Headline.co.id, East Rutherford ~ Sorakan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada final Piala Dunia 2026 memperlihatkan persoalan yang lebih luas daripada insiden seremoni di New York New Jersey Stadium, East Rutherford, Minggu, 19 Juli 2026. Infantino berada di lapangan untuk menyerahkan trofi kepada Spanyol, tetapi reaksi sebagian penonton mengubah momen tersebut menjadi ujian reputasi bagi FIFA. Tekanan muncul karena kepemimpinan organisasi sepak bola dunia dinilai semakin dekat dengan kekuasaan politik, sementara kritik juga berkembang mengenai harga tiket, keputusan disipliner, dan penggunaan jet pribadi selama turnamen. Cara Infantino merespons rangkaian isu itu akan menentukan apakah keberhasilan operasional Piala Dunia 2026 mampu diikuti pemulihan kepercayaan publik.
Posisi Infantino sebenarnya kuat karena ia memimpin organisasi dengan dukungan luas dari banyak asosiasi anggota. Namun, dukungan kelembagaan tidak otomatis menghapus persepsi negatif di kalangan suporter. Sorakan di stadion menunjukkan adanya jarak antara legitimasi formal di dalam FIFA dan penerimaan publik terhadap cara organisasi menampilkan hubungan dengan pejabat politik.
Bagi Infantino, final seharusnya menjadi puncak keberhasilan turnamen pertama dengan 48 tim yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Ia hadir di banyak stadion, bertemu pejabat negara, dan memimpin rangkaian seremoni sampai trofi diserahkan kepada Spanyol. Akan tetapi, keterlihatannya yang sangat tinggi juga membuat seluruh keputusan dan gestur FIFA mudah dikaitkan langsung dengan dirinya.
Kedekatan Infantino dengan Politik Jadi Ujian FIFA
FIFA membutuhkan kerja sama pemerintah dalam penyelenggaraan Piala Dunia. Pengamanan, visa, transportasi, penggunaan stadion, perizinan, dan koordinasi antarnegara tidak dapat dilakukan hanya oleh federasi sepak bola. Karena itu, hubungan Infantino dengan pemimpin Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memiliki dasar operasional yang jelas.
Masalah muncul ketika kerja sama tersebut terlihat melampaui kebutuhan penyelenggaraan dan masuk ke wilayah simbolik. Kehadiran Trump dalam penyerahan medali dan pengangkatan trofi membuat sebagian penonton menilai panggung juara terlalu didominasi figur politik. Ketika Trump tetap berada di dekat skuad Spanyol saat selebrasi dimulai, Infantino harus mengambil tindakan praktis dengan mengarahkannya keluar dari pusat panggung.
Langkah itu dapat dibaca sebagai upaya menjaga protokol dan mengembalikan fokus kepada juara. Namun, tindakan tersebut baru terjadi setelah perhatian publik telanjur tertuju pada Trump dan Infantino. Dalam tata kelola acara global, pencegahan melalui protokol yang tegas biasanya lebih efektif daripada koreksi yang dilakukan setelah momen berlangsung di depan kamera.
Perjalanan Jet Pribadi Memperbesar Tekanan terhadap Infantino
Kritik lain datang dari pola perjalanan Infantino selama Piala Dunia 2026. Data yang tersedia menunjukkan ia menghadiri 43 pertandingan dan mengunjungi seluruh 16 kota penyelenggara dengan dukungan jet pribadi. Perjalanan lintas Amerika Utara itu memungkinkan Presiden FIFA berada di dua pertandingan dalam satu hari serta menghadiri pertemuan resmi di lokasi yang berjauhan.
Dari sudut operasional, mobilitas tersebut membantu pimpinan turnamen memantau banyak venue dan menjaga hubungan dengan panitia lokal. Piala Dunia 2026 berlangsung di tiga negara dan empat zona waktu, sehingga perjalanan udara menjadi kebutuhan utama. Namun, penggunaan pesawat privat dalam intensitas tinggi memunculkan pertanyaan mengenai jejak karbon dan konsistensi komitmen keberlanjutan FIFA.
Peneliti iklim menyoroti dampak emisi dari perjalanan itu. Bahan yang tersedia juga mencatat jarak penerbangan Infantino mencapai puluhan ribu mil selama kompetisi. Angka berbeda muncul dalam beberapa penghitungan karena metode dan periode pelacakan tidak selalu sama, sehingga angka pasti sebaiknya menunggu penjelasan resmi FIFA. Fakta yang konsisten adalah bahwa skala perjalanan tersebut sangat besar dan menjadi simbol dari biaya lingkungan turnamen lintas benua.
Tekanan Politik Belum Berarti Infantino Kehilangan Kendali
Partai Liberal Demokrat di Inggris menyerukan agar Asosiasi Sepak Bola Inggris dan badan sepak bola Eropa meninggalkan FIFA. Mereka mengaitkan desakan itu dengan kontroversi turnamen, termasuk harga tiket dan keputusan disipliner yang dinilai bermasalah. Seruan tersebut memperbesar tekanan politik, tetapi belum menjadi keputusan resmi FA atau UEFA.
Secara kelembagaan, keluar dari FIFA merupakan langkah besar karena berdampak pada partisipasi tim nasional, kompetisi internasional, pendanaan, dan hubungan antaranggota. Karena itu, desakan politik lebih mungkin berfungsi sebagai alat tekanan agar FIFA meningkatkan transparansi daripada langsung menghasilkan eksodus organisasi sepak bola Eropa. Perubahan nyata memerlukan dukungan federasi, bukan hanya pernyataan partai.
Infantino juga memperoleh dukungan simbolik setelah turnamen. International Federation of Football History and Statistics menyampaikan selamat kepada FIFA dan Presiden FIFA atas penyelenggaraan kompetisi, sekaligus memberi apresiasi kepada Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebagai tuan rumah. Pengakuan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan teknis turnamen tetap dinilai positif oleh sebagian lembaga sepak bola.
Dalam konteks itu, tantangan Infantino bukan sekadar mempertahankan jabatan. Ia perlu menjawab kesenjangan antara keberhasilan menggelar kompetisi terbesar FIFA dan meningkatnya ketidakpercayaan terhadap proses pengambilan keputusan. Transparansi mengenai protokol politik, perjalanan pejabat, kebijakan tiket, dan keputusan disipliner akan menentukan arah hubungan FIFA dengan suporter setelah Piala Dunia 2026.



















