Headline.co.id, Jakarta ~ Gus Baha menegaskan pentingnya standardisasi mushaf Al-Qur’an agar penulisannya tetap akurat dan terverifikasi. Penegasan itu disampaikan dalam kajian Ulumul Qur’an yang digelar Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) di Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal (BQMI), Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Kamis (22/10/2026). Menurut Gus Baha, penulisan mushaf tidak dapat disamakan dengan mencatat bunyi bacaan atau menggunakan kaidah imla’ biasa. Standardisasi diperlukan karena penulisan Al-Qur’an berkaitan dengan kebahasaan, qira’at, dan karakter penulisan yang membutuhkan ketelitian serta penguasaan ilmu.
“Jadi saya pikir keharusan bikin standar kaya lajnah itu penting,” ujar Gus Baha dalam Kajian atas kitab Ihya’ Ulumiddin tersebut.
Ia menjelaskan, kesalahan dalam menangkap bunyi atau menuliskan satu lafaz dapat berujung pada kekeliruan dalam merepresentasikan bacaan dan makna Al-Qur’an. Karena itu, mushaf yang beredar perlu melalui proses verifikasi agar menjadi rujukan bersama yang diterima secara kolektif.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Dalam konteks Indonesia, Gus Baha menekankan peran LPMQ sebagai lembaga pentashih mushaf. Lembaga tersebut berperan memastikan mushaf yang beredar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Gus Baha Ingatkan Bahaya Membuat Mushaf Secara Subjektif
Gus Baha juga mengingatkan umat agar tidak membuat versi mushaf sendiri hanya berdasarkan penilaian subjektif. Menurut dia, kesalehan atau keyakinan seseorang terhadap tingkat keilmuannya tidak dapat dijadikan dasar untuk menentukan penulisan mushaf.
“Gak boleh orang mentang mentang soleh terus subjektif (membuat mushaf), saya misalnya terus merasa lebih alim dibanding kamu ya gak bisa,” kata Gus Baha.
Ia menilai, keberadaan mushaf yang telah diverifikasi penting untuk menjaga kesinambungan rujukan. Dengan demikian, umat memiliki pegangan yang sama dan penulisan Al-Qur’an tidak ditentukan oleh perkiraan atau pandangan pribadi.
Pada sesi tanya jawab, seorang peserta menanyakan penggunaan rasm imla’i di sejumlah mushaf. Menanggapi pertanyaan itu, Gus Baha mengatakan tradisi penulisan dan qira’at yang masyhur memiliki landasan keilmuan yang kuat. Ia menegaskan, urusan Al-Qur’an harus didasarkan pada sesuatu yang terkonfirmasi, bukan semata-mata nalar pribadi.
Sejarah Standardisasi Mushaf Al-Qur’an
Untuk menjelaskan pentingnya standardisasi, Gus Baha menelusuri sejarah penulisan Al-Qur’an. Ia menyebut proses penulisan pada masa Rasulullah saw., pengumpulan mushaf pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq, hingga standardisasi pada masa Utsman bin Affan.
Menurut Gus Baha, langkah yang dilakukan Utsman bin Affan bertujuan menjaga kesatuan umat dan mencegah perbedaan rujukan yang dapat memicu masalah. Ia juga menyinggung perbedaan keahlian para sahabat yang terlibat dalam proses tersebut. Sebagian memiliki keunggulan dalam penulisan, sedangkan yang lain kuat dalam bacaan.
Perbedaan keahlian itu, menurut dia, membuat pekerjaan dilakukan secara kolektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Proses tersebut menunjukkan bahwa penulisan mushaf tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mencatat bunyi, tetapi juga membutuhkan pemahaman terhadap kaidah penulisan dan qira’at.
Gus Baha menambahkan, penambahan titik dan harakat, pembagian juz, serta tata letak halaman merupakan bagian dari upaya memudahkan umat membaca Al-Qur’an. Namun, kemudahan dalam penyajian tersebut tidak boleh mengorbankan ketepatan penulisan mushaf.
Gus Baha Hibahkan Mushaf Kuno kepada BQMI
Di sela kajian, Gus Baha menghibahkan sebuah mushaf kuno kepada BQMI. Hibah tersebut diserahkan secara simbolis dan diterima Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM (BMBPSDM) Kementerian Agama, Muhammad Ali Ramdhani.
Kajian dibuka Kepala LPMQ Abdul Aziz Sidqi. Acara itu turut dihadiri Sekretaris Ditjen Pesantren Arsad Hidayat, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama H. Muhammad Adib Abdushomad, perwakilan Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ), pengurus Forum Pelayan Al-Qur’an (FPQ), mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Jakarta, serta jamaah umum.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



![[Siaran Pers] Raih Penghargaan Pelindungan Anak dari APSIPOL, Meutya Hafid: PP TUNAS Lindungi Masa Depan 70 Juta Anak](https://www.headline.co.id/wp-content/uploads/2026/11/siaran-pers-raih-penghargaan-pelindungan-anak-dari-apsipol-meutya-hafid-pp-tunas-lindungi-masa-depan-70-juta-a.jpg)













