Headline.co.id, Jogja ~ Penggunaan gawai yang berlebihan oleh anak-anak telah menjadi perhatian serius bagi banyak orang tua. Hal ini tidak hanya terkait dengan durasi penggunaan, tetapi juga dampaknya terhadap perkembangan emosi, kesehatan mental, dan kualitas hubungan keluarga. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tingginya waktu yang dihabiskan di depan layar berkaitan dengan gangguan regulasi emosi dan penurunan kualitas komunikasi dalam keluarga. Ini menjadi peringatan penting bagi orang tua untuk memperhatikan kebutuhan tumbuh kembang anak secara fisik, emosional, dan sosial.
Prof. Dr. Tina Afiatin, M.Si., Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa anak-anak Generasi Alpha adalah generasi pertama yang hidup dalam dua mikrosistem secara bersamaan: dunia fisik dan dunia virtual. Menurutnya, interaksi anak-anak di dunia maya dapat langsung mempengaruhi kehidupan mereka di dunia nyata, dan sebaliknya. “Anak Generasi Alpha hidup di dua dunia sekaligus, yakni dunia fisik dan dunia virtual. Konsekuensinya, perubahan di satu mikrosistem langsung berimbas ke mikrosistem lainnya,” ujarnya pada Senin (3/8).
Prof. Tina menekankan bahwa penggunaan gawai tidak bisa hanya dilihat dari durasi screen time. Intensitas interaksi anak di ruang digital tanpa pendampingan dapat mempengaruhi perkembangan emosi dan kemampuan mengelola perasaan. Anak yang lebih banyak mendapatkan validasi melalui likes dan komentar di media sosial berisiko menggantungkan penghargaan diri pada pengakuan digital, bukan melalui interaksi tatap muka yang lebih kaya nuansa nonverbal.
Fenomena technoference, di mana orang tua teralihkan oleh gawai sehingga mengurangi keterlibatan verbal dan emosional dengan anak, juga menjadi perhatian. Prof. Tina menegaskan bahwa masalah penggunaan gawai tidak hanya terkait perilaku anak, tetapi juga kebiasaan digital orang tua yang dapat mempengaruhi kualitas hubungan keluarga. “Keamanan anak di ruang siber pada dasarnya adalah soal kualitas relasi, bukan semata soal instalasi aplikasi pemantau,” jelasnya.
Selain itu, penggunaan gawai tanpa pendampingan berdampak pada kemampuan konsentrasi dan sosialisasi anak. Prof. Tina menjelaskan bahwa karakteristik konten digital yang cepat berganti membentuk pola konsumsi informasi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Kerentanan anak terhadap fenomena brain rot tidak semata-mata ditentukan oleh durasi penggunaan gawai, tetapi juga oleh bagaimana orang tua membangun kebiasaan anak dalam mengonsumsi konten secara kritis dan reflektif.
Oleh karena itu, Prof. Tina menyarankan agar orang tua menyesuaikan pendekatan mereka dengan tahap perkembangan anak. Pembatasan yang ketat masih efektif diterapkan pada anak-anak, namun harus disertai dengan pendampingan yang hangat dan terbuka. Dengan demikian, anak lebih mudah menerima pendampingan digital dibandingkan hanya diawasi melalui kontrol teknis.
















