Headline.co.id ~ , Jakarta — Dokter mengingatkan masyarakat mengenai risiko vape terhadap cedera paru-paru dan gangguan sistem pernapasan. Peringatan itu disampaikan pada Selasa, 27 Oktober 2026, seiring masih adanya anggapan bahwa rokok elektronik merupakan alternatif yang sepenuhnya aman dari rokok konvensional. Risiko tersebut muncul karena cairan vape menghasilkan aerosol yang dapat membawa partikel halus dan bahan kimia ke saluran pernapasan. Masyarakat diminta menghindari penggunaan vape serta segera mencari pertolongan medis jika mengalami keluhan setelah menggunakannya.
Risiko vape terhadap cedera paru-paru dapat berbeda-beda, bergantung pada kandungan cairan, pola penggunaan, dan kondisi kesehatan penggunanya. Karena itu, penggunaan rokok elektronik tidak dapat dipandang dengan tingkat risiko yang sama untuk setiap orang maupun setiap produk.
Aerosol Vape Bukan Sekadar Uap Air
Cairan vape umumnya mengandung nikotin, bahan perasa, serta zat lain. Ketika dipanaskan, cairan tersebut menghasilkan aerosol yang dihirup oleh pengguna. Aerosol itu bukan sekadar uap air, melainkan dapat mengandung partikel halus dan bahan kimia.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kandungan tersebut berpotensi mengiritasi dan merusak saluran pernapasan. Dampaknya terhadap kesehatan paru-paru dapat dipengaruhi oleh jenis cairan yang digunakan, seberapa sering vape dikonsumsi, serta kondisi kesehatan pengguna.
Penggunaan vape juga perlu diwaspadai karena pernah dikaitkan dengan e-cigarette or vaping product use-associated lung injury atau EVALI. EVALI merupakan cedera paru-paru yang berhubungan dengan penggunaan produk rokok elektronik atau vape.
EVALI Pernah Dikaitkan dengan Produk Mengandung THC
Wabah EVALI di Amerika Serikat pada 2019–2020 terutama dikaitkan dengan produk yang mengandung THC dan vitamin E asetat. Fakta tersebut menunjukkan adanya hubungan kandungan tertentu dalam produk vape dan risiko cedera paru-paru.
Namun, kondisi itu tidak berarti seluruh produk vape dapat disamakan sebagai penyebab dengan tingkat risiko yang sama. Risiko kesehatan tetap bergantung pada kandungan cairan, pola penggunaan, dan kondisi kesehatan pengguna.
Penjelasan mengenai EVALI menjadi salah satu alasan masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam memilih maupun menggunakan produk rokok elektronik. Pengguna juga diimbau tidak memakai cairan vape yang tidak jelas kandungannya.
Kenali Gejala Gangguan Pernapasan
Sejumlah gejala gangguan pernapasan perlu diwaspadai setelah menggunakan vape. Gejala tersebut lain batuk, sesak napas, dan nyeri dada.
Dalam sejumlah kasus, keluhan dapat disertai demam, kelelahan, mual, atau muntah. Gejala-gejala itu tidak boleh diabaikan, terutama apabila muncul setelah penggunaan rokok elektronik.
Masyarakat yang mengalami sesak napas atau nyeri dada setelah menggunakan vape diminta segera mencari pertolongan medis. Pemeriksaan sejak dini diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang sesuai.
Pencegahan Risiko Vape
Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari penggunaan vape. Masyarakat juga diminta tidak menggunakan cairan dengan kandungan yang tidak jelas dan mencari bantuan tenaga kesehatan apabila mengalami keluhan pernapasan.
Edukasi mengenai risiko rokok elektronik dinilai penting, terutama bagi remaja dan kelompok usia muda yang rentan terhadap penggunaan produk nikotin. Pemahaman mengenai kandungan aerosol, gejala gangguan pernapasan, dan risiko cedera paru-paru diharapkan mendorong masyarakat lebih memperhatikan kesehatan paru-paru.
Masyarakat diimbau tidak menganggap vape sebagai produk yang sepenuhnya aman. Gejala yang muncul setelah menggunakan rokok elektronik perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan medis agar penyebabnya dapat diketahui dan penanganan yang tepat bisa diberikan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















