Headline.co.id, Di Desa Sidoharjo ~ Kecamatan Jambon, Ponorogo, terdapat sebuah daerah yang dikenal dengan julukan “kampung TKI” karena banyak warganya yang bekerja sebagai buruh migran di luar negeri. Namun, di tengah desa ini, terdapat kisah inspiratif dari dua putri kembar, Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif (Rikah), yang memilih jalur pendidikan untuk mengubah stereotip desa mereka. Kedua putri ini adalah anak dari pasangan buruh serabutan, Meseri (48) dan Siti Rokhayati (43).
Meseri bekerja sebagai buruh serabutan, menawarkan jasa pertanian dan kadang menjadi buruh bangunan di kota. Sementara itu, Siti adalah ibu rumah tangga yang sesekali membantu suaminya di sawah. Meski penghasilan mereka tidak menentu, pasangan ini berkomitmen untuk memberikan pendidikan terbaik bagi kedua anaknya. Sejak kecil, Mahmudah dan Rikah sudah dikenalkan pada buku dan diajarkan pentingnya pendidikan sebagai jalan keluar dari kemiskinan.
Mahmudah dan Rikah selalu bersekolah di tempat yang sama, mulai dari SDN 3 Krebet, MTsN 5 Ponorogo, hingga SMAN 1 Badegan. Mereka adalah murid berprestasi yang sering bersaing sehat untuk meraih peringkat teratas di kelas. Mahmudah berhasil meraih 18 prestasi, sementara Rikah meraih 14 prestasi, mulai dari olimpiade hingga lomba esai dan poster tingkat nasional.
Keinginan untuk kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) muncul secara diam-diam pada keduanya. Rikah terinspirasi dari cerita gurunya tentang seorang murid yang berhasil kuliah di UGM dengan beasiswa. Sementara Mahmudah selalu bercanda ingin kuliah di UGM, meski dalam hatinya ada harapan besar. Setelah beberapa kali gagal masuk perguruan tinggi negeri, mereka akhirnya diterima di UGM melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM) dengan subsidi UKT 100 persen.
Mahmudah diterima di D4 Manajemen dan Penilaian Properti, sedangkan Rikah di D4 Teknologi Veteriner. Meski sempat merasa gamang, Meseri dan Siti bersyukur dan bangga atas prestasi anak-anaknya. Rikah bahkan berencana membentuk komunitas penyuluhan ternak di desanya setelah lulus nanti.
Di desa yang mayoritas anak mudanya berhenti di SMK dan memilih bekerja sebagai buruh migran, Mahmudah dan Rikah menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi dan latar belakang desa terpencil bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. “Terima kasih untuk tidak menyerah dan selalu mendukung saya,” ucap Rikah kepada orang tuanya. Dari rumah bata ekspos di ujung gang persawahan, mereka membuktikan bahwa mimpi bisa terbang tinggi dan membawa harapan baru bagi desa mereka.



















