Headline.co.id ~ Mitigasi bencana di Kabupaten Aceh Barat, Aceh, dilanjutkan setelah banjir susulan melanda wilayah tersebut dengan pembangunan pengaman tebing sungai dan relokasi SD Negeri Alue Lhok. Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, serta instansi terkait mengerjakan penguatan di 15 titik sepanjang alur Sungai Meureubo untuk mengurangi risiko kerusakan berulang. Penanganan pascabencana itu berlangsung saat genangan telah surut dan warga yang sempat mengungsi kembali ke rumah masing-masing. Pembersihan lumpur dilakukan Pemkab Aceh Barat bersama jajaran Kodim dan Polres agar lingkungan serta akses masyarakat dapat digunakan kembali.
Banjir susulan tersebut melanda 43 gampong di 10 kecamatan. Tidak ada korban meninggal maupun luka dalam peristiwa itu.
Perlindungan kawasan menjadi fokus pemulihan karena sejumlah lokasi di sepanjang Krueng Meureubo dan Krueng Emas terdampak luapan sungai. Pembangunan dinding pengaman tebing menggunakan bronjong dibagi Kementerian Pekerjaan Umum yang menangani 10 titik dan Pemkab Aceh Barat yang mengerjakan lima titik.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
15 titik tebing sungai diperkuat
Kepala Posko Nasional Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Irjen Pol Wahyu Bintono Hari Bawono, menyampaikan jumlah pekerjaan pengaman tebing tersebut saat memimpin tim monitoring dan evaluasi di Aceh Barat.
“Di sepanjang alur Sungai Meureubo yang masuk wilayah Kabupaten Aceh Barat, terdapat 15 titik pengerjaan dinding pengaman sungai (bronjong),” ujar Wahyu melalui keterangan resmi, Kamis (5/11/2026).
Di Desa Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen, Kementerian PU sedang membangun pengaman tebing sepanjang 264 meter. Sementara itu, Pemkab Aceh Barat mengerjakan pengaman tebing sepanjang 50 meter di sekitar SD Negeri Alue Lhok.
Pekerjaan yang dilakukan pemerintah kabupaten tersebut menggunakan anggaran TKD Kabupaten Aceh Barat Tahun 2026. Penguatan tebing juga berjalan bersamaan dengan normalisasi sungai di wilayah daerah aliran sungai (DAS) Woyla–Bate.
Melalui BWS Sumatera I, pekerjaan normalisasi mencakup sekitar 1.064 meter. Pekerjaan itu juga meliputi perkuatan tebing dengan bronjong sepanjang sekitar 665 meter dan pembangunan akses sekitar 100 meter.
Penanganan tersebut mencakup sejumlah lokasi, yakni Jambak, Lawet, dan Keutambang.
SD Negeri Alue Lhok direlokasi
Selain infrastruktur sungai, pemulihan difokuskan pada sarana pendidikan yang terdampak. SD Negeri Alue Lhok direlokasi sekitar 100 meter dari lokasi sebelumnya ke tempat yang lebih tinggi.
Relokasi dilakukan setelah luapan sungai menggerus lokasi lama dan menghanyutkan ruang kelas. Pembangunan sekolah baru memperoleh dukungan donasi melalui Kitabisa yang disalurkan melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Nilai anggaran pembangunan sekolah tersebut sekitar Rp1,4 miliar. Bangunan baru dirancang mencakup enam ruang kelas, satu toilet siswa, dan satu toilet guru.
Pembangunan ditargetkan selesai pada 22 Desember 2026. Relokasi ini menjadi bagian dari penanganan pascabencana untuk memulihkan fasilitas pendidikan sekaligus menempatkan sekolah di lokasi yang lebih tinggi.
Kerusakan jembatan dan jalan turut dicatat
Dalam monitoring di Aceh Barat, tim juga mencatat kerusakan pada jembatan gantung penghubung Kajeung–Tungkop di Kecamatan Sungai Mas. Selain itu, jalan Gampong Sikundo mengalami kerusakan berat.
Ruas Geudong–Kajeung juga masih terdampak karena sebagian jalannya tertutup lumpur. Kondisi tersebut menjadi bagian dari pekerjaan pemulihan akses masyarakat setelah banjir susulan.
Di sisi lain, Satgas PRR menyalurkan bantuan kepada warga terdampak banjir susulan di Aceh Barat. Bantuan dari Kementerian Sosial itu berupa family kit, kasur, selimut, dan tenda gulung.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.














