Headline.co.id, Pemerintah Indonesia ~ melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), akan menguji coba sistem peringatan dini gempa bumi atau Earthquake Early Warning System (EEWS). Sistem ini dirancang untuk memberikan jeda waktu hingga 20 detik bagi masyarakat agar dapat melakukan evakuasi sebelum guncangan utama terjadi. Uji coba ini dijadwalkan berlangsung bulan ini di Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung, setelah melalui pengembangan selama satu hingga dua tahun terakhir.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa sistem ini bekerja dengan mendeteksi gelombang primer (P-wave) yang muncul lebih cepat dibandingkan gelombang sekunder (S-wave) yang lebih merusak. Dengan memantau gelombang awal tersebut, sistem dapat memperkirakan waktu kedatangan guncangan utama, sehingga masyarakat memiliki kesempatan untuk mengambil langkah penyelamatan. “Bergantung pada jarak dari pusat gempa, sistem ini dapat memberikan waktu dari belasan detik hingga sekitar 20 detik sebelum guncangan kuat dirasakan,” ujarnya pada Kamis (2/4/2026).
Fathani menegaskan bahwa teknologi ini tidak digunakan untuk memprediksi kapan gempa akan terjadi, melainkan memberikan peringatan saat gempa mulai berlangsung. BMKG optimistis bahwa dalam kurun waktu singkat tersebut, masyarakat dapat melakukan berbagai tindakan mitigasi, seperti berlindung di tempat aman, menuju titik evakuasi, hingga menghentikan aktivitas berisiko.
Pengembangan sistem ini merupakan hasil kerja sama BMKG dengan mitra pengembang selama empat tahun terakhir dan memerlukan investasi yang cukup besar, terutama dalam pemasangan sensor dan penguatan jaringan pemantauan. Hal ini penting mengingat Indonesia merupakan negara dengan potensi tinggi terdampak bencana gempa bumi, yang semakin diperkuat dengan adanya 13 area subduksi atau zona Megathrust.
Dengan uji coba ini, BMKG berharap masyarakat dapat semakin memahami pentingnya respons cepat dalam menghadapi gempa, sehingga risiko korban jiwa dan kerusakan dapat diminimalkan.






















