Headline.co.id, Sleman ~ Tim mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan inovasi baru berupa sistem produksi pakan ikan yang menggabungkan kecerdasan buatan dan teknologi web. Dikenal dengan nama PelletQ-AI, sistem ini dirancang untuk membantu para pembudidaya ikan memproduksi pakan secara mandiri, mengurangi biaya produksi, dan memenuhi standar nutrisi ikan. Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin dari mahasiswa UGM yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa–Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PKM-PI).
PelletQ-AI dikembangkan oleh tim yang terdiri dari R. Gumilang Fikri Rahadiansyah Sanyata (Teknik Industri), Muhammad Wafdan Taqiyya (Teknologi Informasi), Muhammad Zahir Ali (Teknik Elektro), Clarissa Cindy Marta Devany (Akuakultur), dan Farhan Dwi Prabowo (Teknologi Rekayasa Mesin), di bawah bimbingan Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D. dari Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik UGM. Proyek ini berawal dari permasalahan yang dihadapi oleh mitra mereka, Budidaya Lele Pak Nanang di Sleman, Yogyakarta, yang mengalami kesulitan akibat tingginya harga pakan ikan komersial.
Ketua tim, Gumilang Fikri Rahadiansyah Sanyata, menjelaskan bahwa harga pakan ikan yang mencapai Rp375.000 per sak menjadi beban besar bagi pembudidaya, mengingat pakan menyumbang sekitar 60-70 persen dari biaya operasional. Kondisi ini diperparah dengan harga jual lele yang tidak mengalami peningkatan, sehingga keuntungan pembudidaya menurun. Selain itu, mitra juga tidak memiliki fasilitas untuk memproduksi pakan secara mandiri, membuat mereka bergantung pada pakan komersial.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
PelletQ-AI hadir sebagai solusi dengan mengintegrasikan platform web app.pelletqai.com dan sistem kecerdasan buatan. Pembudidaya dapat memasukkan data budidaya dan informasi bahan baku yang tersedia, kemudian sistem AI akan mengoptimalkan formulasi pakan dengan biaya serendah mungkin tanpa mengabaikan kebutuhan nutrisi. Hasil optimasi ini dikirimkan ke mesin PelletQ-AI untuk diproses secara otomatis, mulai dari pencampuran bahan baku hingga pencetakan pelet. Dengan demikian, pembudidaya dapat memproduksi pakan berkualitas secara mandiri dan efisien.
Ir. Ridwan Wicaksono, dosen pembimbing, menekankan bahwa inovasi ini merupakan contoh penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu seperti rekayasa mesin, kecerdasan buatan, teknologi informasi, dan akuakultur. Setelah melalui berbagai tahap pengembangan, PelletQ-AI kini telah diterapkan di lokasi mitra dan disertai dengan pelatihan serta pendampingan untuk memastikan teknologi ini dapat dimanfaatkan secara optimal. Tim UGM berharap inovasi ini dapat menjadi solusi bagi lebih banyak pembudidaya ikan di Indonesia, meningkatkan efisiensi dan daya saing sektor perikanan nasional.



















