Headline.co.id, Blora ~ Roti berjamur ditemukan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan selama bulan puasa di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Ratusan roti tersebut dikembalikan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Temuan serupa juga terjadi di SMPN 1 Delanggu dan beberapa sekolah di Sumatera Selatan, termasuk SDN 1 Tugu Papak, SDN 1 Kanyangan, SDN 1 Negarabatin, dan SDN 1 Pulau Benawang. Meskipun program MBG bertujuan untuk meningkatkan gizi anak sekolah, kualitas dan keamanan pangan harus tetap menjadi prioritas.
Prof. apt. Zullies Ikawati, Ph.D, Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinik dari Fakultas Farmasi UGM, menekankan pentingnya perhatian serius terhadap temuan roti berjamur dalam program MBG. Menurutnya, roti berjamur menunjukkan pertumbuhan mikroorganisme dan tidak layak dikonsumsi. “Kejadian ini biasanya terkait dengan penyimpanan, distribusi, atau masa simpan yang tidak terkontrol dengan baik. Evaluasi sistem pengadaan, penyimpanan, dan pengawasan mutu makanan dalam program MBG perlu diperkuat,” ujarnya di Fakultas Farmasi UGM, Jumat (6/3).
Zullies menjelaskan bahwa roti berjamur biasanya ditumbuhi kapang seperti Aspergillus, Penicillium, atau Rhizopus. Beberapa kapang dapat menghasilkan mikotoksin, senyawa toksik yang berbahaya. “Contohnya aflatoksin, ochratoxin, atau toksin lainnya. Meski tidak semua jamur menghasilkan toksin, makanan berjamur tidak boleh dikonsumsi karena kita tidak bisa memastikan jenis jamur dan toksinnya,” jelasnya.
Mengonsumsi roti berjamur dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti mual, muntah, nyeri perut, atau diare. Pada individu sensitif, jamur bisa memicu alergi. Jika terkontaminasi mikotoksin dalam jumlah tertentu, dapat menyebabkan gangguan hati atau efek toksik lainnya dalam jangka panjang. “Pada anak-anak, yang sistem imunnya masih berkembang, risiko efek kesehatan bisa lebih besar dibandingkan orang dewasa,” tambahnya.
Zullies juga menyatakan bahwa roti berjamur tidak selalu melewati masa kadaluwarsa. Penyimpanan yang buruk, seperti di tempat lembap atau suhu hangat, dapat mempercepat pertumbuhan jamur. Oleh karena itu, roti berjamur sebaiknya tidak dikonsumsi meskipun belum kadaluwarsa.
Beberapa ciri fisik roti tidak layak konsumsi lain bintik atau bercak jamur berwarna hijau, hitam, putih, atau kebiruan, bau apek atau asam, tekstur lembab berlebihan atau berlendir, dan perubahan warna. “Jika salah satu tanda tersebut muncul, sebaiknya roti tidak dikonsumsi,” sarannya.
Untuk mencegah kejadian serupa, Zullies berharap pengawasan kualitas pangan lebih ketat, mulai dari produksi hingga distribusi. Kontrol masa simpan dan tanggal produksi harus dilakukan, serta penyimpanan pada suhu dan lingkungan yang tepat. Pemeriksaan sebelum distribusi ke sekolah juga penting agar makanan tidak layak terdeteksi lebih awal. “Pelatihan terkait keamanan pangan bagi pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan sekolah juga diperlukan. Dengan sistem pengawasan yang baik, risiko kontaminasi pangan dapat diminimalkan,” tutupnya.























