Headline.co.id, Jakarta ~ Nasi dingin, terutama yang didinginkan di dalam kulkas, berpotensi memiliki indeks glikemik lebih rendah dibandingkan nasi hangat yang baru matang. Perbedaan tersebut bukan karena kandungan kalori dan zat gizi dasarnya, melainkan perubahan struktur pati selama proses memasak dan pendinginan. Ahli gizi Adisty Pavitasari menjelaskan perbedaan nasi dingin dan nasi hangat itu dalam keterangan yang dikutip dari CNN pada Senin (26/10/2026).
Penjelasan ini menjadi penting bagi masyarakat yang sedang menjaga kadar gula darah atau berat badan. Meski demikian, jumlah pati resisten pada nasi dingin dapat berbeda bergantung pada jenis beras, cara memasak, serta proses dan lama pendinginan. Porsi makan, lauk pendamping, kebutuhan gizi, dan kondisi kesehatan tetap perlu menjadi pertimbangan.
Kandungan Gizi Nasi Dingin dan Nasi Hangat
Adisty mengatakan, nasi dingin dan nasi hangat pada dasarnya memiliki kandungan kalori serta zat gizi dasar yang tidak jauh berbeda. Dalam 100 gram nasi, terdapat sekitar 180 kilokalori, 39 gram karbohidrat, dan 3 gram protein.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Sebenarnya nasi hangat yang baru matang dan nasi dingin, kandungan kalori dan zat gizi tidak jauh berbeda. Kandungan gizi dalam 100 gram nasi mengandung sekitar 180 kkal kalori, 39 gram karbohidrat dan 3 gram protein,” ujar Adisty.
Perbedaan utama keduanya terdapat pada struktur karbohidrat, khususnya pati. Pati merupakan karbohidrat kompleks yang menjadi salah satu sumber energi tubuh. Ketika dicerna, pati dipecah menjadi glukosa untuk digunakan tubuh sebagai energi.
Perubahan Pati Saat Nasi Dimasak
Pada beras mentah, pati tersusun dalam struktur kristal yang rapi dan kedap air. Saat beras dimasak dengan suhu tinggi, struktur tersebut rusak karena pati menyerap air dan membentuk gel. Perubahan ini membuat tekstur beras menjadi empuk sehingga dapat dikonsumsi sebagai nasi hangat.
Menurut Adisty, perubahan struktur pati ketika dimasak turut memengaruhi kemudahan nasi untuk dicerna. Pati pada nasi hangat memiliki struktur yang lebih longgar sehingga karbohidrat dapat dipecah menjadi glukosa lebih cepat.
“Pada beras mentah, pati tersusun rapi seperti kristal dan kedap air. Saat dimasak dengan suhu tinggi, struktur kristal yang tadinya rapi menjadi rusak, menyerap air dan terbentuk gel sehingga strukturnya berubah menjadi empuk dan bisa dikonsumsi sebagai nasi hangat,” terangnya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat nasi hangat memiliki sifat indeks glikemik yang tinggi. Indeks glikemik atau IG merupakan ukuran seberapa cepat makanan yang mengandung karbohidrat dapat meningkatkan kadar gula darah.
“Struktur pati yang longgar pada nasi hangat memudahkan proses pencernaan dan dapat memecah karbohidrat menjadi glukosa lebih cepat, sehingga nasi hangat memiliki sifat indeks glikemik yang tinggi,” jelasnya.
Mengapa Nasi Dingin Berpotensi Memiliki IG Lebih Rendah?
Pada nasi yang telah didinginkan, terutama di dalam kulkas, molekul pati yang sebelumnya renggang mulai merapat. Proses tersebut membentuk struktur kristal baru yang disebut pati resisten.
Struktur pati resisten lebih kuat sehingga lebih sulit dipecah menjadi glukosa. Akibatnya, pelepasan glukosa berlangsung lebih lambat dan nasi dingin berpotensi memiliki indeks glikemik lebih rendah dibandingkan nasi yang baru matang.
“Struktur kuat pada pati resisten inilah yang membuat proses pemecahan pati menjadi glukosa lebih sulit dilakukan, sehingga pelepasan glukosa lebih lambat yang membuat nasi dingin memiliki sifat indeks glikemik lebih rendah,” tambah Adisty.
Pati resisten juga menjadi alasan nasi dingin banyak mendapat perhatian. Sebagian pati resisten tidak dicerna di usus halus dan dapat mencapai usus besar. Di bagian tersebut, pati resisten dapat dimanfaatkan oleh bakteri baik di usus dan menjalankan fungsi yang menyerupai serat pangan.
“Pati resisten berfungsi seperti serat pangan yang menjadi makanan bagi bakteri baik di usus,” tuturnya.
Dengan demikian, nasi dingin dan nasi hangat tidak memiliki perbedaan besar dalam hal kalori maupun zat gizi dasar. Perbedaan yang perlu diperhatikan terletak pada struktur pati dan kemungkinan dampaknya terhadap kecepatan pelepasan glukosa. Namun, pilihan nasi tetap perlu disesuaikan dengan porsi makan, lauk pendamping, kebutuhan gizi, dan kondisi kesehatan masing-masing.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















![[Siaran Pers] Wamen Nezar Patria: Kedaulatan AI Tak Cukup dengan Data Center, Indonesia Harus Kuasai Hulu Teknologi](https://www.headline.co.id/wp-content/uploads/2026/10/siaran-pers-wamen-nezar-patria-kedaulatan-ai-tak-cukup-dengan-data-center-indonesia-harus-kuasai-hulu-teknolog.jpg)