Headline.co.id, Jakarta ~ Harga BBM Pertamina pada Jumat, 24 Juli 2026, belum berubah dari ketentuan yang diberlakukan sejak 1 Juli, tetapi pergerakan minyak mentah dunia mulai menjadi perhatian menjelang evaluasi Agustus. Harga minyak Brent sempat menembus US$100 per barel akibat meningkatnya risiko geopolitik dan gangguan pengiriman energi. Kondisi tersebut dapat memengaruhi ruang penyesuaian BBM nonsubsidi apabila harga minyak bertahan tinggi selama periode perhitungan.
Dalam daftar harga BBM Pertamina di DKI Jakarta, Pertamax masih Rp16.250 per liter, Pertamax Turbo Rp19.300 per liter, Dexlite Rp19.700 per liter, dan Pertamina Dex Rp21.150 per liter. Pertalite tetap Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar subsidi bertahan Rp6.800 per liter. Daftar tersebut merupakan harga yang berlaku, bukan proyeksi untuk bulan berikutnya.
Perkembangan harga BBM Pertamina pada Agustus belum diumumkan secara resmi hingga 24 Juli 2026. Sejumlah analisis membuka kemungkinan Pertamax turun secara terbatas apabila rata-rata harga acuan produk BBM dan nilai tukar selama periode evaluasi tetap lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, tetapi peluang itu dapat tertahan jika minyak dunia stabil pada level tinggi.
Harga Juli Masih Berlaku di Tengah Tekanan Minyak Dunia
Penurunan harga yang berlaku mulai 1 Juli mencakup Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Pertamax dan Pertamax Green 95 tidak berubah, begitu pula Pertalite serta Biosolar yang termasuk dalam kelompok BBM bersubsidi atau mendapatkan pengaturan pemerintah.
Kebijakan tersebut membuat harga Pertamax Turbo di Jakarta turun Rp1.450 per liter dari Rp20.750 menjadi Rp19.300. Dexlite turun menjadi Rp19.700 dari Rp23.000 per liter, sedangkan Pertamina Dex turun menjadi Rp21.150 dari Rp24.800 per liter.
Namun, harga minyak mentah Brent kembali bergerak menembus US$100 per barel pada 24 Juli. Pergerakan itu menjadi faktor risiko karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya pengadaan bahan baku dan menekan ruang penurunan harga produk BBM di dalam negeri.
Harga Pertamax Dipengaruhi MOPS dan Nilai Tukar
Evaluasi harga BBM nonsubsidi tidak hanya melihat harga minyak mentah pada satu hari perdagangan. Salah satu unsur yang diperhatikan adalah rata-rata harga produk bahan bakar di pasar regional atau Mean of Platts Singapore, termasuk acuan untuk bensin beroktan 92 yang berkaitan dengan Pertamax.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga berpengaruh karena transaksi minyak dan produk energi internasional menggunakan mata uang dolar. Ketika harga acuan produk turun tetapi rupiah melemah, manfaat penurunan tersebut dapat berkurang setelah dikonversikan ke dalam biaya pengadaan domestik.
Faktor lain yang membentuk harga jual adalah distribusi, operasional, serta pajak bahan bakar kendaraan bermotor di setiap wilayah. Hal itu menjelaskan mengapa harga Pertamax dan produk nonsubsidi lain dapat berbeda antara Jakarta, Kalimantan, Sulawesi, dan sejumlah wilayah kepulauan.
Peluang Penurunan Agustus Masih Bersyarat
Analisis yang tersedia pada 24 Juli memperkirakan peluang penurunan Pertamax pada Agustus masih terbuka dalam kisaran terbatas sekitar Rp200 hingga Rp500 per liter. Perkiraan tersebut berlaku apabila rata-rata MOPS untuk bensin RON 92 dan kurs pada periode perhitungan tetap lebih rendah daripada periode sebelumnya.
Perkiraan itu bukan keputusan harga resmi. Pertamina maupun pemerintah belum mengumumkan daftar harga yang akan berlaku pada Agustus, sehingga angka tersebut tidak dapat digunakan sebagai patokan transaksi atau dianggap sebagai kepastian penurunan.
Kenaikan minyak Brent hingga melewati US$100 juga dapat mengurangi peluang penurunan apabila berlangsung lama dan masuk ke dalam rata-rata periode evaluasi. Sebaliknya, penurunan harga minyak setelah lonjakan tidak serta-merta mengubah harga BBM pada hari yang sama karena perhitungan menggunakan periode dan sejumlah komponen lain.
Harga Pertalite Dipertahankan Pemerintah
Pergerakan minyak dunia tidak otomatis membuat harga Pertalite berubah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan harga Pertalite tidak akan dinaikkan meskipun minyak Brent kembali berada di sekitar US$100 per barel.
Pemerintah juga melakukan simulasi ketahanan fiskal terhadap kenaikan harga minyak. Langkah tersebut diperlukan karena mempertahankan harga BBM bersubsidi ketika biaya energi meningkat dapat berhubungan dengan kebutuhan kompensasi, subsidi, dan pengelolaan anggaran negara.
Di sisi penyaluran, pemerintah membahas sistem pengetatan pembelian Pertalite, Solar, dan LPG bersubsidi agar lebih tepat sasaran. Pembahasan mengenai pengendalian penyaluran tersebut berbeda dari keputusan menaikkan atau menurunkan harga jual kepada konsumen.
Konsumen Perlu Membedakan Harga Berlaku dan Proyeksi
Harga yang dapat dijadikan acuan konsumen pada 24 Juli adalah daftar resmi Juli sesuai wilayah. Untuk Jakarta dan wilayah Jawa, Pertamax tetap Rp16.250 per liter, sedangkan angka penurunan Rp200 sampai Rp500 baru merupakan analisis mengenai kemungkinan Agustus.
Pemisahan antara harga aktual dan proyeksi diperlukan agar informasi pasar tidak dianggap sebagai pengumuman perusahaan. Daftar baru dinyatakan berlaku setelah diterbitkan melalui kanal resmi dan dilengkapi tanggal efektif serta rincian wilayah.
Sampai 24 Juli 2026, konsumen masih membayar BBM berdasarkan ketentuan yang berlaku sejak 1 Juli. Pergerakan minyak dunia, MOPS, kurs, kondisi fiskal, dan kebijakan subsidi menjadi perkembangan yang perlu dipantau menjelang pengumuman harga periode berikutnya.




















