Polri bersama tim SAR gabungan memperluas pencarian delapan orang yang masih hilang setelah kapal cepat KM Arupadatu 1 dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda, Banten. Operasi memasuki hari ketiga pada Kamis (10/09/2026) dengan melibatkan lebih dari 280 personel gabungan. Pencarian dilakukan menggunakan kapal, dukungan udara, drone thermal, serta peralatan pendukung lainnya untuk menemukan korban maupun petunjuk keberadaan kapal. Penyisiran dipusatkan di sekitar Gunung Anak Krakatau dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, arus, gelombang, dan posisi terakhir kapal.
Polri mengerahkan 59 personel dalam operasi tersebut. Salah satu sarana yang digunakan ialah KP Sanjaya-7017 milik Polri, yang menyisir perairan sekitar Gunung Anak Krakatau bersama KN SAR Tetuka milik Basarnas.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Operasi pencarian dipimpin langsung oleh Dirpolairud Polda Banten Kombes Pol Eko Hartanto, S.I.K., M.H. Ia turut berada di atas KP Sanjaya-7017 bersama personel yang melakukan penyisiran di wilayah operasi.
Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan, kekuatan personel dan sarana pencarian terus dioptimalkan untuk menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian.
“Memasuki hari ketiga, Polri terus mengoptimalkan pencarian delapan orang yang masih dalam pencarian setelah KM Arupadatu 1 hilang kontak. Sedikitnya 59 personel Polri dikerahkan dan kekuatan di lapangan dipimpin langsung oleh Dirpolairud Polda Banten Kombes Pol Eko Hartanto yang turut berada di tengah laut bersama anggota menggunakan KP Sanjaya-7017. Personel Polri juga memperkuat KN SAR Tetuka milik Basarnas,” ujar Trunoyudo dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (10/09/2026).
Pencarian 8 Orang Hilang di Selat Sunda Dibagi dalam Sektor
KP Sanjaya-7017 telah digunakan dalam pencarian sejak hari kedua dan kembali dikerahkan pada hari ketiga. Pada Kamis pagi, personel kapal tersebut mengikuti briefing sebelum bergerak sekitar pukul 08.00 WIB menuju perairan sekitar Gunung Anak Krakatau bersama KN SAR Tetuka.
KP Sanjaya-7017 membawa 36 orang yang terdiri atas 27 awak kapal, lima personel Ditpolairud Polda Banten, dua personel Basarnas, dan dua awak media. Sementara itu, KN SAR Tetuka diperkuat tiga personel Ditpolairud Polda Banten.
Untuk membuat penyisiran lebih terarah, Basarnas Banten membagi wilayah operasi menjadi enam sektor dengan luas total 2.483 nautical mile square (NM²). KP Sanjaya-7017 melakukan pencarian di sektor B yang terbagi menjadi delapan sub-sektor, yakni B1 hingga B8.
Adapun KN SAR Tetuka menyisir sektor C yang juga dibagi menjadi delapan sub-sektor, mulai C1 hingga C8. Pembagian wilayah tersebut dilakukan agar seluruh area pencarian dapat dipantau dan tidak ada bagian yang terlewat.
“Pencarian dilakukan secara sistematis berdasarkan sektor dan koordinat dengan mempertimbangkan posisi terakhir kapal, arah angin, arus, gelombang, cuaca dan perkembangan informasi di lapangan. Setiap unsur bekerja sesuai kemampuan masing-masing dan saling memperkuat dalam satu operasi SAR gabungan,” jelas Trunoyudo.
Cuaca dan Kondisi Laut Jadi Tantangan
Dalam penyisiran, petugas mengamati berbagai kemungkinan petunjuk yang dapat membantu menemukan KM Arupadatu 1 dan delapan orang yang hilang. Petunjuk tersebut meliputi keberadaan korban, bagian kapal, perlengkapan keselamatan, maupun benda lain yang berkaitan dengan kapal.
Pencarian berlangsung dalam kondisi cuaca yang cukup berat. Wilayah operasi dilaporkan berawan tebal hingga berkabut, dengan angin sekitar 15 knot. Gelombang di sejumlah wilayah bahkan dapat mencapai 2,5 hingga 4 meter.
Selain cuaca, tim SAR menghadapi tantangan berupa luas wilayah pencarian, perubahan arus, serta kondisi laut. Karena operasi berlangsung di sekitar Gunung Anak Krakatau, keselamatan personel juga menjadi perhatian utama. Aktivitas gunung api dan kondisi perairan terus dipantau serta dikoordinasikan dengan instansi terkait.
“Kami memahami ada keluarga yang menunggu kepastian. Karena itu, pencarian akan terus dilakukan secara maksimal, terukur dan terpadu dengan tetap memperhatikan keselamatan seluruh personel yang berada di lapangan,” tegas Trunoyudo.
Polri Selidiki Proses Sebelum Kapal Hilang Kontak
Selain menjalankan operasi SAR, Polri menyelidiki kejadian sebelum KM Arupadatu 1 hilang kontak. Subditgakkum Ditpolairud Polda Banten pada Rabu (09/09/2026) malam telah meminta keterangan sejumlah pihak.
Pihak yang dimintai keterangan lain pemilik kapal, pekerja galangan kapal, serta pihak yang berkaitan dengan proses docking dan perbaikan kapal. Penyelidikan dilakukan bersamaan dengan operasi pencarian, tetapi fokus utama Polri saat ini tetap menemukan delapan orang yang masih hilang.
Pencarian melibatkan Polri, Basarnas, TNI, Bakamla, KSOP, BPBD, unsur kewilayahan, potensi SAR, nelayan, masyarakat, media, dan keluarga korban. Sarana yang digunakan mencakup kapal SAR, kapal patroli, RIB, dukungan udara, drone thermal, peralatan medis dan komunikasi, serta kendaraan pendukung di darat.
“Polri berkolaborasi dengan Basarnas, TNI, Bakamla, KSOP, BPBD dan seluruh potensi SAR lainnya. Lebih dari 280 personel gabungan serta berbagai sarana pencarian dan pendukung dikerahkan pada hari ketiga. Seluruh kekuatan tersebut dioptimalkan untuk memperbesar peluang menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian,” kata Trunoyudo.
Polri mengimbau masyarakat, nelayan, dan pihak lain yang memiliki informasi terkait keberadaan KM Arupadatu 1 maupun delapan orang tersebut agar segera melapor kepada Basarnas, Polri, atau aparat berwenang.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan pencarian sendiri, khususnya dengan memasuki wilayah operasi atau perairan sekitar Gunung Anak Krakatau tanpa berkoordinasi dengan tim SAR.
“Kami mengajak masyarakat untuk membantu melalui koordinasi dengan petugas. Jika memiliki informasi, segera sampaikan kepada Basarnas, Polri atau aparat berwenang. Jangan mengambil tindakan sendiri, karena kondisi laut dan kawasan Gunung Anak Krakatau memiliki risiko yang harus diperhitungkan,” pungkas Trunoyudo.

















