Headline.co.id, Jakarta ~ Capaian siswa madrasah dalam PISA 2025 menunjukkan peningkatan pada kemampuan membaca, matematika, dan sains dibandingkan hasil PISA 2022. Kenaikan terlihat pada sejumlah jenjang dan status madrasah, terutama MTs negeri serta MA negeri. Hasil tersebut menjadi bahan evaluasi Kementerian Agama untuk memperkuat kualitas pembelajaran, khususnya dalam literasi, numerasi, sains, dan pemecahan masalah. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Amien Suyitno menyampaikan hal itu di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Skor PISA 2025 MTs Negeri Meningkat
Berdasarkan data tren hasil PISA 2022 dan 2025, peningkatan paling terlihat pada Madrasah Tsanawiyah (MTs) negeri. Skor membaca naik dari 364 pada 2022 menjadi 390 pada 2025.
Skor matematika MTs negeri juga meningkat dari 372 menjadi 385. Sementara itu, skor sains naik dari 382 pada 2022 menjadi 414 pada 2025.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Pada MTs swasta, skor membaca meningkat dari 333 menjadi 341. Skor sains juga naik dari 358 menjadi 368. Namun, skor matematika MTs swasta mengalami penurunan dari 348 pada 2022 menjadi 345 pada 2025.
Perbedaan capaian tersebut menunjukkan bahwa hasil PISA perlu dibaca secara lebih rinci berdasarkan jenjang dan status madrasah. Dengan demikian, evaluasi pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan.
MA Negeri Catat Kenaikan pada Membaca, Matematika, dan Sains
Perkembangan positif juga tercatat pada Madrasah Aliyah (MA) negeri. Skor membaca MA negeri naik dari 380 pada 2022 menjadi 409 pada 2025.
Pada kemampuan matematika, skor MA negeri meningkat dari 380 menjadi 403. Adapun skor sains mengalami kenaikan dari 402 menjadi 428.
MA swasta mencatat peningkatan pada seluruh domain yang diukur. Skor membaca naik dari 357 menjadi 358, sedangkan skor matematika meningkat dari 351 menjadi 358.
Skor sains MA swasta juga bertambah dari 370 pada 2022 menjadi 379 pada 2025. Data tersebut memperlihatkan adanya perkembangan capaian, meski besar kenaikannya berbeda pada setiap jenjang dan domain.
PISA 2025 Jadi Bahan Evaluasi Pembelajaran
Amien Suyitno mengatakan capaian PISA tidak semata-mata perlu dilihat dari besar kecilnya skor. Menurut dia, data tersebut harus digunakan untuk memahami perubahan kualitas pembelajaran yang berlangsung di ruang kelas.
“Yang paling penting bukan hanya berapa angka yang diperoleh, tetapi apa yang terjadi di ruang kelas. Ketika skor meningkat, kita harus melihat praktik pembelajaran apa yang membuat peserta didik lebih mampu memahami bacaan, bernalar secara matematis, dan menggunakan pengetahuan sains untuk memecahkan persoalan,” ujar Suyitno.
Ia menjelaskan, PISA merupakan studi penilaian internasional yang diselenggarakan OECD untuk mengukur kemampuan siswa usia 15 tahun dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan pada situasi kehidupan nyata.
“Jadi PISA bukan sekadar mengukur hafalan materi. Yang dilihat adalah bagaimana anak memahami bacaan, menggunakan pengetahuan matematika, memahami persoalan sains, kemudian menggunakan kemampuan itu untuk memecahkan masalah,” jelasnya.
Menurut Suyitno, peningkatan capaian pada sejumlah madrasah menunjukkan bahwa penguatan pembelajaran perlu dilanjutkan. Namun, hasil PISA juga harus menjadi pijakan untuk melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.
“Data PISA harus menjadi cermin bagi kita. Ada satuan pendidikan yang menunjukkan kemajuan, tetapi ada pula yang masih membutuhkan perhatian. Tugas kita adalah memastikan praktik baik yang muncul dapat direplikasi dan kesenjangan mutu antarsatuan pendidikan terus diperkecil,” katanya.
Penguatan Literasi dan Pemecahan Masalah
Suyitno menegaskan, pembelajaran di madrasah ke depan perlu semakin diarahkan pada kemampuan bernalar, literasi, numerasi, sains, dan pemecahan masalah. Penguatan tersebut tetap dilakukan dengan mempertahankan karakter serta nilai-nilai keislaman.
“Madrasah tidak boleh hanya kuat dalam penguasaan materi. Peserta didik harus mampu menggunakan pengetahuannya untuk membaca realitas, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan beradaptasi dengan perubahan,” ujarnya.
Ia menambahkan, hasil PISA perlu dianalisis secara spesifik berdasarkan jenjang dan status madrasah. Pendekatan itu dinilai penting agar kebijakan peningkatan mutu dapat disusun sesuai kebutuhan setiap satuan pendidikan.
“Ini menjadi pekerjaan bersama. Kita ingin madrasah bukan hanya mengejar capaian asesmen, tetapi membangun ekosistem pembelajaran yang membuat anak benar-benar memahami apa yang dipelajari dan mampu menggunakannya dalam kehidupan,” tandasnya.


















