Headline.co.id, Jogja ~ Tempat penitipan anak (daycare) Little Aresha di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, menjadi sorotan publik setelah dugaan kekerasan terhadap anak viral di media sosial pada Jumat (24/4/2026). Lokasi daycare tersebut bahkan sempat dibanjiri ulasan warganet di Google Maps sebelum akhirnya tidak dapat diakses. Peristiwa ini mencuat setelah beredarnya unggahan di platform Threads yang memicu perhatian luas masyarakat. Hingga Jumat malam, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola maupun kepolisian terkait kasus tersebut.
Unggahan awal berasal dari akun Threads @veronicarosita_ sekitar pukul 20.00 WIB yang menyebut adanya keramaian dan pemasangan garis polisi di sebuah daycare di kawasan Sorosutan. Unggahan itu dengan cepat menarik perhatian, mengumpulkan lebih dari 1.000 tanda suka dan ratusan komentar hingga pukul 22.49 WIB.
Seiring viralnya informasi tersebut, sejumlah warganet membagikan tautan Google Maps lokasi Daycare Little Aresha. Pada saat itu, kolom ulasan dipenuhi berbagai komentar, termasuk yang menyertakan foto pemasangan garis polisi di lokasi. Namun, beberapa waktu kemudian, halaman Google Maps daycare tersebut tidak lagi dapat diakses.
Pantauan di lokasi menunjukkan daycare yang berada di Jalan Pakel Baru Utara telah dipasangi garis polisi sejak Jumat sore. Sejumlah warga dan wali murid terlihat mendatangi lokasi untuk mencari kepastian informasi.
Salah seorang wali murid yang ditemui di lokasi mengungkapkan perubahan perilaku anaknya yang menunjukkan ketakutan saat hendak dititipkan.
“Anaknya takut untuk masuk (dititipkan) di daycare tersebut. Mukanya takut. Sempat bilang, miss-nya galak-galak,” ujarnya, Jumat (24/4/2026) sekitar pukul 22.30 WIB.
Keterangan serupa disampaikan wali murid lain berinisial HF. Ia menuturkan keponakannya yang baru satu hari dititipkan di daycare tersebut langsung menunjukkan penolakan yang tidak biasa.
“Baru masuk satu hari, di hari kedua anak sudah ketakutan. Setiap mau berangkat selalu bilang tidak mau, enggak mau. Intinya dia takut sekali untuk masuk ke sana,” katanya.
HF menambahkan, keluarga sempat mengira kondisi tersebut sebagai proses adaptasi. Namun, ketakutan anak yang berlebihan memunculkan kecurigaan lebih lanjut.
“Katanya miss-nya (guru) galak-galak. Awalnya kami pikir karena belum penyesuaian saja, tapi ketakutannya tidak wajar,” lanjutnya.
Meski tidak ditemukan luka fisik, HF menyebut keponakannya mengalami trauma secara psikis. Keluarga kemudian memutuskan memindahkan anak tersebut ke tempat lain demi keamanan.
Sementara itu, seorang warga sekitar yang enggan disebutkan namanya mengaku mendengar dugaan perlakuan tidak layak terhadap anak-anak di daycare tersebut.
“Katanya anak-anak ditali dan ditelanjangi sampai kedinginan. Saya tadi gak boleh masuk, hanya Pak RT yang masuk,” ujarnya.
Berbagai narasi lain juga beredar di media sosial, termasuk dugaan praktik pengikatan dan perlakuan tidak manusiawi terhadap anak. Namun, seluruh informasi tersebut masih berstatus dugaan dan belum dikonfirmasi secara resmi.
Hingga berita ini ditulis, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan dan belum memberikan pernyataan resmi terkait kronologi kejadian maupun pihak yang bertanggung jawab. Pengelola Daycare Little Aresha juga belum memberikan klarifikasi atas tudingan yang beredar.
Kasus ini menjadi perhatian serius masyarakat, khususnya para orang tua, di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap layanan penitipan anak. Publik kini menunggu hasil penyelidikan aparat untuk memastikan kebenaran informasi yang berkembang serta menjamin perlindungan anak.





















