Headline.co.id, Yogyakarta ~ Aksi demonstrasi memperingati dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa (20/10/2026), berakhir dengan kericuhan dan pembubaran massa oleh aparat kepolisian. Demonstrasi yang berlangsung sejak siang hingga malam hari tersebut melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang menyuarakan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah. Bentrokan terjadi ketika peserta aksi berupaya memasuki ruang rapat DPRD DIY dan dihalangi petugas keamanan. Situasi semakin memanas pada malam hari setelah terjadi pelemparan batu dan kembang api, sebelum kondisi di kawasan Jalan Malioboro berangsur kondusif sekitar pukul 21.55 WIB.
Kronologi demo Yogyakarta 20 Oktober 2026 menjadi perhatian setelah sejumlah demonstran dilaporkan mengalami luka-luka akibat kericuhan. Berdasarkan catatan tim medis independen hingga pukul 18.00 WIB, sedikitnya enam peserta aksi mengalami cedera dan satu orang harus mendapatkan penanganan di Rumah Sakit Bethesda. Kepolisian menyatakan terbuka menerima laporan apabila terdapat peserta demonstrasi yang mengalami dugaan kekerasan.
Perkembangan informasi demo Yogyakarta hari ini, Rabu (21/10/2026), juga menyoroti rangkaian peristiwa sejak kedatangan mahasiswa ke Gedung DPRD DIY hingga pembubaran massa pada malam sebelumnya. Selain di depan kantor DPRD DIY, demonstrasi berlangsung di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta dengan tuntutan yang mencakup penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), evaluasi kebijakan ekonomi, serta kritik terhadap keterlibatan militer dalam sektor sipil.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Pukul 12.00 WIB: Massa Mahasiswa Mulai Berdatangan ke DPRD DIY
Rangkaian demonstrasi dimulai sekitar pukul 12.00 WIB ketika sejumlah kelompok mahasiswa mendatangi halaman Gedung DPRD DIY di kawasan Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta.
Peserta aksi datang secara bergantian dengan membawa sejumlah tuntutan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.
Kelompok awal yang berada di lokasi terlihat mengenakan pakaian berwarna biru. Setelah kelompok mahasiswa lainnya berdatangan, massa tersebut meninggalkan lokasi dan digantikan peserta demonstrasi yang mayoritas mengenakan pakaian hitam.
Sejumlah organisasi mahasiswa turut mengikuti aksi, di antaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), kelompok mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII), Serikat Mahasiswa UGM, BEM Nusantara DIY, dan Front Mahasiswa Nasional (FMN).
Dalam orasinya, mahasiswa menyampaikan kritik terhadap penanganan bencana alam dan kebakaran hutan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
“Luka belum sembuh setahun bencana Sumatra, ditambah lagi gempa NTT, sekarang karhutla. Kita di sini sepakat untuk membuka mata para penguasa,” kata salah seorang orator.
Peserta demonstrasi juga meminta pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap masyarakat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan.
Pukul 14.00 WIB: Aliansi UMY Bergerak Gelar Aksi di Titik Nol Kilometer
Sementara demonstrasi berlangsung di DPRD DIY, kelompok mahasiswa dari Aliansi UMY Bergerak menggelar aksi terpisah di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Massa yang mengenakan jas merah mulai berkumpul sekitar pukul 14.00 WIB untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran.
Sejumlah persoalan yang disoroti meliputi program Makan Bergizi Gratis (MBG), kebijakan koperasi desa, perombakan kabinet, serta pendekatan militeristik yang dinilai semakin masuk ke berbagai sektor sipil.
Massa juga menyampaikan kekecewaan terhadap keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BOP).
Aksi di Titik Nol Kilometer berlangsung hingga sekitar pukul 16.45 WIB sebelum peserta demonstrasi membubarkan diri.
Berbeda dengan massa di Titik Nol Kilometer, kelompok demonstran di Gedung DPRD DIY masih bertahan untuk melanjutkan aksi.
Pukul 16.20 WIB: Bentrokan Mahasiswa dan Polisi Pecah
Situasi demonstrasi di halaman Gedung DPRD DIY mulai memanas sekitar pukul 16.00 WIB.
Ketegangan dipicu ketika sejumlah peserta aksi berupaya memasuki ruang rapat DPRD DIY. Namun, aparat kepolisian yang berjaga menghalangi upaya tersebut.
Tindakan penghalauan kemudian memicu aksi saling dorong antara demonstran dan polisi yang mengenakan perlengkapan pengamanan, termasuk tameng.
Berdasarkan pantauan Tirto, kericuhan terjadi sekitar pukul 16.20 WIB ketika ratusan peserta aksi terlibat saling dorong dengan petugas.
Sejumlah botol air mineral juga terlihat dilemparkan ke arah aparat kepolisian.
Ketegangan berlangsung beberapa waktu sebelum situasi mulai mereda menjelang Magrib. Berdasarkan laporan dari lokasi, kondisi relatif tenang sekitar pukul 17.45 WIB.
Meski demikian, sebagian peserta demonstrasi masih berada di sekitar halaman DPRD DIY untuk melanjutkan penyampaian aspirasi.
Pukul 18.00 WIB: Enam Demonstran Dilaporkan Terluka
Kericuhan yang berlangsung pada sore hari mengakibatkan sejumlah peserta demonstrasi membutuhkan penanganan medis.
Berdasarkan catatan tim medis independen hingga pukul 18.00 WIB, sedikitnya enam demonstran mengalami luka-luka.
Salah satu korban adalah Aska, mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta, yang dilaporkan mengalami sesak napas setelah terkena pukulan aparat kepolisian.
Aska kemudian dibopong oleh sesama demonstran menuju pos medis terdekat.
Korban lainnya dilaporkan mengalami sejumlah cedera, mulai dari memar, luka sobek di bagian bawah mata kanan, hingga dislokasi tulang.
“Tadi ada salah satu kawan yang mengalami dislokasi tulang, sehingga langsung kami larikan ke Rumah Sakit Bethesda,” kata seorang anggota tim paramedis yang bertugas.
Selain laporan korban luka, terdapat pengaduan dugaan pelecehan seksual terhadap empat demonstran laki-laki yang disebut terjadi ketika aksi saling dorong berlangsung.
Laporan tersebut masih merupakan pengakuan korban dan belum disertai hasil pemeriksaan resmi mengenai dugaan pelakunya.
Pukul 19.00–20.00 WIB: Anggota DPRD DIY Temui Mahasiswa
Memasuki malam hari, sejumlah anggota DPRD DIY mendatangi peserta demonstrasi untuk mendengarkan tuntutan yang disampaikan.
Sekitar pukul 19.00 WIB, anggota DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan, Andriana Wulandari, menemui massa aksi. Dialog dengan perwakilan fraksi berlangsung dalam rangkaian aksi malam tersebut.
Ketua Komisi D DPRD DIY itu menjelaskan bahwa hampir seluruh fraksi telah mengirimkan perwakilan untuk menemui mahasiswa.
Namun, proses dialog belum menghasilkan kesepakatan karena demonstran menginginkan akses masuk ke ruang rapat DPRD DIY.
“Tadi ada dari PKB, PAN, Golkar, PDI Perjuangan, Gerindra dan Fraksi Gabungan. Semua lengkap, semua perwakilan fraksi ada. Mereka (peserta aksi) minta masuk (ke ruang rapat DPRD DIY) tapi kita gak berani memberikan jaminan keamanan,” terang Andriana.
Menurutnya, anggota dewan bersedia melaksanakan dialog dengan perwakilan mahasiswa, tetapi tidak dapat memberikan jaminan keamanan apabila seluruh peserta demonstrasi memasuki ruang rapat.
“Mereka menyampaikan tuntutan. Kita sudah catat dan akan kita sampaikan ke pusat. Mau dialog, kita buka dialog, tetapi perwakilan bukan semuanya,” imbuhnya.
Meski tidak tercapai kesepakatan mengenai mekanisme dialog, DPRD DIY menyatakan aspirasi mahasiswa telah dicatat untuk disampaikan kepada pemerintah pusat.
Pukul 21.00–21.30 WIB: Kericuhan Kembali Pecah hingga Polisi Bubarkan Massa
Situasi kembali memanas ketika sebagian peserta demonstrasi mulai membubarkan diri sekitar pukul 21.00 WIB.
Berdasarkan laporan dari lokasi, bentrokan kembali terjadi dan melibatkan mahasiswa dengan kelompok organisasi masyarakat Jaga Warga.
Ketegangan berlanjut sekitar pukul 21.30 WIB ketika terjadi pelemparan batu dan kembang api di sekitar lokasi demonstrasi.
Peristiwa tersebut diikuti tindakan pembubaran massa oleh aparat kepolisian.
Sejumlah demonstran berlarian meninggalkan kawasan Gedung DPRD DIY. Sebagian peserta aksi juga dilaporkan sempat dikejar warga yang berada di sepanjang Jalan Malioboro.
Aksi saling kejar berlangsung beberapa waktu sebelum situasi berangsur terkendali.
Sekitar pukul 21.55 WIB, kondisi di kawasan Jalan Malioboro dilaporkan mulai kondusif setelah massa meninggalkan lokasi demonstrasi.
Polisi Buka Pengaduan Dugaan Kekerasan terhadap Demonstran
Seusai rangkaian kericuhan, perhatian juga tertuju pada laporan dugaan kekerasan yang dialami sejumlah mahasiswa selama berlangsungnya demonstrasi.
Kapolresta Yogyakarta, Kombes Pol Ari Setyawan Wibowo, belum memberikan penjelasan terperinci mengenai insiden yang terjadi selama pengamanan aksi.
Namun, ia menyatakan kepolisian bersedia menerima pengaduan apabila terdapat peserta demonstrasi yang mengalami tindakan kekerasan.
“Jika terjadi kekerasan yang dialami demonstran, kami mempersilakan dan terbuka menerima laporan,” kata Ari saat dikonfirmasi di lokasi.
Hingga informasi terakhir dalam bahan laporan ini, belum terdapat keterangan lanjutan mengenai hasil pemeriksaan atas dugaan kekerasan maupun pelecehan seksual yang dilaporkan peserta demonstrasi.
Demonstrasi pada 20 Oktober 2026 tersebut merupakan bagian dari gelombang aksi mahasiswa dan masyarakat sipil di sejumlah kota yang mengevaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Meski aksi di Yogyakarta berakhir dengan pembubaran massa, sejumlah tuntutan mahasiswa telah diterima perwakilan DPRD DIY untuk diteruskan kepada pemerintah pusat.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















