Headline.co.id, Jakarta ~ Arsip autentik dinilai menjadi benteng penting untuk menjaga kebenaran sejarah di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha menyampaikan hal itu pada pembukaan Lokakarya Pelatihan Internasional Memory of the World (MoW) 2026 di Jakarta, seperti dikutip , Jumat (16/10/2026).
Menurut Giring, kemampuan AI dalam merekonstruksi teks lama, meniru suara, dan menyusun video peristiwa masa lalu secara meyakinkan dapat memunculkan manipulasi memori kolektif. Karena itu, penguatan autentisitas arsip diperlukan untuk membedakan fakta historis dari narasi fiktif yang dibuat algoritma.
“AI dapat menghasilkan informasi, tetapi arsip menyediakan bukti. AI dapat membayangkan masa lalu, tetapi warisan dokumenter menunjukkan apa yang benar-benar bertahan darinya,” tegas Giring.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Arsip autentik untuk menguji fakta sejarah
Perkembangan AI tidak hanya menghadirkan kemudahan dalam pertukaran informasi, tetapi juga menciptakan area abu-abu dalam penyampaian sejarah. Rekayasa visual dan tekstual yang semakin mudah berpotensi membuat generasi muda kesulitan membedakan peristiwa faktual dari narasi buatan mesin.
Dalam merespons kerawanan tersebut, pemerintah tidak mengarahkan pemanfaatan AI untuk ditolak. Teknologi itu justru diproyeksikan menjadi mitra peneliti, lain untuk menerjemahkan manuskrip kuno dan memperbarui transkripsi naskah lama.
Namun, pemanfaatan teknologi tersebut harus tetap berpegang pada tiga pilar pelestarian global, yakni pemeliharaan fisik, keterbukaan akses, dan penjagaan keaslian. Ketiganya menjadi dasar agar penggunaan AI tidak menghilangkan konteks serta keandalan warisan dokumenter.
Nagarakretagama menjadi rujukan sejarah Majapahit
Ketahanan arsip autentik dapat dilihat melalui naskah Nagarakretagama. Teks yang diselesaikan Mpu Prapanca pada 1365 itu masih memuat detail kehidupan era Majapahit, meskipun struktur kerajaan dan wangsa tersebut telah berabad-abad berlalu.
Naskah tersebut menjadi rujukan penting untuk memahami sistem tata kelola kenegaraan maritim Nusantara pada masa lalu. Rekaman peradaban itu juga dihidupkan kembali pemerintah pusat sebagai landasan intelektual pembangunan fasilitas edukasi modern, Museum Majapahit, di Trowulan, Jawa Timur.
Pendirian pusat studi peradaban tersebut berjalan berdampingan dengan perwujudan Asta Cita pembangunan sumber daya manusia yang berakar pada nilai keilmuan dan kearifan masa lalu.
Keterbukaan akses terhadap naskah sejarah diyakini dapat memunculkan inspirasi baru bagi sineas, budayawan, serta kreator digital. Dengan akses tersebut, warisan dokumenter tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan, tetapi juga dapat menjadi sumber pengetahuan dan karya pada masa kini.
Ribuan dokumen masih membutuhkan penyelamatan
Di sisi lain, pekerjaan pelestarian arsip masih menghadapi tantangan besar. Ribuan keping memori bangsa diyakini masih tersebar dan tersimpan di lingkungan keraton, ruang bawah tanah institusi pendidikan, hingga rak buku milik keluarga pahlawan.
Manuskrip-manuskrip tersebut terancam hilang karena lapuk dimakan usia atau terdampak bencana alam. Kondisi itu menuntut operasi penyelamatan secara masif sebelum dokumen berharga tersebut lenyap tanpa sempat diteliti.
Giring juga mengaitkan pentingnya perlindungan memori sejarah dengan pidato Presiden Sukarno di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 30 September 1960. Pidato historis itu kini resmi menyandang status Memory of the World.
Menurut Giring, pemeliharaan ingatan sejarah bukanlah bentuk romantisme buta, melainkan instrumen penting untuk menjaga nalar kebenaran publik. Karena itu, pengautentikasian arsip hari ini dipandang sebagai warisan perlindungan kebenaran bagi generasi mendatang.
(Humas ANRI)
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















