah, warga Desa Sumbersari, mengapresiasi cara mahasiswa menyampaikan materi kesehatan kepada anak-anak. Menurut dia, pendekatan yang digunakan membuat anak lebih mudah mengikuti kegiatan.
“Anak saya jadi rajin gosok gigi setelah ikut kegiatan ini. Saya juga makin sadar pentingnya menjaga kesehatan keluarga,” katanya.
Kegiatan itu mendorong perubahan sederhana dalam kebiasaan sehari-hari. Anak-anak mulai terbiasa menjaga kebersihan, sedangkan para ibu semakin terlibat dalam upaya menjaga kesehatan keluarga.
Mahasiswa Dorong Inklusi bagi Penyintas ODGJ
Di Desa Tukum, Kecamatan Tekung, mahasiswa memilih pendekatan berbeda dengan berfokus pada penyintas ODGJ. Mereka mengajak para penyintas mengikuti kegiatan kerajinan tangan, memasak, dan interaksi sosial sederhana.
Koordinator Desa Tukum, Farras Avrilla Daffa’ Wahyudi, mengatakan program tersebut dirancang untuk menunjukkan bahwa penyintas ODGJ memiliki hak, potensi, dan martabat yang sama.
“Kami ingin menunjukkan bahwa mereka punya hak, potensi, dan martabat yang sama. Program ini bukan hanya untuk mereka, tapi juga untuk masyarakat agar lebih inklusif,” ujar Farras.
Kegiatan tersebut sekaligus memperkenalkan pemahaman bahwa kesehatan mental memiliki kedudukan yang sama penting dengan kesehatan fisik. Interaksi melalui aktivitas bersama diharapkan dapat membuka kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penerimaan dan keterlibatan kelompok rentan.
Kolaborasi Membuat Program Berlanjut
Pelaksanaan program kesehatan itu melibatkan mahasiswa, perangkat desa, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Kepala Desa Tukum, Susanto, menyebut kehadiran mahasiswa memberikan energi positif bagi warga.
“Apa yang mereka lakukan sangat berarti. Mereka tidak hanya belajar, tetapi juga memberi manfaat nyata. Ini bukti nasionalisme generasi muda,” tegas Susanto.
Sinergi tersebut membuat kegiatan tetap berlanjut meskipun masa KKN telah berakhir. Masyarakat disebut memiliki pengetahuan dan motivasi untuk menjaga kesehatan secara mandiri.
KKN Kolaboratif 2025 di Lumajang memperlihatkan bahwa nasionalisme dapat diwujudkan melalui kerja nyata di tengah masyarakat. Pendampingan lansia, edukasi kesehatan bagi anak-anak, dan upaya merangkul penyintas ODGJ menjadi bagian dari pembangunan yang berangkat dari kebutuhan warga.
Dari posyandu yang lebih aktif hingga meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental, rangkaian kegiatan itu menegaskan pentingnya masyarakat yang sehat bagi kekuatan bangsa. “Sehat itu modal merdeka,” ungkap seorang mahasiswa.
Program tersebut tidak hanya mencerminkan peran mahasiswa dalam mengabdi kepada masyarakat. Kegiatan itu juga menunjukkan kolaborasi Lumajang sebagai ruang pengabdian, mahasiswa sebagai penggerak, serta warga sebagai penerima sekaligus pendukung program kesehatan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.














![[SIARAN PERS] Menkominfo: Presiden Tawari Apple Investasi Smart City di IKN](https://www.headline.co.id/wp-content/uploads/2026/10/siaran-pers-menkominfo-presiden-tawari-apple-investasi-smart-city-di-ikn.jpeg)
