Eyang Anom, Dukun Asal Bandung Barat yang Jadikan Anak Tiri Budak Seks

  • Whatsapp
Eyang Anom Mengenakan Baju Tahanan Usai Jadi Tersangka Pencabulan Terhadap Anak Tirinya. (Foto: F Bangkit)
Eyang Anom Mengenakan Baju Tahanan Usai Jadi Tersangka Pencabulan Terhadap Anak Tirinya. (Foto: F Bangkit)

HeadLine.co.id, (Cimahi) – Polres Cimahi mengamankan Supriadi alias Eyang Anom (50) lantaran melakukan pencabulan dan memperkosa dua anak tirinya. Eyang Anom merupakan seorang dukun Kampung di Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.

Tindakan tersebut ia lakukan pada dua anak tirinya yang berinisial T (19) dan M (21) sejak mereka SD hingga dewasa.

Read More

Salah satu anak tirinya yakni M bahkan memiliki seorang anak laki-laki berusia 4,5 tahun hasil kebejatannya.

Baca Juga: KCI Menanggapi Video Ibu-ibu yang Viral, Cek Kronologis Lengkapnya Disini

Tersangka sering mengancam korban dengan senjata tajam bila kedua anak tirinya menolak untuk melayaninya.

“Iya karena tergoda. Awalnya hanya diraba-raba, tapi akhirnya disetubuhi. Kalau enggak mau saya ancam dengan senjata tajam yang dipukul-pukul ke lantai sambil bilang kamu harus mau,” ucap Supriadi saat gelar perkara di Mapolres Cimahi, Selasa (25/2/2020).

Eyang Anom mengaku hanya melakukan pemerkosaan tersebut pada dua anak tirinya. Dia mengatakan tidak ada korban lainnya.

Baca Juga: Jakarta Kembali Dilanda Banjir, Istana Merdeka Turut Jadi Korban

“Sumpah saya enggak pernah kalau sama orang lain, jadi hanya sama anak saya saja. Kalau sama anak sendiri enggak tega, jadi saya berani karena mereka berdua anak tiri,” katanya.

Ia dikenakan Pasal 81 ayat 3 dan Pasal 82 UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

“Dia terancam pidana penjara paling lama 15 tahun ditambah sepertiga dari ancaman pidana,” ujar Kapolres Cimahi, AKBP M. Yoris Maulana Yusuf Marzuki.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *