Headline.co.id ~ Headline.co.id, Siaran Pers Kementerian Komdigi
Selasa, 11 November 2026
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mendorong anak muda, perguruan tinggi, dan startup Aceh mengembangkan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) berbasis bahasa lokal. Dorongan itu disampaikan dalam Seminar Terbuka bertema “Aceh dalam Peta AI Nasional: Infrastruktur, Talenta, dan Ekosistem” di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, Senin (02/11/2026). Menurut Nezar, pengembangan Large Language Model (LLM) berbahasa Aceh dapat membuat daerah tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga melahirkan inovasi AI yang bersaing di tingkat nasional. Pengembangan tersebut akan didukung melalui rencana pembukaan Garuda Spark Innovation Hub di Banda Aceh.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Saya mendambakan ada large language model bahasa Aceh. Bisa ya kita bikin ya bahasa Aceh? Karena itu sangat penting karena kita punya keunikan sendiri,” ujar Nezar dalam seminar tersebut.
Nezar mengatakan, AI berbasis bahasa lokal membuka ruang kolaborasi ilmu linguistik dan ilmu komputer. Menurut dia, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga mencerminkan struktur berpikir serta cara masyarakat memahami dunia.
Karena itu, pengembangan model bahasa Aceh dinilai dapat menjadi langkah penting untuk menghadirkan teknologi yang lebih sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat setempat.
“Linguistik dipadukan dengan computer science. Hari ini inilah yang kemudian membuat artificial intelligence makin dekat dengan cara berpikir manusia,” jelasnya.
Garuda Spark Innovation Hub Disiapkan di Banda Aceh
Untuk mendukung pengembangan AI berbasis bahasa lokal, Kementerian Komunikasi dan Digital berencana membuka Garuda Spark Innovation Hub di Banda Aceh melalui kerja sama dengan pemerintah kota.
Garuda Spark disiapkan sebagai pusat pelatihan, inovasi, dan pengembangan startup yang ingin mengadopsi teknologi AI dalam berbagai sektor. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi ruang bagi anak muda Aceh untuk mengembangkan solusi teknologi yang menjawab persoalan masyarakat.
Nezar menyebut sejumlah sektor yang dapat memanfaatkan pengembangan teknologi itu, lain layanan kesehatan, pertanian, perikanan, dan pendidikan. Dengan demikian, penggunaan AI di Aceh diharapkan tidak berhenti pada pemanfaatan aplikasi yang telah tersedia, tetapi berkembang menjadi kemampuan untuk menciptakan produk dan layanan digital sendiri.
“Insyaallah akan kita buka bekerja sama dengan Wali Kota Banda Aceh. Kementerian Komdigi melalui Direktorat Jenderal Ekosistem Digital akan membuka Garuda Spark di Aceh,” ungkap Nezar.
AI Bahasa Aceh Butuh Kolaborasi Lintas Disiplin
Nezar menilai Aceh memiliki modal sumber daya manusia dan ekosistem pendidikan yang dapat mendukung pengembangan AI. Keberadaan perguruan tinggi serta antusiasme sivitas akademika dalam mengadopsi teknologi menjadi peluang untuk memperkuat posisi Aceh dalam peta pengembangan AI nasional.
Namun, peluang tersebut perlu diikuti dengan peningkatan keterampilan digital. Nezar mengungkapkan, Indonesia membutuhkan sekitar sembilan juta talenta digital hingga 2030. Sementara itu, kemampuan penyediaan talenta digital saat ini baru sekitar empat juta.
Kesenjangan tersebut, kata dia, menjadi tantangan sekaligus kesempatan bagi generasi muda untuk memasuki bidang pekerjaan baru yang berkembang seiring kemajuan teknologi.
Kebutuhan talenta digital juga tidak terbatas pada lulusan bidang teknik atau komputer. Mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, termasuk bahasa dan linguistik, memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam pengembangan AI selama menguasai keterampilan teknologi yang dibutuhkan.
Kolaborasi bidang bahasa dan teknologi menjadi relevan dalam pengembangan LLM berbahasa Aceh. Model tersebut diharapkan dapat merepresentasikan kekhasan lokal sekaligus mendukung lahirnya teknologi yang lebih dekat dengan cara berpikir dan kebutuhan masyarakat Aceh.
Startup Aceh Ditargetkan Masuk Panggung Nasional
Pengembangan model bahasa Aceh menjadi salah satu peluang konkret untuk menunjukkan bahwa daerah dapat berkontribusi dalam industri AI nasional melalui keunggulan dan kekhasan lokal.
Nezar berharap ekosistem yang dibangun melalui Garuda Spark Innovation Hub dapat mendorong lebih banyak startup Aceh menghasilkan produk teknologi. Ia juga menargetkan startup dari Aceh mampu menembus jajaran teratas di tingkat nasional.
“Saya ingin melihat startup-startup Aceh bisa berada di top 10 pentas nasional. Dan itu harus dihasilkan oleh rekan-rekan semua, anak-anak muda Aceh,” pungkasnya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
![[Siaran Pers] Wamen Nezar Patria: Saatnya Startup Aceh Menciptakan AI Berbasis Bahasa Lokal](https://www.headline.co.id/wp-content/uploads/2026/11/siaran-pers-wamen-nezar-patria-saatnya-startup-aceh-menciptakan-ai-berbasis-bahasa-lokal.jpg)




![[Siaran Pers] Raih Penghargaan Pelindungan Anak dari APSIPOL, Meutya Hafid: PP TUNAS Lindungi Masa Depan 70 Juta Anak](https://www.headline.co.id/wp-content/uploads/2026/11/siaran-pers-raih-penghargaan-pelindungan-anak-dari-apsipol-meutya-hafid-pp-tunas-lindungi-masa-depan-70-juta-a.jpg)












