Headline.co.id, Jakarta ~ Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) 2025 mencapai 77,89, melampaui target 76,77. Kementerian Agama (Kemenag) memperkuat upaya menjaga capaian indeks kerukunan tersebut melalui deteksi dini konflik dengan aplikasi Si Rukun, pelibatan penyuluh agama dan lebih dari 3.000 dai di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta program Masjid Ramah Pemudik. Langkah itu disampaikan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Abu Rokhmad di Jakarta, Senin (2/11/2026), untuk mencegah potensi persoalan berkembang menjadi konflik.
Indeks Kerukunan 2025 yang melampaui target dinilai menjadi gambaran positif kehidupan umat beragama. Namun, Kemenag menegaskan capaian itu tidak boleh membuat upaya menjaga toleransi dan kerukunan mengendur. Berbagai langkah dilakukan dengan menggabungkan pemantauan berbasis teknologi, peran penyuluh agama, dialog lintas agama, serta pelayanan rumah ibadah bagi masyarakat.
Si Rukun untuk Deteksi Dini Konflik
Abu Rokhmad mengatakan, kerukunan merupakan kondisi yang dinamis. Masyarakat yang rukun bukan berarti tidak memiliki persoalan atau perbedaan, melainkan mampu menyelesaikan persoalan tersebut secara baik sehingga tidak berkembang menjadi konflik.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Rukun itu bukan berarti masyarakat tanpa persoalan sama sekali. Bisa jadi ada masalah, ada persoalan, tetapi persoalan itu bisa diselesaikan secara baik oleh masyarakat,” ujarnya di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Menurut dia, Kemenag mengembangkan aplikasi Si Rukun sebagai sarana pemantauan kondisi kerukunan di masyarakat. Aplikasi tersebut memungkinkan penyuluh agama melaporkan situasi di wilayah binaan, termasuk indikasi konflik bernuansa agama yang berpotensi berkembang.
Pelaporan melalui Si Rukun tidak harus menunggu konflik terjadi atau membesar. Potensi persoalan yang muncul di tengah masyarakat dapat disampaikan lebih awal agar para pemangku kepentingan memiliki informasi untuk mengambil langkah pencegahan.
“Bahkan potensi pun sudah bisa dilaporkan kepada kita sehingga mereka nanti bisa mengambil langkah-langkah tertentu untuk menciptakan kembali kerukunan sehingga tidak terjadi eskalasi konflik yang tidak kita harapkan,” kata Abu Rokhmad.
Selain memanfaatkan teknologi, Kemenag mengandalkan penyuluh agama yang berinteraksi langsung dengan masyarakat di tingkat desa dan kelurahan. Penguatan kerukunan juga diperluas melalui lebih dari 3.000 dai yang bertugas di wilayah 3T.
“Kehadiran mereka diharapkan dapat memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus menyebarluaskan pesan toleransi, kedamaian, dan saling menghormati hingga wilayah yang sulit dijangkau,” ungkapnya.
Perjumpaan Lintas Agama Diperbanyak
Abu Rokhmad menilai keterlibatan berbagai unsur masyarakat penting untuk membangun kerukunan yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan pelibatan umat lintas agama dalam penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional.
“Di Semarang kemarin itu anak-anak dari semua agama terlibat dalam parade untuk menyanyikan secara bersama-sama lagu Mars MTQ,” ungkapnya.
Kemenag juga menyiapkan bakti lintas agama pada November hingga Desember. Kegiatan tersebut bertepatan dengan momentum peringatan Hari Toleransi Internasional setiap 16 November serta perayaan Natal dan Tahun Baru.
Bakti lintas agama melibatkan penyuluh agama dari berbagai agama untuk mengunjungi rumah ibadah, melakukan aksi sosial seperti membersihkan tempat ibadah, berdialog, dan saling mengenal tradisi keagamaan masing-masing. Kemenag juga menjadwalkan pertemuan dengan tokoh-tokoh organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan lintas agama sebagai bagian dari komunikasi dan koordinasi rutin.
Menurut Abu Rokhmad, perjumpaan langsung menjadi salah satu cara untuk mencegah kesalahpahaman antarumat beragama. Komunikasi terbuka memungkinkan masyarakat mengenal kehidupan dan praktik keagamaan satu sama lain.
“Tidak ada kata lain kecuali kita memperbanyak perjumpaan-perjumpaan, pertemuan-pertemuan, komunikasilah. Komunikasi karena itu akan menyelesaikan semua hal yang biasanya terjadi kesalahpahaman karena kurangnya komunikasi,” ujarnya.
Rumah Ibadah Jadi Ruang Pelayanan
Di luar dialog dan aksi sosial, Kemenag mendorong rumah ibadah mengambil peran lebih luas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Salah satunya melalui program Masjid Ramah Pemudik.
Program tersebut menyediakan tempat beristirahat, minuman seperti teh dan kopi, fasilitas untuk membersihkan diri, serta tempat salat bagi pemudik muslim. Fasilitas itu disiapkan agar masyarakat memiliki tempat singgah yang mudah dijangkau ketika melakukan perjalanan.
Abu Rokhmad menjelaskan, pelayanan tersebut tidak hanya ditujukan bagi pemudik saat Idulfitri, tetapi juga disiapkan untuk periode Natal dan Tahun Baru atau Nataru. Kemenag membuka kesempatan bagi masyarakat nonmuslim untuk memanfaatkan masjid sebagai tempat beristirahat selama perjalanan.
“Bagi yang nonmuslim, saya kira juga kita terbuka untuk mereka hadir. Bukan hanya masjid, tetapi tempat-tempat ibadah agama yang lain juga punya peluang untuk menjadi bagian dari memudahkan masyarakat dalam melakukan mudik,” jelasnya.
Kerukunan Berkaitan dengan Kondisi Ekonomi
Abu Rokhmad menambahkan, kerukunan juga berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Kesulitan ekonomi dapat membuat seseorang lebih rentan terpengaruh provokasi. Karena itu, penguatan kesejahteraan perlu berjalan beriringan dengan penumbuhan kedewasaan beragama.
Masyarakat yang memiliki kehidupan lebih baik diharapkan dapat berpikir lebih jernih, tidak mudah terprovokasi, serta tetap menjaga hubungan baik di tengah perbedaan.
Abu Rokhmad mengajak masyarakat terus memperdalam pemahaman terhadap agama masing-masing sekaligus mengenali kehidupan umat agama lain. Menurut dia, perbedaan seharusnya mendorong persatuan, solidaritas, dan kerja sama.
“Perbedaan-perbedaan itu harus menjadi kunci untuk bersatu, berintegrasi, saling mengenal, kolaborasi, kerja sama. Jangan sampai kemudian perbedaan ini dijadikan sebagai faktor disintegrasi,” pungkasnya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















