Headline.co.id, Jakarta ~ Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bahwa prospek pasar modal Indonesia masih berada dalam jalur positif meskipun menghadapi dinamika ekonomi global. Hal ini terlihat dari posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dinilai menarik karena valuasinya yang lebih rendah dibandingkan rata-rata historis dan pasar regional, serta didukung oleh perbaikan kinerja emiten.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (10/6/2026), menyatakan bahwa pergerakan IHSG semakin konvergen dengan indeks acuan global yang diterbitkan oleh MSCI dan FTSE Russell. Menurut Friderica, hal ini menunjukkan respons positif pasar terhadap reformasi yang dilakukan regulator di sektor pasar modal.
Reformasi regulasi dan perbaikan kinerja perusahaan tercatat menjadi faktor utama yang mendukung optimisme ini. OJK mencatat bahwa laporan keuangan emiten pada kuartal I 2026 menunjukkan tren positif dari sisi pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas. Hal ini menjadi pendorong utama optimisme terhadap prospek pasar saham Indonesia ke depan.
Struktur pasar modal nasional juga dinilai kuat berkat dukungan investor domestik yang terus bertambah, terutama investor ritel. Jumlah investor pasar modal meningkat dari 12,17 juta pada 2023 menjadi 26,49 juta per April 2026. Dari jumlah tersebut, investor individu mendominasi dengan 26,43 juta, menunjukkan partisipasi masyarakat yang semakin luas.
Namun, OJK menilai masih ada ruang untuk pendalaman pasar. Jumlah investor aktif harian baru mencapai sekitar 448 ribu atau 1,69 persen dari total investor per April 2026. Oleh karena itu, OJK akan memperkuat program literasi dan edukasi keuangan, meningkatkan pelindungan investor, menjaga integritas pasar, serta mengembangkan instrumen dan produk pasar modal.
Dalam kesempatan yang sama, Friderica menegaskan bahwa OJK terus memperkuat upaya menjaga stabilitas sektor jasa keuangan melalui pengawasan yang bersifat forward-looking. Pengawasan ini dilakukan melalui stress test berkala dan pemantauan intensif terhadap indikator risiko seperti likuiditas, kecukupan permodalan, kualitas aset, dan konsentrasi risiko.
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa sektor jasa keuangan Indonesia masih memiliki ketahanan yang baik, termasuk di tengah tekanan nilai tukar rupiah. Pada sektor perbankan, indikator intermediasi valuta asing tetap sehat, tercermin dari rasio loan to deposit valuta asing yang memadai. Posisi devisa neto (PDN) juga berada di bawah batas ketentuan, menunjukkan eksposur risiko nilai tukar yang terkendali.
OJK juga berfokus pada percepatan pertumbuhan ekonomi nasional melalui berbagai program strategis dan prioritas. Kebijakan ini diarahkan untuk memperkuat fungsi intermediasi sektor jasa keuangan, memperluas akses pembiayaan, dan meningkatkan daya tahan sistem keuangan nasional. Prioritas OJK meliputi peningkatan pembiayaan sektor jasa keuangan, penguatan ekosistem dan akses pembiayaan bagi UMKM, serta pendalaman pasar keuangan.
Pengembangan ekonomi hijau, keuangan digital, sektor jasa keuangan syariah, literasi dan inklusi keuangan, serta pelindungan konsumen juga menjadi fokus utama. OJK menegaskan akan terus melakukan penegakan hukum secara konsisten untuk memperkuat integritas dan kredibilitas sektor jasa keuangan nasional.
Melalui berbagai agenda prioritas ini, OJK berupaya memastikan sektor jasa keuangan Indonesia tetap stabil dan produktif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan fondasi yang kuat, sektor jasa keuangan diharapkan menjadi pilar penting bagi pembangunan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi.



















