Headline.co.id, Sleman ~ Sekolah Air Hujan Banyu Bening yang berlokasi di Dusun Tempursari, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), telah memulai gerakan konservasi air berbasis komunitas. Inisiatif ini melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, pesantren, dan organisasi lingkungan. Gerakan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi air hujan.
Sri Wahyuningsih, yang dikenal sebagai Bu Ning, adalah pendiri Komunitas Banyu Bening. Ia menyatakan bahwa gerakan ini lahir dari keprihatinan terhadap meningkatnya eksploitasi air tanah dan rendahnya kesadaran masyarakat mengenai konservasi air hujan. “Dua tahun terakhir kami mendapat dukungan dari Yayasan KEHATI melalui program perubahan iklim,” ungkapnya.
Selain itu, Bu Ning menambahkan bahwa anak-anak di komunitas ini juga belajar bahasa Jawa, tari, budaya, serta pembiasaan hidup ramah lingkungan. “Kami ingin anak-anak tetap dekat dengan budaya, gotong royong, dan lingkungan di tengah derasnya dunia digital,” jelasnya. Kamaludin, salah satu anggota komunitas, menambahkan, “Silakan siapa pun datang belajar di sini. Kami ingin gerakan ini tetap menjadi ruang bersama untuk masyarakat.”
Kolaborasi pemerintah, swasta, akademisi, sekolah, NGO, budayawan, serta komunitas terus dipelihara melalui acara Kenduri Air Hujan yang diadakan setiap bulan September. Acara ini juga sekaligus memperingati kelahiran Komunitas Banyu Bening.




















