Headline.co.id, Jakarta ~ Pengelolaan sampah pesantren didorong menjadi gerakan berkelanjutan melalui Lokalatih Daring Santri Ecosocpreneur yang digelar Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama, Jumat (6/11/2026). Kegiatan ini diikuti pimpinan 58 pesantren pelopor Gerakan Nasional Ecopesantren, pimpinan 1.914 pesantren pilot pendampingan Program Pesantren Ramah Anak, pimpinan pesantren dari berbagai daerah, serta aparatur sipil negara (ASN) Kantor Wilayah Kemenag provinsi dan Kemenag kabupaten/kota. Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan, kapasitas, dan keterampilan santri dalam kewirausahaan sosial dan lingkungan berbasis potensi pesantren serta masyarakat sekitar. Materi disampaikan oleh narasumber dari Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), akademisi, serta sejumlah organisasi dan mitra lingkungan.
Direktur Pemberdayaan Pesantren Yusi Damayanti mengatakan pengelolaan sampah menjadi fokus lokalatih karena persoalan kabut asap dan kebakaran hutan berdampak luas di berbagai wilayah.
“”Kabut asap dan kebakaran hutan yang terjadi di banyak wilayah dampaknya sangat luas. Karena itu, hari ini kita arahkan fokus pada pengelolaan sampah dan keberlanjutan lingkungan hidup,” ujar Yusi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Menurut Yusi, pesantren memiliki posisi strategis untuk mendorong perubahan perilaku karena menjalankan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
“Pesantren adalah rumah besar yang menjalankan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, pesantren sangat potensial menjadi pelopor perubahan perilaku peduli lingkungan,” tegasnya.
Potensi Sampah dari Aktivitas Pesantren
Yusi menyoroti aktivitas pesantren yang berlangsung sepanjang hari dengan jumlah santri yang besar. Ia mencontohkan Pesantren Lirboyo yang dihuni sekitar 55.000 santri. Kondisi tersebut membuat potensi timbulan sampah plastik dari kegiatan sehari-hari di lingkungan pesantren cukup tinggi.
Ia menegaskan, Gerakan Ecopesantren tidak berhenti pada upaya menciptakan lingkungan yang bersih dan hijau, tetapi juga diarahkan untuk membangun perubahan perilaku, kebiasaan, serta sistem pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
“Gerakan Ecopesantren bukan sekadar membuat lingkungan bersih dan hijau, melainkan membangun perubahan perilaku, kebiasaan, dan sistem pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan,” jelasnya.
Direktorat Pemberdayaan Pesantren memperkenalkan konsep Santri Ecopreneur dan RISE (Riset dan Inovasi Santri Ecopreneur) Club. Wadah ini dirancang agar santri dapat meneliti, berinovasi, dan mencari solusi atas persoalan lingkungan.
Program tersebut juga menekankan penguatan ketangguhan, daya lenting, dan keluwesan berpikir santri. Penerapannya dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah, menghemat air dan energi, merawat tanaman, serta mengembangkan bank sampah.
“Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, dari kamar santri, ruang belajar, dapur, tempat wudu, halaman, kebun, hingga masyarakat sekitar. Kita tidak harus menunggu semua fasilitas lengkap atau semua persoalan selesai untuk memulai,” kata Yusi.
Gerakan ini akan diperluas melalui kerja sama dengan kementerian, lembaga, akademisi, mitra, dan organisasi masyarakat sipil. Direktorat Pemberdayaan Pesantren juga akan melakukan kunjungan dan pemetaan kondisi awal pesantren di berbagai provinsi.
Bibit Gratis dan Saluran Penampung Sampah
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan Muhammad Zainal Arifin memaparkan keterlibatan pesantren dalam pemulihan lingkungan.
“Dalam sepuluh tahun terakhir, Kementerian Kehutanan telah merehabilitasi lebih dari 2 juta hektare lahan di seluruh Indonesia, dan pondok pesantren terlibat secara intensif dalam pemulihan lingkungan tersebut,” ungkap Zainal.
Kementerian Kehutanan memiliki 59 pusat persemaian, yang terdiri atas 50 persemaian berkapasitas 500 ribu hingga 1 juta batang per tahun dan sembilan persemaian besar berkapasitas 5 hingga 10 juta batang per tahun.
“Seluruh pusat persemaian tersebut siap menyediakan bibit gratis yang dapat dimanfaatkan masyarakat, termasuk pesantren, untuk rehabilitasi di dalam maupun di luar kawasan hutan, baik melalui pola agroforestri maupun program Kebun Bibit Rakyat,” katanya.
Zainal juga menjelaskan kebakaran lahan gambut di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Riau, dan Jambi sulit dipadamkan karena siklus hidrologi air gambut belum terjaga dengan baik. Ia mendorong pesantren membangun Instalasi Pemanenan Air Hujan (IPAH) untuk menjaga ketersediaan, kualitas, dan kuantitas air bersih saat kemarau dan menghadapi perubahan iklim.
“Saat ini kami sedang menyusun draf perjanjian kerja sama dengan Direktorat Jenderal Pesantren untuk mengintegrasikan kerja sama pemulihan lingkungan dan konservasi air,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup Agus Rusly menyebut jumlah santri sebagai potensi besar dalam pengelolaan sampah.
“Dengan jumlah santri sekitar 4 juta orang, potensi timbulan sampahnya hampir 2.000 ton per hari. Jika dikelola dengan baik, ini justru akan menjadi kekuatan besar menuju Indonesia Emas 2045,” kata Agus.
KLH berencana menerapkan model dropbox sampah anorganik di pesantren. Sebelumnya, model tersebut telah digunakan di rumah ibadah lintas agama, dengan hasil pengumpulan sampah dimasukkan ke kas rumah ibadah.
“Sampah anorganik yang sudah dipilah santri harus ada saluran penampungnya atau off-taker. Dengan begitu, hasil pengumpulan tidak terbengkalai dan semangat para santri dalam memilah sampah tetap terjaga,” ujarnya.
KLH juga membuka kolaborasi dengan pihak swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan filantropi. Lembaga itu memiliki pengalaman pendampingan di sekitar 15 pesantren, telah menyiapkan buku panduan pembentukan bank sampah, serta merencanakan pelatihan khusus secara luring dan daring.
Audit Sampah dan Teknologi Tepat Guna
Perwakilan Kepala Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Sri Wahyono, mengatakan pengelolaan sampah pesantren perlu diawali audit. Sampel dapat diambil dari asrama santri, dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), ruang kelas, masjid, dan rumah dinas ustaz.
“Melalui audit, kita bisa mengetahui timbulan sampah per orang serta komposisi dan karakteristiknya. Ini sangat penting untuk menentukan teknologi tepat guna yang paling sesuai untuk diterapkan,” jelas Sri.
Teknologi yang dapat digunakan meliputi pengomposan, biogas, pengumpulan sampah layak jual, Refuse Derived Fuel (RDF), serta pirolisis untuk sampah plastik bernilai rendah. BRIN menyatakan siap berkolaborasi agar sampah dapat dikelola di sumbernya dan beban yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir (TPA) berkurang.
Konsultan ahli sekaligus dosen agribisnis dan toksikolog lingkungan Josseph F. William mengajak peserta mengubah pandangan terhadap sampah.
“Sampah, kecuali B3, bukanlah masalah, melainkan sumber daya yang dapat dikelola, dimanfaatkan, dan menghasilkan pendapatan ekonomi yang signifikan bagi pesantren,” tegas Josseph.
Ia memperkenalkan prinsip paham, peduli, dan lakukan, serta metode pengolahan sampah organik berupa kompos aerob dan anaerob dengan bantuan ekoenzim, budidaya maggot BSF, vermikompos, dan reaktor biogas multifungsi. Reaktor tersebut dapat menghasilkan gas metana, pupuk cair, dan kompos padat.
Josseph juga menawarkan peta jalan 90 hari. Pada 30 hari pertama dilakukan sosialisasi, pembentukan tim, dan pemilahan sampah. Pembangunan sarana dan penanaman dilakukan pada 30 hari kedua, sedangkan panen dan evaluasi dilakukan pada 30 hari terakhir.
Lokalatih Santri Ecosocpreneur akan dilanjutkan secara rutin setiap Jumat dengan materi dan pembahasan tantangan praktis di lapangan. Kegiatan ini diharapkan menjadikan pesantren sebagai pelopor gerakan lingkungan sekaligus pusat lahirnya santri wirausaha yang peduli pada keberlanjutan bumi.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















