Headline.co.id, Semarang ~ Tsoraya Aniqa, peserta Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 asal Kalimantan Timur, tampil di babak final cabang hafalan Al-Qur’an golongan 10 juz dan 20 juz. Peserta berusia 15 tahun itu mencapai final untuk pertama kalinya dalam MTQ Nasional yang berlangsung di Semarang. Tsoraya mampu menghafal 30 juz Al-Qur’an selama kurang lebih enam tahun, sejak kelas 1 hingga kelas 6 sekolah dasar, melalui pendampingan orang tua dan ustazah.
“Alhamdulillah, intinya sangat bersyukur. Karena ini pertama kali saya masuk final,” ujar Tsoraya saat ditemui di Semarang, Jumat (18/9/2026).
Keberhasilan Tsoraya menjadi finalis MTQ Nasional tidak terlepas dari proses panjang menjaga hafalan dan mempersiapkan diri menghadapi perlombaan. Sebelum tampil, ia menjalani latihan selama sembilan bulan serta mengikuti karantina selama lebih dari satu bulan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Menurut Tsoraya, tantangan terbesar dalam mengikuti perlombaan bukan hanya mengingat hafalan, tetapi juga menjaga emosi dan kesabaran. “Tantangan terbesarnya harus bisa jaga emosi, harus bersabar,” katanya.
Hafal 30 Juz Sejak Kelas 1 hingga Kelas 6 SD
Tsoraya mengawali hafalan Al-Qur’an dari Juz 30, kemudian melanjutkan ke Juz 29. Setelah itu, ia mulai menghafal dari Juz 1 hingga menyelesaikan 30 juz dalam waktu kurang lebih enam tahun.
Rutinitas tersebut terus dijaga setelah hafalan selesai. Tsoraya mengikuti pembinaan untuk mempertahankan hafalannya sekaligus mempersiapkan diri dalam berbagai musabaqah.
Dalam proses tersebut, orang tua berperan mendampingi murajaah, sedangkan para ustazah membantu memperbaiki bacaannya. Pendampingan dilakukan secara rutin, termasuk setelah subuh dan pada lima waktu salat dalam sehari.
“Orang tua dan para ustazah yang melatih saya selama sembilan bulan. Orang tua menjaga murajaah saya dari subuh, lima waktu salat selama sehari. Ustazah yang memperbaiki bacaan saya,” tuturnya.
Kebiasaan Tsoraya Menjaga Konsistensi Hafalan
Salah satu kebiasaan yang dijalani Tsoraya selama menghafal adalah membatasi penggunaan gawai dan televisi ketika berada di rumah. Pembatasan itu menjadi bagian dari rutinitasnya dalam menjaga fokus selama menyelesaikan hafalan.
“Saya di rumah selama menghafal tidak ada handphone, tidak ada TV,” ujarnya.
Meski demikian, proses menghafal tidak dijalani tanpa waktu istirahat. Ketika mulai merasa bosan, orang tua Tsoraya mengajaknya berjalan-jalan atau berlibur setiap pekan. Waktu tersebut membantu menjaga semangatnya agar tidak jenuh dalam menjalani rutinitas hafalan.
Tsoraya menilai dukungan keluarga dan bimbingan guru menjadi bagian penting dalam perjalanan menghafal Al-Qur’an. Setelah menuntaskan hafalan 30 juz di sekolah dasar, ia tetap melanjutkan murajaah dan pembinaan untuk menghadapi kegiatan musabaqah.
Pesan untuk Generasi Muda
Tsoraya berharap semakin banyak anak muda yang tertarik menghafal Al-Qur’an dan berani mengikuti musabaqah. Menurutnya, hafalan perlu terus dijaga dan dikembangkan melalui pembinaan.
“Pesannya semoga bisa lebih banyak lagi yang menghafal Qur’an dan ikut musabaqah,” pesannya.
Kasubdit Lembaga Tilawah dan Musabaqah Al-Qur’an, Rijal Ahmad Rangkuty, mengatakan, kehadiran peserta muda seperti Tsoraya menunjukkan potensi generasi muda dalam menjaga dan menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.
“Generasi muda harus kita dekatkan dengan Al-Qur’an. Bukan hanya mampu membaca dan menghafalnya, tetapi bagaimana Al-Qur’an menjadi bagian dari kehidupan mereka. MTQ menjadi salah satu ruang untuk memberikan motivasi kepada anak-anak muda agar mencintai Al-Qur’an dan terus mengembangkan kemampuannya,” ujar Rijal.
Rijal menyebut proses menghafal Al-Qur’an membutuhkan kedisiplinan, kesabaran, dan konsistensi dalam menjaga hafalan. Dukungan dari lingkungan terdekat, terutama keluarga dan guru, juga penting untuk mempertahankan semangat anak selama menjalani proses tersebut.
Kisah Tsoraya menunjukkan bahwa hafalan Al-Qur’an dapat dimulai sejak usia sekolah dasar. Dengan pendampingan orang tua, bimbingan guru, kedisiplinan, dan lingkungan yang mendukung, hafalan dapat menjadi bagian dari keseharian generasi muda.




















