Headline.co.id, Jakarta ~ Pembangunan Masjid Pantai Bali di Kabupaten Jembrana telah selesai dan kini siap menjadi destinasi wisata religi berbasis masjid di kawasan pesisir. Kepala Badan Pelaksana BPKH, Fadlul Imansyah, menyatakan dalam keterangan tertulis bahwa masjid ini merupakan bagian dari program pengembangan Masjid Raudlatul Jannah yang didukung oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) melalui Program Kemaslahatan.
Peresmian Masjid Pantai Bali sebagai Wisata Religi dan Pusat Manasik Haji dilakukan pada 7 Februari 2026. Acara ini dihadiri oleh Kepala BPKH, Pengurus Dewan Masjid Indonesia Fadian M. Paham, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah RI Provinsi Bali H. Muslimin, Ketua Yayasan DT Peduli Bascharul Asana, serta Pembina Yayasan Masjid Pantai Nusantara I Nyoman Pugeg Aryantha.
Fadlul menjelaskan bahwa BPKH berkontribusi sekitar 35% dalam penyelesaian pembangunan masjid, termasuk fasad, plafon, mihrab, mimbar, railing, sistem suara, kusen pintu dan jendela, serta fasilitas toilet dan tempat wudu. Selain itu, BPKH juga mendukung pembangunan sarana manasik haji yang meliputi miniatur Ka’bah, Shafa–Marwa, Maqam Ibrahim, dan miniatur Masjidil Haram.
Fadlul menegaskan bahwa pendanaan Program Kemaslahatan tidak menggunakan dana pokok haji jemaah, melainkan dari hasil pengembangan Dana Abadi Umat. “Seluruh pendanaan Program Kemaslahatan ini tidak menggunakan pokok dana haji milik jemaah, melainkan murni dari hasil pengembangan Dana Abadi Umat,” ujarnya. Program ini bertujuan untuk kemaslahatan umat dan mendukung pemulihan sosial serta ekonomi secara berkelanjutan.
I Nyoman Pugeg Aryantha, Pembina Yayasan Masjid Pantai Nusantara, menyatakan bahwa pengembangan masjid ini berfokus pada pemberdayaan umat dengan konsep Smart Masjid berbasis 5E: Edukasi, Ekonomi, Ekologi, Empati, dan Entertain. Konsep ini menjadikan masjid sebagai pusat ibadah sekaligus ruang edukasi, pemberdayaan ekonomi, pelestarian lingkungan, pemanfaatan teknologi, dan penguatan budaya lokal.
Masjid Pantai Bali dirancang dengan pendekatan ekosistem yang menyatu dengan karakter pesisir. Kawasan ini dilengkapi fasilitas Manasik Haji dan Umrah dengan miniatur Ka’bah, Hajar Aswad, Masjidil Haram, Hijr Ismail, Maqam Ibrahim, Jamarat, serta Shafa–Marwa sebagai sarana edukasi ibadah bagi masyarakat, lembaga pendidikan, dan wisatawan Muslim.
Kawasan ini juga memiliki dua bangunan masjid, yaitu masjid lama dan masjid baru, yang menyimpan nilai historis dakwah Islam di pesisir Bali. Terletak di tepi laut dengan panorama alam dan pemandangan matahari terbenam, masjid ini menawarkan suasana ibadah yang reflektif dan menyatu dengan alam.
Diharapkan, Masjid Pantai Bali dapat menjadi model pengembangan masjid modern berbasis wisata religi yang memperkuat fungsi ibadah, edukasi, teknologi, budaya, dan harmoni sosial. Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan oleh masyarakat sekitar, serta mendukung pengembangan desa dan kesejahteraan ekonomi lokal.



















