Headline.co.id, Gorontalo ~ Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan melalui Pelatihan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dan Gizi Buruk Terintegrasi. Pelatihan yang berlangsung secara blended pada 19–30 Oktober 2026 itu diikuti 30 tenaga kesehatan dari Kabupaten Boalemo dan Kabupaten Pohuwato. Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat kemampuan tenaga kesehatan dalam mendeteksi tanda bahaya penyakit, menangani balita sakit, serta memberikan konseling kepada keluarga. Upaya tersebut diharapkan membantu menekan angka kematian bayi dan balita di Provinsi Gorontalo.
Pelatihan MTBS dilaksanakan dalam dua tahapan, yakni secara daring pada 19–25 Oktober 2026 dan secara luring pada 26–30 Oktober 2026. Peserta berasal dari masing-masing lima puskesmas di Kabupaten Boalemo dan Kabupaten Pohuwato.
Peserta terdiri atas dokter, bidan, perawat, dan nutrisionis. Mereka mendapatkan penguatan keterampilan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada bayi muda berusia kurang dari dua bulan serta balita berusia dua bulan hingga lima tahun.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Hal tersebut disampaikan Administrator Ahli Madya Suliyanti Otto selaku penanggung jawab kegiatan Pelatihan MTBS dan Gizi Buruk Terintegrasi, Jumat (30/10/2026).
Pelatihan MTBS Perkuat Deteksi Dini Balita Sakit
Suliyanti menjelaskan, pelatihan tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam melakukan penilaian, klasifikasi, tindakan, dan konseling terhadap bayi serta balita yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
“Pelatihan manajemen terpadu balita sakit atau MTBS dan tata laksana gizi buruk ditujukan untuk meningkatkan keterampilan dari tenaga kesehatan di dalam melakukan penilaian, klasifikasi, tindakan dan juga melakukan konseling pada balita sakit,” ungkap Suliyanti.
Menurut dia, kemampuan tersebut penting agar tenaga kesehatan dapat mengenali tanda bahaya pada balita sejak dini. Dengan demikian, tindakan atau intervensi yang sesuai dapat segera dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Suliyanti berharap tenaga kesehatan yang mengikuti pelatihan mampu menerapkan kompetensi yang diperoleh secara mandiri. Penerapan itu mencakup proses penilaian dan klasifikasi kondisi balita, penemuan tanda bahaya, serta pelaksanaan intervensi sejak awal.
“Harapan pada pertemuan ini adalah kedepannya mereka dapat menekan terjadinya kematian balita yang target untuk tahun 2026 ini adalah 13,8 per 1000 kelahiran hidup. Tujuannya adalah mereka secara mandiri bisa melakukan sejak dini penilaian dan klasifikasi sehingga dapat menemukan tanda bahaya pada balita itu sejak dini dan kemudian melakukan intervensi sejak dini pula,” ujarnya.
AKABA Gorontalo Tercatat 8,2 per 1.000 Kelahiran Hidup
Berdasarkan data hingga Oktober 2026, Angka Kematian Balita (AKABA) usia 0–5 tahun di Provinsi Gorontalo tercatat sebesar 8,2 per 1.000 kelahiran hidup. Angka tersebut masih berada di bawah target tahun 2026 yang ditetapkan sebesar 13,8 per 1.000 kelahiran hidup.
Pelatihan MTBS dan Gizi Buruk Terintegrasi menjadi salah satu upaya Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo untuk memperkuat mutu pelayanan bagi bayi dan balita. Materi pelatihan tidak hanya berfokus pada penanganan penyakit, tetapi juga mencakup tata laksana gizi buruk dan pemberian edukasi kepada orang tua atau keluarga.
Konseling kepada keluarga dinilai menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan bayi dan balita. Melalui edukasi tersebut, keluarga diharapkan memperoleh informasi mengenai pelayanan kesehatan yang dibutuhkan sesuai kelompok usia anak.
Edukasi untuk Bayi Muda dan Balita
Suliyanti mengatakan, tenaga kesehatan juga didorong untuk memberikan konseling dan edukasi secara menyeluruh. Pelayanan tersebut mencakup bayi muda berusia kurang dari dua bulan dan balita berusia dua bulan sampai lima tahun.
“Di dalam pelatihan ini juga kami berharap mereka dapat memberikan konseling dan edukasi mengenai pelayanan kesehatan baik bayi muda yang berusia kurang dari 2 bulan dan juga balita berusia 2 bulan sampai dengan 5 tahun agar dapat mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal dan mendapatkan kesehatan yang paripurna,” pungkasnya.
Dengan pelatihan tersebut, tenaga kesehatan dari Boalemo dan Pohuwato diharapkan dapat memperkuat pelayanan di puskesmas masing-masing. Kompetensi yang ditingkatkan meliputi deteksi dini, penanganan penyakit, tata laksana gizi buruk, penilaian kondisi balita, serta edukasi bagi keluarga.
Peningkatan kapasitas itu diharapkan mendukung pelayanan kesehatan bayi dan balita yang lebih optimal sekaligus memperkuat upaya deteksi dan intervensi sejak dini di Provinsi Gorontalo.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




![[Siaran Pers] Meutya Hafid Ingatkan AI Jangan Menyeragamkan Keragaman Indonesia](https://www.headline.co.id/wp-content/uploads/2026/10/siaran-pers-meutya-hafid-ingatkan-ai-jangan-menyeragamkan-keragaman-indonesia.jpg)












