Headline.co.id, Jayawijaya ~ Lapisan es yang telah menyelimuti Puncak Jaya di Papua selama ribuan tahun diperkirakan akan hilang akibat peningkatan suhu global. Pada akhir tahun 2024, BMKG melakukan pemantauan terhadap gletser di Puncak Sudirman, Pegunungan Jayawijaya, Papua, dan menemukan bahwa luas tutupan es menyusut dari 0,23 kilometer persegi pada tahun 2022 menjadi 0,11-0,16 kilometer persegi. Laporan “Climate Chronicles” dari Nature Reviews Earth & Environment edisi April 2026 juga mengungkapkan bahwa gletser di seluruh dunia telah kehilangan sekitar 408 gigaton pada tahun 2025, menjadikannya tahun terburuk keenam sejak pencatatan dimulai pada 1975.
Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si., seorang pakar Hidrometeorologi, Iklim Perkotaan, dan Klimatologi Lingkungan dari Fakultas Geografi UGM, menjelaskan bahwa ketebalan gletser di belahan Bumi utara dan selatan mengalami penyusutan baik dari segi luas maupun tebal. Ia menyoroti dua gunung es di wilayah tropis yang mengalami degradasi signifikan, yaitu Puncak Gunung Kilimanjaro di Afrika dan Puncak Jaya di Indonesia.
Menurut Emilya, penyusutan lapisan es ini disebabkan oleh radiasi matahari dengan gelombang pendek yang menjadi sumber energi utama penggerak cuaca dan iklim di bumi. Berbagai jenis penggunaan atau penutupan lahan di permukaan bumi menyerap dan melepaskan energi dari radiasi matahari, termasuk pembukaan lahan untuk pertanian, pemukiman, waduk, beton, serta es dan salju di wilayah kutub.
Rasio energi matahari yang dilepaskan dan diserap oleh penutup lahan di bumi disebut albedo. Es atau gletser memiliki nilai albedo tertinggi karena sebagian besar energi radiasi matahari dikembalikan ke atmosfer oleh gletser, sehingga bentuknya tetap utuh. “Penggunaan atau penutupan lahan di permukaan bumi yang masif membuat nilai albedo yang dikembalikan ke atmosfer menurun, sehingga terjadi penumpukan energi radiasi di atmosfer, kemudian terjadi pemanasan global, dan menyebabkan mencairnya gletser,” jelasnya pada Jumat (17/4).
Emilya juga menjelaskan bahwa salah satu bentuk penyusutan gletser adalah mencairnya es di banyak wilayah kutub dan pegunungan di Benua Eropa. Es yang mencair ini menyebabkan peningkatan volume air laut, yang pada gilirannya menyebabkan kenaikan muka air laut dan menyempitnya luas daratan rendah akibat terendam. “Dampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia adalah fenomena abrasi dan kenaikan muka air laut di daerah Semarang atau pesisir utara Jawa. Banyak pakar telah meneliti fenomena tersebut, meskipun kenaikan muka air tidak hanya disebabkan oleh peningkatan volume air laut,” tambahnya.
Untuk mencegah dampak yang semakin parah, Emilya menyarankan upaya dekarbonisasi lintas sektor dan regulasi pemanfaatan lahan yang harus diimplementasikan. “Di tingkat rumah tangga, kita bisa membantu dengan melakukan penghematan listrik, mengurangi pemakaian bahan bakar fosil, dan apabila mungkin, berpartisipasi dalam usaha penanaman pohon untuk membantu menurunkan suhu udara dalam jangka panjang,” tuturnya.























