Headline.co.id, Jogja ~ Pemerintah Indonesia berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, teknologi nuklir diharapkan mulai beroperasi pada tahun 2032, dengan kemungkinan percepatan hingga 2029 jika semua prasyarat regulasi, teknologi, dan kelembagaan terpenuhi. Kapasitas pembangkit nuklir direncanakan meningkat secara bertahap hingga mencapai 35 gigawatt, yang akan menyuplai sekitar 14% kebutuhan energi nasional.
Menanggapi rencana tersebut, Prof. Andang Widi Harto, Dosen Bidang Reaktor Maju Pembangkit Daya dari Fakultas Teknik UGM, menyatakan bahwa ada tiga tahapan yang dapat dilakukan untuk mewujudkan pembangunan PLTN. Tahap pertama adalah pemanfaatan teknologi yang sudah ada, yang disertai dengan kegiatan Research and Development (R&D) untuk menghasilkan desain pengembangan teknologi. “Kita ingin suatu saat bisa mandiri secara teknologi, jadi R&D bisa dimulai bersamaan dengan tahapan awal,” ujarnya pada Kamis (12/2).
Tahap kedua melibatkan kesiapan regulasi, penguatan kelembagaan, kepastian investasi, serta pengembangan riset dan sumber daya manusia. Sebagai satu-satunya Program Studi Teknik Nuklir di Indonesia, UGM berperan dalam mempersiapkan sumber daya manusia untuk persiapan, kelayakan, dan pengawasan. “Kita bisa mempersiapkan operator yang mengawasi bagian teknisi nuklirnya. Kemudian kita juga bisa memberikan semacam training pengetahuan dasar atau konsultasi mengenai nuklir,” ungkap Andang.
Tahap ketiga menyoroti pengelolaan limbah radioaktif, yang menjadi perhatian utama dalam pengoperasian PLTN. Andang menjelaskan bahwa limbah radioaktif saat ini dikelola dengan sistem penanganan yang ketat dan terkontrol. Tantangan utama adalah usia limbah yang dapat bertahan hingga ribuan tahun, sehingga memerlukan sistem penyimpanan yang aman dalam jangka panjang. “Limbah radioaktif PLTN sudah ditangani. Semua limbah diwadahi dalam kontainer. Tantangannya adalah bagaimana kontainer tersebut bisa bertahan sampai ratusan tahun dan tidak rusak,” jelasnya.
Lebih lanjut, Andang menyebutkan bahwa solusi jangka panjang melalui teknologi daur ulang limbah aktif sudah tersedia, meskipun masih dalam tahap pengembangan dan belum bersifat komersial. “Teknologinya memang belum siap pakai, tetapi secara konsep dan teori sudah ada dan sebenarnya bisa terus dikembangkan,” tambahnya.
Meskipun terdapat peluang dan tantangan, Andang menekankan bahwa pengembangan PLTN di Indonesia tidak dapat terwujud secara instan. Namun, kebutuhan listrik nasional yang terus meningkat membuka peluang bagi energi nuklir sebagai sumber energi rendah emisi yang stabil. Dengan perencanaan yang matang dan pengelolaan risiko yang terkontrol, wacana ini dapat menjadi peluang untuk membangun kemandirian teknologi bagi Indonesia di masa depan. “Risiko pasti ada. Tapi, secara teknologi kita sudah bisa mengatasi itu,” ujarnya.



















