Headline.co.id, Bripka Pande Made Ari Sudewa ~ S.H., seorang anggota Polri, menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat diwujudkan melalui seni. Pria berusia 36 tahun asal Desa Junjungan, Ubud, Kabupaten Gianyar ini memiliki bakat seni pahat yang luar biasa. Setelah sukses menciptakan Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Garuda Camp, Afrika Tengah, kini ia mempersembahkan karya serupa di Jakarta. Patung GWK tersebut dibuat untuk mendukung Bhayangkari Daerah Bali dalam acara Bazar Kreasi Bhayangkari Nusantara (KBN) yang berlangsung dari 21 hingga 25 Juli 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).
Acara ini menampilkan ratusan pelaku UMKM binaan Bhayangkari yang memamerkan wastra nusantara, kerajinan tangan, dan kuliner khas dari berbagai daerah di Indonesia. Patung GWK setinggi 2,3 meter ini berdiri megah di depan stan pameran Bhayangkari Daerah Bali, menjadi ikon yang menyambut pengunjung dan merepresentasikan kekayaan seni dan budaya Bali. Pembuatan patung ini atas permintaan Ketua Bhayangkari Daerah Bali, Ny. Didit Daniel Adityajaya.
Bripka Pande mengungkapkan bahwa proses pembuatan patung tersebut memakan waktu sekitar dua bulan. Meskipun memiliki tanggung jawab sebagai anggota Ditresnarkoba Polda Bali, ia tetap mampu membagi waktu sehingga pekerjaannya sebagai abdi negara tidak terganggu. Untuk mempercepat proses penyelesaian, ia dibantu oleh tiga orang temannya yaitu Agus Swardita, Made Sugita, dan Gusti Bernat.
Perjalanan membawa patung tersebut ke Jakarta tidaklah mudah. Pengiriman patung dari Bali ke ibu kota menghadapi tantangan, termasuk truk pengangkut yang mengalami pecah ban di tengah perjalanan. Sesampainya di Jakarta, bagian kepala Garuda dan tangan Dewa Wisnu mengalami kerusakan akibat benturan selama pengiriman. Namun, Bripka Pande dengan ketelitian dan kesabaran berhasil memperbaiki bagian yang rusak sehingga patung dapat berdiri kokoh di area pameran.
Sejak hari pertama pameran, Patung GWK menjadi daya tarik bagi para pengunjung. Banyak tamu yang berhenti untuk mengagumi detail ukirannya, mengabadikan momen melalui swafoto, dan menjadikannya sebagai salah satu spot foto favorit di area pameran. Bagi Bripka Pande, seni bukan sekadar hobi, melainkan bentuk kecintaan terhadap budaya Bali yang ingin diwariskan kepada generasi mendatang. Ia percaya bahwa seorang anggota Polri tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga dapat menjadi duta budaya yang memperkenalkan kekayaan seni Indonesia kepada masyarakat luas.
“”Saya berharap karya ini dapat menjadi salah satu cara untuk mengajegkan seni dan budaya Bali agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman. Sebagai anggota Polri, saya ingin menunjukkan bahwa polisi tidak hanya hadir dalam menjaga keamanan, tetapi juga mampu berkarya, menginspirasi, serta ikut melestarikan warisan budaya bangsa,”,” ujar Bripka Pande, Rabu (22/7/2026). “”Semoga melalui karya seni ini, masyarakat semakin melihat bahwa Polri selalu dekat dengan budaya, kreatif, humanis, dan hadir memberikan manfaat bagi masyarakat,”,” sambungnya. Suami dari Ipda Ni Luh Gede Putri Wandriani ini mengaku bangga karena hasil karyanya dapat menjadi bagian dari promosi UMKM Bhayangkari Daerah Bali di tingkat nasional. Kebahagiaan terbesar baginya bukan hanya melihat patung berdiri megah, tetapi ketika karya tersebut mampu menarik perhatian masyarakat dan menumbuhkan rasa bangga terhadap seni budaya Bali.
Kisah Bripka Pande membuktikan bahwa dedikasi seorang Bhayangkara tidak hanya diwujudkan melalui tugas kepolisian, tetapi juga melalui karya yang menginspirasi. Dari ruang seni hingga ruang pengabdian, ia menunjukkan bahwa kreativitas, kecintaan terhadap budaya, dan semangat melayani dapat berjalan beriringan. Di tangan seorang polisi yang juga seniman, Garuda Wisnu Kencana bukan sekadar patung, melainkan simbol bahwa pengabdian kepada bangsa dapat diwujudkan melalui karya yang menyentuh hati dan membanggakan Indonesia.



















