Headline.co.id, Bandung ~ Mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil meraih juara pertama dalam kompetisi EcoVation 2026 yang diadakan pada Jumat, 10 Juli 2026, di PwC Office WTC 3, Jakarta Selatan. Tim yang terdiri dari Fatika Permata Dewi dan Derichson Qualimva dari Program Studi Teknik Industri, Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM, serta Fadil Alfayat dari ITB, juga mendapatkan penghargaan “Best Speaker” yang diraih oleh Derichson Qualimva. Posisi kedua dalam kompetisi ini diraih oleh Zhejiang University, sementara Binus University menempati posisi ketiga.
Tim ini mengangkat isu stigma di industri nikel Indonesia dengan tajuk “Dirty Nickel”. Mereka mengerjakan sebuah pitch deck berisi 15 slide yang membahas masalah asimetri informasi atau yang dikenal sebagai “lemons problem”. Masalah ini berkaitan dengan pembeli internasional yang kesulitan membedakan produsen nikel yang sudah bersih secara ESG (Environmental, Social, and Governance) dengan yang belum, karena tidak adanya mekanisme sinyal nasional yang kredibel. Tim UGM dan ITB mengusulkan proposal PROVE-N (Proof-based Responsible & Verified Nickel), yaitu kerangka tata kelola dan verifikasi ESG tiga lapis (Ground/Trace/Proof) untuk PwC Indonesia.
Fatika Permata Dewi menjelaskan bahwa solusi yang ditawarkan timnya adalah sistem tata kelola ESG tiga lapis yang dapat diterapkan di industri nikel Indonesia. Sistem ini terdiri dari Ground Layer yang mengatur standar operasional seperti tailings dan hubungan komunitas, Trace Layer yang ditegakkan melalui integrasi data SIMBARA-ESG, PROVE Score yang terkait dengan kuota produksi RKAB, dan Proof Layer yang menjadi sertifikasi resmi IRNC dengan standar internasional (IRMA, CBAM, Battery Passport) serta pelaporan keuangan PSPK menjelang batas waktu Januari 2027. “Intinya adalah sistem ini membantu nikel Indonesia bisa ‘membuktikan diri bersih’ lewat sistem yang sudah ada, bukan membuat instrumen baru dari nol,” ujar Fatika pada Senin, 20 Juli 2026.
Untuk mencapai kemenangan, proposal PROVE-N harus melewati tiga tahapan dengan tiga kolaborator kasus yang berbeda di setiap tahapnya: Preliminary dengan Mad for Makeup, Semifinal dengan Uniqlo, dan Final dengan PwC. Penilaian dilakukan oleh tiga juri dari PwC, yaitu Miranti Nastiti (Manager of Sustainability), Vinsensius Hansen (Manager of Sustainability), dan Stella Farronikka (Senior Manager of Sustainability). Fatika menyatakan bahwa proses pengerjaan kasus memerlukan konsistensi yang panjang karena setiap tahap memiliki kasus yang berbeda dan tidak berkesinambungan, sehingga brainstorming dan eksekusi dilakukan sebanyak tiga kali. “Berbeda dengan lomba dengan satu kolaborator kasus yang pada tahap selanjutnya hanya perlu mengembangkan ide di tahap sebelumnya,” jelasnya.
Fatika dan timnya menekankan bahwa pengalaman berpikir matang dalam menghadapi tekanan, bekerja sama dalam tim, serta keberanian mencoba hal-hal baru lebih berharga daripada sekadar memperoleh penghargaan juara. “Bagi kami, pengalaman dari proses tersebut jauh lebih berarti dibandingkan sekadar hasil akhir kompetisi,” pungkasnya.



















