Headline.co.id ~ Perairan Indonesia menjadi habitat bagi berbagai spesies laut endemik yang hanya ditemukan di wilayah tertentu di Nusantara. Keberadaan satwa tersebut menarik pencinta scuba diving dan fotografi bawah laut untuk menyelam di sejumlah lokasi, termasuk Raja Ampat, Ambon, Kepulauan Banggai, dan Selat Lembeh. Spesies-spesies itu memiliki perilaku serta habitat khas, mulai dari hiu yang “berjalan” di dasar laut hingga ikan kecil yang berlindung di duri bulu babi dan tentakel anemon. Kekayaan tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga kelestarian terumbu karang Indonesia.
Hiu berjalan aktif pada malam hari
Hiu berjalan atau walking shark dari genus Hemiscyllium merupakan salah satu spesies laut endemik Indonesia yang memiliki cara bergerak berbeda dari hiu pada umumnya. Alih-alih berenang di laut terbuka, hiu berukuran kecil ini menggunakan sirip dada dan sirip panggulnya seperti kaki untuk merayap di atas dasar laut.
Hewan tersebut mencari krustasea kecil di terumbu karang. Hiu berjalan juga bersifat nokturnal atau aktif pada malam hari sehingga penyelam memiliki peluang untuk melihatnya saat melakukan penyelaman malam atau night dive.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Beberapa lokasi yang disebut menjadi habitatnya lain Raja Ampat, perairan Halmahera Barat, dan Teluk Cenderawasih. Di Raja Ampat, spesies yang dicantumkan adalah Hemiscyllium freycineti, sedangkan Hemiscyllium halmahera disebut dapat ditemukan di perairan Halmahera Barat dan Teluk Cenderawasih.
Perilaku berjalan di atas terumbu karang menjadikan hiu ini salah satu daya tarik penyelaman di kawasan Indonesia timur. Keunikannya juga memperlihatkan bagaimana spesies laut beradaptasi dengan lingkungan tempat hidupnya.
Psychedelic frogfish, ikan langka dari Ambon
Psychedelic frogfish atau ikan kodok psikedelik memiliki nama ilmiah Histiophryne psychedelica. Ikan ini dikenal sebagai salah satu spesies yang paling langka dan paling dicari oleh komunitas penyelam global, khususnya pencinta macro diving dan fotografi bawah laut.
Ikan tersebut tidak memiliki sisik, melainkan kulit tebal bergelombang dengan pola pusaran berwarna merah muda, kuning, dan putih yang menyerupai sidik jari. Wajahnya datar dengan mata menghadap ke depan sehingga menghasilkan tampilan visual yang khas.
Psychedelic frogfish tidak memiliki kemampuan berenang yang baik. Untuk berpindah, ikan ini melompat atau menyemburkan air dari insangnya guna menciptakan dorongan di atas pasir. Sumber lain dalam materi menyebutkan ikan tersebut dapat bergerak dengan mendorong tubuhnya di dasar laut berpasir.
Spesies ini hanya disebut dapat ditemukan di situs-situs selam tertentu di Ambon, Maluku, melalui aktivitas muck diving, yakni penyelaman di dasar laut berpasir atau berlumpur. Menemukannya membutuhkan kejelian atau bantuan dive guide lokal yang berpengalaman.
Dengan corak pusaran yang langka dan keberadaannya yang terbatas, ikan ini kerap disebut sebagai “Cawan Suci” atau Holy Grail bagi fotografer bawah laut. Materi juga menggambarkan ikan berukuran kecil tersebut dapat berada berpasangan di duri-duri bulu babi.
Banggai cardinalfish hidup di perairan dangkal
Banggai cardinalfish atau Pterapogon kauderni merupakan ikan kecil yang menjadi salah satu ikon laut Indonesia. Ukurannya sekitar 8 sentimeter, dengan tubuh berwarna perak, garis-garis hitam vertikal, serta bintik-bintik putih pada siripnya yang panjang.
Ikan ini tidak menyukai laut lepas dengan arus kuat. Banggai cardinalfish memilih perairan dangkal yang terlindungi dan hidup berkoloni di duri bulu babi atau tentakel anemon laut. Habitat tersebut menjadi tempat berlindung dari predator.
Perilaku reproduksinya juga menjadi daya tarik tersendiri. Banggai cardinalfish termasuk mouthbrooder, yakni ikan jantan mengerami telur di dalam mulutnya selama berminggu-minggu. Dalam periode itu, ikan jantan rela berpuasa untuk menjaga telur hingga menetas.
Habitat asli dan lokasi terbaik untuk melihat Banggai cardinalfish dalam jumlah besar berada di Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah. Namun, akibat introduksi, koloni ikan ini juga dapat dijumpai di Selat Lembeh, Sulawesi Utara, yang dikenal sebagai salah satu destinasi macro diving.
Untuk mengamati ikan berukuran kecil tersebut, penyelam perlu bergerak lambat di area terumbu karang dangkal yang terlindung. Keberadaan mereka di anemon dan bulu babi membuat pengamatan membutuhkan ketelitian.
Kekayaan laut dan pentingnya kelestarian terumbu karang
Hiu berjalan, psychedelic frogfish, dan Banggai cardinalfish memperlihatkan keragaman perilaku serta habitat spesies laut endemik Indonesia. Ketiganya dapat dijumpai di lokasi penyelaman yang berbeda, dengan karakter lingkungan mulai dari terumbu karang hingga dasar laut berpasir atau berlumpur.
Keberadaan spesies-spesies tersebut menjadi bukti kekayaan biodiversitas laut Indonesia. Pada saat yang sama, habitatnya perlu dijaga agar penyelam dan masyarakat tetap dapat menyaksikan satwa laut tersebut di lingkungan alaminya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















