Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyiapkan tiga forum nasional pada November 2026 untuk menghubungkan riset, pendidikan tinggi, dan publikasi ilmiah. Rangkaian kegiatan tersebut akan digelar di Surabaya pada 9–13 November melalui Konvensi Nasional Tata Kelola dan Integritas Jurnal Ilmiah (KTJI), Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI), serta Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI). Pemerintah menyiapkan forum itu untuk mempercepat hilirisasi hasil riset, memperkuat kapasitas perguruan tinggi, dan meningkatkan kredibilitas publikasi ilmiah nasional. Penjelasan tersebut disampaikan dalam Taklimat Media KSTI, KPPTI, dan KTJI 2026 di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Komitmen itu disampaikan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Mohammad Fauzan Adziman, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Khairul Munadi, serta Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Ahmad Najib Burhani.
Ketiga forum dirancang sebagai rangkaian yang saling terhubung. KSTI mempertemukan peneliti, inovator, industri, dan investor untuk mendorong hilirisasi riset. KPPTI berfokus pada penguatan kapasitas perguruan tinggi melalui kolaborasi dan pertukaran praktik baik. Sementara itu, KTJI diarahkan untuk memperkuat tata kelola, kredibilitas, dan integritas publikasi ilmiah Indonesia.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
KTJI Buka Rangkaian Forum Kemdiktisaintek
Rangkaian kegiatan akan diawali KTJI 2026 di Universitas Ciputra Surabaya pada 9 November. Forum perdana tersebut mengangkat tema “Memperkuat Integritas Tata Kelola Publikasi Ilmiah Indonesia” dan membahas tata kelola jurnal ilmiah serta produksi pengetahuan.
Ahmad Najib Burhani mengatakan Indonesia saat ini memiliki sekitar 29 ribu jurnal ilmiah. Dari jumlah tersebut, sekitar 16 ribu jurnal telah terakreditasi, tetapi jurnal dengan kualitas tertinggi masih relatif sedikit.
“Jurnal yang berada pada kategori SINTA 1 hanya sekitar 1,5 persen dari total jurnal terakreditasi yang kita miliki,” ujar Ahmad.
KTJI akan mempertemukan pengelola jurnal, perpustakaan perguruan tinggi, asosiasi keilmuan, peneliti, lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta penerbit nasional dan internasional.
Pembahasan forum mencakup standar akreditasi jurnal dan pencegahan praktik jurnal predator. Penerbit global seperti Elsevier, Taylor & Francis, SAGE, Emerald, Wiley, dan Springer juga akan berbagi pengalaman mengenai tata kelola publikasi ilmiah, peningkatan visibilitas jurnal, serta pengelolaan publikasi pada era kecerdasan artifisial.
Dalam forum tersebut, Kemdiktisaintek akan memberikan SINTA Award kepada sembilan jurnal terbaik pada bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), sosial humaniora, serta multidisiplin.
KSTI Dorong Hilirisasi Hasil Riset
Setelah KTJI, KSTI 2026 akan berlangsung pada 10–13 November di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Forum itu mengusung tema “Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia” dan merupakan kelanjutan KSTI perdana yang digelar pada 2025 di Institut Teknologi Bandung (ITB).
KSTI 2025 menghasilkan peta jalan dan agenda riset nasional bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pada penyelenggaraan tahun ini, sekitar 500 produk riset hasil kurasi dari 850 usulan perguruan tinggi dan lembaga penelitian akan dipamerkan.
Menurut Fauzan, KSTI dirancang agar ilmu pengetahuan menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pendekatan knowledge to impact.
“Kami mengedepankan bagaimana ilmu pengetahuan memberikan dampak (knowledge to impact). Pengembangannya diarahkan menjadi kebijakan berbasis sains yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan industri,” ujarnya.
Penyelenggara juga menghadirkan para inventor sehingga masyarakat dan pelaku industri dapat berdiskusi langsung mengenai teknologi yang dikembangkan. Selain pameran inovasi, KSTI akan menggelar robot challenge, hackathon, business matching, innovation tour, serta forum diskusi pakar.
Forum diskusi tersebut ditargetkan menghasilkan policy brief dan dokumen foresight sebagai rekomendasi kebijakan nasional. Topik yang dibahas meliputi kedaulatan pangan, ketahanan energi dan air, kesehatan, hilirisasi industri, teknologi mutakhir (frontier technology), sosial humaniora, ekonomi, lingkungan, serta mitigasi bencana.
KPPTI Fokus pada Implementasi Transformasi Pendidikan Tinggi
Sehari setelah pembukaan KSTI, Kemdiktisaintek menggelar KPPTI 2026 di Universitas Airlangga, Surabaya, pada 11–13 November. Forum tersebut mengusung tema “Transformasi Pendidikan Tinggi Menuju Keberdampakan: Elaborasi Teknologi dan Kearifan Lokal yang Inklusif dan Humanis.”
Khairul Munadi mengatakan KPPTI menjadi ruang pembelajaran bersama bagi perguruan tinggi untuk berbagi praktik baik, memperkuat kolaborasi, dan meningkatkan kapasitas kelembagaan.
“Tujuan KPPTI adalah memperkuat kontribusi perguruan tinggi melalui pembelajaran bersama dan kolaborasi,” kata Khairul.
KPPTI merupakan kelanjutan forum pada 2025 yang menghasilkan Surabaya Message serta lebih dari seratus nota kesepahaman antarkampus. Jika forum sebelumnya berfokus pada konsolidasi, pembahasan tahun ini diarahkan pada implementasi transformasi pendidikan tinggi yang lebih konkret.
Empat isu strategis menjadi fokus KPPTI, yakni pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), transformasi digital dan kecerdasan artifisial (AI), penguatan kearifan lokal dan ekonomi kerakyatan, serta pembangunan kampus yang inklusif dan humanis.
Selama tiga hari, forum tersebut menghadirkan 12 sesi tematik dan 48 paparan praktik baik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. KPPTI juga akan meluncurkan Digital Maturity Index untuk mengukur tingkat kematangan transformasi digital perguruan tinggi, kerangka pemanfaatan AI yang menekankan etika dan integritas akademik, serta konsorsium rumah sakit pendidikan.
Melalui KSTI, KPPTI, dan KTJI 2026, Kemdiktisaintek membangun ekosistem yang menghubungkan penguatan riset, peningkatan kapasitas perguruan tinggi, dan tata kelola publikasi ilmiah. Ketiga forum itu diharapkan memperluas kolaborasi kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat agar riset dapat dihilirisasi, pendidikan tinggi semakin berdampak, dan publikasi ilmiah Indonesia mampu bersaing di tingkat global.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















