Headline.co.id ~ Seorang anak berusia 12 tahun asal China mengalami hipertensi berat dengan tekanan darah mencapai 225/158 mmHg akibat kondisi langka yang disebut coral reef aorta. Kasus tersebut diberitakan pada 30 Oktober 2026 setelah dipublikasikan dalam Journal of Medical Case Reports pada medio Juli. Laporan itu disusun tim dokter dari RS Xinjiang Medical University di Urumqi. Tekanan darah pasien berangsur turun dan tetap terkontrol setelah dokter melakukan prosedur untuk membuka arteri ginjal yang menyempit.
Tekanan darah pasien tersebut jauh di atas batas normal 120/80 mmHg. Kondisi itu terjadi karena adanya endapan keras di dalam aorta, yaitu arteri utama tubuh, dengan bentuk bergerigi menyerupai terumbu karang. Dalam istilah medis, kondisi tersebut dikenal sebagai coral reef aorta.
Gejala Coral Reef Aorta Berlangsung Lebih dari Lima Bulan
Gejala pasien bermula dari sakit kepala ringan yang berulang selama lebih dari lima bulan. Setiap episode sakit kepala berlangsung sekitar tiga hingga empat jam dan disertai pusing, kelelahan, serta muntah.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Saat dibawa ke rumah sakit, dokter sempat mendiagnosis pasien mengalami poliarteritis nodosa. Penyakit tersebut merupakan kondisi inflamasi yang dapat merusak arteri berukuran kecil dan sedang.
Pemeriksaan juga menemukan infark pada ginjal dan limpa. Infark merupakan kerusakan jaringan akibat terhentinya atau berkurangnya pasokan darah. Tim dokter turut menemukan adanya pengerasan pada aorta.
Pemberian infus dan obat hipertensi belum mampu mengendalikan tekanan darah pasien. Pemeriksaan lanjutan kemudian menunjukkan bahwa penyebabnya adalah coral reef aorta, yang mempersempit pembuluh darah dan menghambat aliran darah ke organ-organ tertentu.
Plak Keras Menghambat Aliran Darah ke Ginjal dan Usus
Coral reef aorta merupakan kondisi langka ketika plak keras seperti batu tumbuh di bagian dalam aorta. Plak tersebut dapat menghambat aliran darah menuju cabang-cabang pembuluh yang memasok ginjal dan usus.
Dalam kasus anak 12 tahun itu, penyempitan arteri ginjal berkontribusi terhadap tekanan darah yang sangat tinggi. Setelah prosedur dilakukan untuk membuka arteri ginjal, tekanan darah pasien perlahan menurun. Tekanan darah tersebut kemudian tetap terkontrol selama masa tindak lanjut.
Para penulis laporan kasus menggambarkan coral reef aorta sebagai kondisi yang sangat langka di dunia. Kasus ini juga menunjukkan bahwa kondisi tersebut dapat ditemukan pada anak, meski faktor risiko yang umumnya berkaitan dengan penyakit itu tidak ditemukan pada pasien.
Faktor Risiko Umum Tidak Ditemukan pada Pasien
Pada orang dewasa, coral reef aorta umumnya dipicu faktor risiko penyakit jantung. Faktor tersebut meliputi kadar kolesterol tinggi, diabetes, hipertensi, dan kebiasaan merokok.
Namun, pasien anak dalam laporan tersebut tidak memiliki riwayat kolesterol tinggi, diabetes, maupun merokok. Dokter juga telah menyingkirkan kemungkinan gangguan metabolisme kalsium dan fosfat sebagai penyebab kondisi itu.
Tim dokter kemudian menemukan adanya tuberkulosis paru aktif pada pasien. Meski TBC dapat memicu peradangan di seluruh tubuh, penyakit tersebut bukan pemicu yang umum untuk coral reef aorta. Karena itu, hubungan TBC dan kondisi langka tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Kasus Serupa Pernah Dilaporkan pada 2024
Coral reef aorta pada anak juga pernah dilaporkan pada 2024. Saat itu, kondisi yang sama ditemukan pada seorang anak laki-laki berusia 12 tahun.
Pasien tersebut diketahui telah menjalani perbaikan aorta yang menyempit ketika masih bayi. Laporan terdahulu itu menjadi salah satu catatan mengenai kemunculan coral reef aorta pada pasien anak.
Kasus terbaru dari China dipublikasikan oleh tim dokter RS Xinjiang Medical University di Urumqi melalui Journal of Medical Case Reports. Laporan tersebut menyoroti tekanan darah ekstrem pada anak, temuan penyempitan arteri ginjal, serta respons pasien setelah menjalani prosedur untuk memulihkan aliran darah.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















