Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menggandeng Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mempercepat hilirisasi riset bahan alam hasil penelitian perguruan tinggi. Kolaborasi tersebut dibahas Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto bersama Kepala BPOM Taruna Ikrar pada Kamis (5/11/2026). Upaya ini mencakup pemanfaatan fasilitas produksi, pendampingan teknis, sertifikasi, ketentuan ekspor, serta penguatan pembuktian ilmiah agar hasil riset dapat dikembangkan menjadi produk yang aman, bermutu, dan bernilai tambah.
Hilirisasi riset bahan alam didorong agar inovasi perguruan tinggi tidak berhenti pada skala laboratorium. Kemdiktisaintek dan BPOM membahas keterhubungan kemampuan penelitian, fasilitas industri, serta sistem pengawasan keamanan dan mutu sesuai kategori produk yang akan dikembangkan.
Menteri Brian mengatakan perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia telah memiliki kemampuan riset serta teknologi yang berpotensi mendukung pengembangan industri obat dan produk berbasis bahan alam. Namun, kemampuan tersebut perlu dihubungkan dengan fasilitas produksi dan dukungan lintas sektor.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Perguruan tinggi dan lembaga penelitian sudah memiliki kemampuan riset dan pengembangan. Namun, untuk membawa hasilnya sampai ke tahap produksi, diperlukan keterhubungan dengan fasilitas industri dan dukungan dari berbagai pihak,” ujar Brian.
Fasilitas ekstraksi industri dijajaki
Salah satu langkah yang dijajaki Kemdiktisaintek ialah memanfaatkan fasilitas ekstraksi bahan alam milik industri yang belum digunakan secara optimal. Fasilitas itu dinilai berpotensi membantu pengolahan hasil penelitian perguruan tinggi menuju tahap pengembangan produk dan produksi.
Proses hilirisasi bahan alam mencakup sejumlah tahapan yang saling berkaitan. Tahapan tersebut meliputi penyediaan bahan baku, ekstraksi dan pemurnian, hingga pengembangan produk akhir.
Industri dibutuhkan untuk mendukung kesiapan produksi, sementara regulator memastikan pengembangan produk mengikuti ketentuan yang berlaku. Pemanfaatan fasilitas produksi juga tetap harus mempertimbangkan kesiapan teknologi, standar teknis, perizinan, serta kategori produk.
Melalui keterhubungan tersebut, hasil penelitian diharapkan dapat dikembangkan menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan penjualan bahan mentah. Pengembangan produk juga perlu dirancang sejak tahap penelitian agar kebutuhan pengujian, standar mutu, dan aspek regulasi dapat dipahami peneliti sejak awal.
Riset kratom telah mencapai tahap pilot plant
Kratom menjadi salah satu komoditas yang dibahas dalam pertemuan Kemdiktisaintek dan BPOM. Menurut Brian, perguruan tinggi dan lembaga penelitian telah mengembangkan riset serta teknologi pengolahan kratom hingga tahap pilot plant atau fasilitas percontohan berskala terbatas.
Pengembangan tersebut masih membutuhkan dukungan fasilitas industri dan pendampingan BPOM agar dapat berlanjut sesuai standar serta ketentuan yang berlaku. Arah pengembangannya ialah meningkatkan nilai tambah kratom melalui pengolahan, bukan sekadar mengandalkan ekspor bahan mentah.
Namun, pengembangan kratom sebagai produk kesehatan tetap harus didasarkan pada pembuktian ilmiah dan persyaratan regulasi sesuai peruntukannya. Potensi bahan alam tidak secara otomatis membuktikan keamanan maupun khasiatnya sebagai obat.
Karena itu, proses pengembangan perlu mencakup karakterisasi senyawa, penetapan tingkat kemurnian, serta pengujian keamanan. Uji praklinik dan uji klinik juga diperlukan sesuai kategori produk dan persyaratan yang berlaku untuk membuktikan keamanan serta manfaatnya.
BPOM siapkan pendampingan teknis
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyambut pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan produk berbasis bahan alam. Dukungan regulator diperlukan agar peningkatan nilai ekonomi hasil riset berjalan seiring dengan pemenuhan persyaratan keamanan, mutu, dan standar produk.
Dalam pertemuan tersebut, Kemdiktisaintek dan BPOM membahas kemungkinan pendampingan teknis bagi peneliti dan industri. Salah satu rencana yang dibicarakan ialah penyelenggaraan coaching clinic bagi peneliti dan profesor untuk memperkuat kesiapan hasil riset memasuki tahap hilirisasi.
Pendampingan itu diharapkan membantu peneliti memahami kebutuhan pengembangan produk, termasuk persyaratan pengujian, standar mutu, dan ketentuan regulasi. Dengan demikian, proses pemindahan hasil penelitian dari laboratorium menuju produksi dapat direncanakan secara lebih terarah.
Selain pendampingan, pertemuan tersebut membahas peluang pembukaan usulan penelitian yang mendukung pengembangan bahan alam dan pemanfaatan hasil riset menjadi produk bernilai tambah.
Kemdiktisaintek juga akan memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait. Koordinasi diperlukan agar pengembangan komoditas, termasuk pengolahan dan ekspornya, berjalan sesuai kewenangan masing-masing instansi.
Kolaborasi Kemdiktisaintek dan BPOM ini sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak, yakni mendorong hasil pendidikan tinggi, sains, dan teknologi agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan nasional.
Keberhasilan hilirisasi riset bahan alam tidak hanya diukur dari jumlah penelitian atau teknologi yang dihasilkan. Faktor lainnya ialah kemampuan hasil riset menjawab kebutuhan industri dan masyarakat melalui produk yang aman, bermutu, serta memiliki daya saing.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















