Headline.co.id, Jakarta ~ Kabut asap dan kemarau panjang melanda Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada pertengahan Oktober 2026, sehingga memicu krisis kesehatan dan air bagi ribuan keluarga. Sedikitnya 1.687 kepala keluarga terdampak karena kesulitan menyelamatkan hasil bumi sekaligus menghadapi penurunan kualitas udara. Kondisi tersebut mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengerahkan 2.106 tenaga kesehatan ke 63 kabupaten dan kota terdampak di tujuh provinsi. Di Parigi Moutong, BPBD memasok air bersih menggunakan armada tangki untuk membantu lahan pertanian dan warga di wilayah yang mengalami kekeringan.
Lahan pertanian seluas 4.691 hektare di Parigi Moutong dilaporkan mengalami kekeringan dan kekurangan air baku. Selain itu, sekitar 234 hektare hutan dan lahan terbakar dalam periode krisis tersebut.
Kualitas udara di wilayah itu juga memburuk akibat partikel asap kiriman lintas daerah. Kondisi ini berdampak pada aktivitas warga, terutama karena konsentrasi partikel debu halus atau PM2,5 di udara Sulawesi Tengah telah melampaui ambang batas toleransi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Berdasarkan data pemantauan, asap tersebut berasal dari Kabupaten Tojo Una-Una, Morowali, serta residu kebakaran lintas pulau dari Papua Selatan. Sebanyak 13 daerah tercatat telah mencapai ambang batas kualitas udara berbahaya.
Kemenkes Kerahkan 2.106 Tenaga Kesehatan
Kemenkes mencatat 277.075 orang terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat dampak polusi asap. Dari jumlah itu, lebih dari 62 ribu kasus terjadi pada balita yang menjadi salah satu kelompok paling rentan.
Untuk mengantisipasi terganggunya layanan kesehatan tingkat pertama, pemerintah memobilisasi tiga juta unit masker, ratusan konsentrator oksigen, dan obat-obatan esensial ke wilayah terdampak. Langkah tersebut menjadi bagian dari respons terhadap kondisi udara buruk yang telah meluas ke sejumlah daerah.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan paparan krisis atmosfer berkepanjangan juga dapat memicu tekanan mental dan kelelahan psikologis masyarakat.
“Jika keluhan menetap dan mengganggu keseharian, segera konsultasikan dengan tenaga medis. Jangan menunggu hingga kondisi penderita memburuk,” kata Aji.
Ia juga meminta pemerintah daerah memanfaatkan gedung fasilitas umum sebagai ruang aman dengan udara bersih dan oksigen. Ruang tersebut diprioritaskan bagi bayi, ibu hamil, serta penderita gangguan paru kronis.
BPBD Pasok 92 Ribu Liter Air Bersih
Di tengah penanganan dampak kesehatan, BPBD Parigi Moutong mengerahkan armada tangki untuk mendistribusikan air bersih kepada warga dan lahan pertanian yang mengalami kekeringan. Total air yang disalurkan secara bertahap mencapai 92 ribu liter.
Desa Kayu Agung di Kecamatan Mepanga dan Desa Tirta Nagaya di kawasan Bolano menjadi lokasi distribusi paling intensif. Belasan hektare kebun di dua wilayah tersebut terancam mengalami kerusakan apabila pasokan air terhenti.
Pelaksana Tugas Kepala BPBD Parigi Moutong, Moh Rivai, mengatakan distribusi dilakukan hingga ke wilayah pelosok untuk memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi.
“Air bersih adalah kebutuhan dasar mutlak. Kami berpatroli merambah pelosok guna memastikan tidak ada satupun warga yang terlewat dari rute armada suplai tangki kami di tengah kondisi rawan ini,” ujar Moh Rivai.
Tim gabungan dari TNI, Polri, dan Palang Merah Indonesia turut dikerahkan untuk mengawal pengisian tandon serta mengantisipasi munculnya titik api baru di sekitar kawasan hutan.
Api Mengancam Kebun Warga
Selain kekeringan, kebakaran lahan juga menjadi persoalan dalam penanganan kabut asap Parigi Moutong. Dalam salah satu operasi, armada pemadam milik TNI dikerahkan untuk memadamkan kebakaran seluas tiga hektare yang menjalar ke kebun warga di Desa Patunasugi.
Penanganan tersebut dilakukan untuk mencegah api meluas ke permukiman. Kebakaran lahan menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi lingkungan di tengah kemarau panjang dan ketiadaan air baku.
Pemerintah daerah juga mengingatkan masyarakat agar menghentikan pembukaan lahan perkebunan dengan cara membakar. Praktik tersebut dinilai berisiko memperluas kebakaran, terutama ketika kondisi lahan kering.
Gubernur Ingatkan Larangan Membakar Lahan
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid saat meninjau permukiman terdampak mengingatkan masyarakat untuk mematuhi larangan membakar lahan. Kedisiplinan warga disebut menjadi bagian penting dalam mencegah meluasnya kebakaran.
Penanganan melalui tenaga kesehatan, masker, obat-obatan, konsentrator oksigen, serta pasokan air bersih menjadi langkah tanggap darurat. Namun, upaya tersebut juga diikuti dengan pencegahan di tingkat masyarakat agar kebakaran baru tidak muncul di lahan-lahan kering.
Kondisi di Parigi Moutong memperlihatkan dampak berlapis dari kemarau panjang dan kabut asap, mulai dari ancaman terhadap kesehatan pernapasan, kekurangan air, kerusakan lahan pertanian, hingga risiko kebakaran yang meluas.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.





















