Headline.co.id, Cirebon ~ Jakarta (Kemenag) — AICIS+ 2026 menerima 3.420 abstrak dari 21 negara hingga penutupan pengumpulan pada 9 September 2026. Jumlah tersebut berasal dari 607 lembaga dan melampaui target awal panitia sebanyak 2.500 paper. Tingginya partisipasi akademisi itu mendorong Kementerian Agama memperkuat seleksi serta pemetaan substansi agar integrasi kajian keislaman dan sains menjadi fokus utama konferensi. AICIS+ 2026 akan digelar pada 17–20 November 2026 di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Jumlah abstrak AICIS+ 2026 meningkat 40,51 persen dibandingkan penyelenggaraan pada 2025. Setelah tahap pengumpulan selesai, panitia akan memusatkan perhatian pada proses seleksi artikel, pemetaan tema, serta pematangan panel dan rangkaian pendukung konferensi.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Amien Suyitno mengatakan, peningkatan jumlah abstrak harus diikuti penguatan kualitas substansi. Menurut dia, ukuran utama AICIS+ bukan hanya banyaknya artikel yang masuk, melainkan terwujudnya integrasi kajian keislaman dan disiplin ilmu lain.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Indikator utama dari AICIS+ adalah terwujudnya konsep integrasi. Artinya, baik dari sumber maupun para asesor, semua materi yang diinvestasikan harus menggambarkan kajian yang tidak hanya Islamic Studies semata, tetapi juga integrasi dengan kajian berbasis natural sciences,” ujar Amien saat Rapat Koordinasi Persiapan AICIS+ 2026, Kamis (10/9/2026).
Pemetaan Artikel AICIS+ 2026
Amien menjelaskan, artikel yang telah diterima perlu dipetakan secara tematik untuk melihat perkembangan corak riset para akademisi. Pemetaan itu dapat mencakup kajian pure Islamic Studies, applied research, serta penelitian yang menghubungkan kajian keislaman dengan disiplin ilmu lainnya.
Pemetaan tersebut dinilai penting untuk menunjukkan perkembangan perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) dalam mengembangkan pendekatan integratif. Kajian keislaman diharapkan dapat dipertemukan dengan isu lingkungan sosial dan natural sciences melalui forum AICIS+.
“Hal ini penting untuk menunjukkan bahwa PTKI kita sudah berwajah integrasi, yang mempertemukan kajian keislaman, lingkungan sosial, hingga natural sciences yang diekspresikan dalam forum AICIS+,” jelas Amien.
Fokus integrasi itu juga akan diterapkan dalam expo AICIS+ 2026. Panitia tidak mengarahkan expo sebagai ruang untuk menampilkan profil institusi, melainkan sebagai etalase produk inovasi dan hasil penelitian yang memiliki manfaat nyata.
Produk yang dipamerkan dapat berasal dari PTKI maupun lembaga di luar PTKI. Bentuknya lain inovasi bahan ajar dan hasil riset terapan yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Untuk expo, yang ditampilkan bukan nama lembaganya, melainkan produknya. Produk tersebut bisa berupa inovasi bahan ajar atau hasil riset dari lembaga mana pun, baik PTKI maupun luar PTKI,” kata Amien.
Riset Terapan dan Persoalan Masyarakat
Panitia juga tengah mematangkan ruang untuk riset terapan yang berkaitan dengan persoalan masyarakat. Bidang yang didorong mencakup teknologi modifikasi cuaca, mitigasi bencana geologi dan gempa, mitigasi perubahan iklim, serta penelitian yang menjawab persoalan sosial.
Kehadiran riset-riset tersebut diharapkan memperluas cakupan AICIS+. Forum ini tidak hanya menjadi tempat membahas kajian keislaman secara teoretis, tetapi juga mempertemukan kajian tersebut dengan penelitian terapan dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Dengan demikian, expo dan rangkaian konferensi akan menampilkan hasil riset serta inovasi yang tidak terbatas pada satu lembaga. Produk dari berbagai institusi akan ditempatkan berdasarkan manfaat dan substansi yang ditawarkan.
Panel Dosen PAI hingga Partisipasi Siswa Madrasah
AICIS+ 2026 juga disiapkan untuk melibatkan lebih banyak unsur dalam ekosistem pendidikan Islam. Kepala Subdirektorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Litapdimas) Ditjen Pendidikan Islam, Nur Kafid, mengatakan panitia menyiapkan panel khusus bagi dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) pada Perguruan Tinggi Umum (PTU).
Panel tersebut dirancang untuk mewadahi sekitar 17 dosen PAI dari perguruan tinggi umum dalam membahas isu dan kebijakan terkait Pendidikan Agama Islam.
“Panel khusus FAI/PTU disiapkan untuk mewadahi sekitar 17 dosen PAI dari perguruan tinggi umum untuk mendiskusikan kebijakan PAI,” ujar Nur Kafid.
Selain dosen, panitia juga menyiapkan ruang partisipasi bagi siswa madrasah. Afirmasi akan diberikan kepada siswa Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) dan madrasah lainnya agar dapat terlibat dalam rangkaian AICIS+ 2026.
Karya dan inovasi dari ekosistem pendidikan Islam juga akan ditampilkan melalui side event dan expo. Panitia merencanakan area khusus untuk memamerkan produk inovasi madrasah serta karya seni dan budaya pesantren, termasuk karya yang merepresentasikan kekayaan tradisi lokal.
Keterlibatan madrasah dan pesantren menjadi bagian dari upaya memperluas ruang AICIS+. Forum tersebut tidak hanya mempertemukan akademisi perguruan tinggi, tetapi juga menghadirkan gagasan dan inovasi dari ekosistem pendidikan Islam yang lebih luas.
Setelah jumlah abstrak melampaui target, tahapan berikutnya mencakup seleksi dan pemetaan substansi artikel serta pematangan panel, expo, dan agenda pendukung lainnya. AICIS+ 2026 diarahkan untuk memperlihatkan perkembangan kajian Islam yang semakin terbuka terhadap integrasi keilmuan dan relevan dengan persoalan masyarakat.

















