Headline.co.id, Jakarta ~ (Kemenag) — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama menginisiasi pelatihan bagi ratusan siswa madrasah dan sekolah untuk menjadi edukator sebaya dalam upaya mencegah pernikahan anak. Program ini, yang dikenal sebagai Peer Educator, dijadwalkan berlangsung dari tahun 2024 hingga 2026.
Pada tahap awal, sebanyak 480 siswa dari berbagai daerah seperti Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Lampung, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Utara akan mengikuti program ini pada periode 2024–2025. Selanjutnya, pada tahun 2026, program ini akan melibatkan 80 siswa tambahan dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Para siswa yang terpilih akan mendapatkan pelatihan intensif mengenai risiko dan dampak pernikahan anak, serta keterampilan komunikasi dan konseling sebaya. Mereka menjalani proses seleksi dan pembinaan sebelum resmi berperan sebagai edukator sebaya. Dari pelatihan ini, Kemenag menetapkan 90 siswa dari delapan provinsi sebagai Duta Nasional Peer Educator, yang diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi pencegahan pernikahan anak.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, menekankan pentingnya pendekatan sebaya dalam menyampaikan pesan edukasi. Menurutnya, remaja lebih mudah menerima informasi dari teman seusianya, sehingga komunikasi menjadi lebih efektif dan membuka ruang diskusi yang lebih terbuka. “Program Peer Educator ini hadir karena kami di Kementerian Agama, khususnya Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, meyakini satu hal penting: bahwa suara sebaya sesungguhnya lebih mudah didengar oleh sebaya,” ujar Abu Rokhmad dalam kegiatan di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Abu Rokhmad juga mengingatkan para Peer Educator untuk menjadi pendengar yang baik dan mendukung teman-temannya yang mungkin menghadapi tekanan atau dorongan untuk menikah di usia dini. “Jadilah pendengar yang baik bagi teman-teman kalian. Jadilah sahabat yang hadir ketika ada teman yang mulai ragu, yang mulai tertekan oleh keadaan, atau bahkan yang mulai dijodohkan atau diarahkan untuk menikah di usia yang belum semestinya,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia mendorong para edukator untuk menyampaikan pesan dengan cara yang relevan bagi remaja, sehingga mereka dapat melihat pilihan dan masa depan yang lebih baik. “Sampaikan dengan bahasa kalian sendiri, dengan cara kalian sendiri, bahwa ada jalan lain, ada masa depan lain, ada pilihan lain yang jauh lebih baik untuk diperjuangkan,” tambahnya.
Kemenag berharap bahwa para Peer Educator ini dapat menjadi penggerak perubahan di lingkungan sekolah dan komunitas remaja, dengan terus menyebarkan edukasi mengenai pencegahan pernikahan anak, kesehatan reproduksi, hak anak, serta keterampilan komunikasi kepada teman sebaya.

















