Headline.co.id, Depok ~ Pesantren Al-Hamidiyah di Depok, Jawa Barat, telah menjadi contoh nasional dalam penerapan sistem anti-kekerasan di lingkungan pendidikan sejak 2023. Pesantren ini mengimplementasikan berbagai regulasi dan layanan untuk melindungi santri dari segala bentuk kekerasan. Inisiatif ini dipaparkan oleh Pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah, Oman Fathurahman, dalam peluncuran Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak untuk Pesantren dan Madrasah Ramah Anak pada Minggu (12/7/2026).
Oman Fathurahman menjelaskan bahwa sejak 2023, Yayasan Islam Al-Hamidiyah telah menerbitkan Peraturan Direktur Utama Yayasan tentang Pedoman Pencegahan dan Penanganan Tindak Kekerasan. Regulasi ini berlaku bagi seluruh warga pesantren, melarang kekerasan fisik, verbal, seksual, dan kekerasan di ruang digital. “Keberadaan regulasi ini menjadi fondasi penting agar perlindungan anak tidak berhenti pada komitmen moral, tetapi memiliki standar dan mekanisme penanganan yang jelas,” ujar Oman.
Langkah-Langkah Pencegahan Kekerasan
Pesantren Al-Hamidiyah juga menyusun pedoman pencegahan vandalisme sebagai bagian dari pembinaan karakter santri. Pendekatan yang diterapkan tidak hanya bersifat disipliner, tetapi juga mengedepankan pembinaan spiritual, edukatif, dan psikologis. Untuk mendukung kesehatan mental peserta didik, pesantren ini membentuk Student Care Corner, ruang konsultasi yang menyediakan pendampingan bagi santri yang mengalami tekanan psikologis atau kesulitan beradaptasi.
Pembentukan Majelis Amni
Sebagai bagian dari penguatan tata kelola, Pesantren Al-Hamidiyah membentuk Majelis Amni, sebuah komite etik yang bertugas menerima, memverifikasi, dan menindaklanjuti laporan dugaan kekerasan. Majelis ini didukung layanan hotline pengaduan yang dapat diakses santri melalui berbagai titik di lingkungan pesantren. Oman menegaskan bahwa sistem ini dirancang agar setiap laporan dapat ditangani secara cepat, objektif, dan berpihak kepada korban.
Integrasi Nilai Keislaman dan Teknologi
Selain memperkuat sistem perlindungan anak, Al-Hamidiyah juga mengembangkan model pendidikan yang mengintegrasikan nilai keislaman dengan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendekatan STEAMI (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, Montessori, and Islamic). Menurut Oman, pesantren masa depan tidak hanya mencetak santri yang kuat secara spiritual, tetapi juga mampu menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, serta memiliki karakter kemanusiaan yang kokoh.
Oman Fathurahman menegaskan komitmen seluruh keluarga besar Pesantren Al-Hamidiyah untuk terus menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. “Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi seluruh santri,” pungkasnya.














