Headline.co.id ~ Kementerian Pariwisata bersama Jakarta Fashion Week (JFW) 2027 dan sejumlah mitra menghadirkan Southeast Asian Fashion Parade di City Hall, Pondok Indah Mall 3 (PIM 3), Jakarta, Minggu (1/11/2026). Peragaan busana ini menjadi bagian dari inisiatif SEAWAVES untuk menampilkan kekayaan budaya dan kreativitas fesyen Asia Tenggara. Kegiatan tersebut menghadirkan koleksi busana siap pakai dari enam desainer negara ASEAN dalam dua sesi, yakni pukul 13.00 dan 20.00 WIB. Kolaborasi ini digelar untuk memperkuat kerja sama kebudayaan sekaligus membuka peluang kolaborasi antarnegara di kawasan.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan Southeast Asian Fashion Parade mencerminkan komitmen ASEAN dalam meningkatkan kerja sama kebudayaan dan mempererat hubungan antarbangsa. Menurut dia, fesyen tidak hanya berkaitan dengan industri, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya dan sarana diplomasi.
“Pengakuan ini menegaskan bahwa fesyen bukan sekadar sebuah industri, melainkan juga wujud ekspresi identitas budaya sekaligus sarana penting untuk semakin mendekatkan bangsa-bangsa di kawasan,” kata Menteri Pariwisata.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Enam desainer tampil dalam Southeast Asian Fashion Parade
Southeast Asian Fashion Parade menampilkan koleksi ready-to-wear kontemporer yang merepresentasikan karakter, kreativitas, dan visi khas para desainer dari enam negara Asia Tenggara.
Para desainer yang berpartisipasi ialah Rizman Ruzaini dari Malaysia, GINLEE dari Singapura, Renz Reyes dari Filipina, Natacha Van dari Kamboja, THAT dari Vietnam, serta TANDT dari Thailand.
Keenam desainer tampil dalam dua sesi peragaan pada rangkaian penutup Jakarta Fashion Week 2027. Ajang JFW 2027 berlangsung pada 26 Oktober hingga 1 November 2026 dengan mengusung semangat “City of New Lights”.
Kementerian Pariwisata menyebut kolaborasi ini menjadi bagian dari SEAWAVES Initiative yang mempertemukan kekayaan warisan budaya dengan kreativitas fesyen kontemporer. Melalui peragaan tersebut, fesyen Asia Tenggara dihadirkan sebagai perayaan atas modernitas, keberagaman, dan orisinalitas kawasan.
Menurut Widiyanti, diplomasi fesyen dapat menjadi pendekatan untuk merayakan keberagaman, memperluas pemahaman lintas budaya, serta mempererat persahabatan antarnegara di Asia Tenggara.
Jakarta diposisikan sebagai ruang kolaborasi kreatif
Widiyanti menilai Jakarta memiliki potensi strategis sebagai pusat pertemuan dan kolaborasi kreatif kawasan. Sebagai kota tempat berkedudukannya Sekretariat ASEAN, Jakarta tidak hanya menjadi titik temu diplomasi regional, tetapi juga berpeluang menjadi ruang bagi desainer, pelaku usaha, dan komunitas fesyen Asia Tenggara untuk bertukar gagasan.
Kementerian Pariwisata menyebut ruang kolaborasi tersebut dapat membuka peluang kerja sama di pelaku industri fesyen negara-negara kawasan. Dalam konteks ini, Jakarta Fashion Week berperan sebagai platform bagi desainer mapan, talenta baru, dan pelaku industri fesyen untuk memperluas jejaring serta membangun kolaborasi internasional.
Penyelenggaraan Southeast Asian Fashion Parade juga melanjutkan rangkaian kegiatan fesyen dan budaya Asia Tenggara yang digelar di Jakarta. Sebelumnya, pada 26 Oktober 2026, Kementerian Pariwisata bersama Jakarta Fashion Week dan sejumlah mitra meresmikan pameran Waves of Weave di Museum Nasional Indonesia.
Pameran Waves of Weave menghadirkan kekayaan tekstil tradisional dan kebaya dari berbagai negara Asia Tenggara. Pameran tersebut dapat dinikmati pengunjung hingga 8 Januari 2027.
Diplomasi fesyen diharapkan berdampak pada industri kreatif
Kementerian Pariwisata berharap persahabatan dan peluang kolaborasi yang terbentuk melalui Southeast Asian Fashion Parade dapat terus berlanjut. Kerja sama tersebut diharapkan memberikan manfaat nyata bagi pertumbuhan industri kreatif dan pariwisata negara-negara Asia Tenggara.
Penyelenggaraan peragaan busana ini juga menempatkan fesyen sebagai medium untuk memperkenalkan kekayaan budaya kawasan melalui pendekatan kontemporer. Koleksi para desainer dari enam negara menunjukkan pertemuan warisan budaya, kreativitas, dan gagasan fesyen modern.
“Semoga fesyen Asia Tenggara terus menjadi jembatan yang mendekatkan bangsa-bangsa di kawasan serta memperoleh pengakuan yang semakin luas di panggung dunia,” kata Menteri Pariwisata.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















