Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi produksi jagung nasional sepanjang Januari hingga Desember 2026 mencapai 16,39 juta ton jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen. Angka tersebut meningkat 1,43 persen atau sekitar 0,23 juta ton dibandingkan produksi tahun sebelumnya. Perkiraan itu disampaikan BPS dalam konferensi pers rilis Berita Resmi Statistik (BRS) di Jakarta, Senin (2/11/2026), berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) September 2026.
Kenaikan produksi jagung nasional pada 2026 terjadi ketika produksi padi dan beras diperkirakan menurun. BPS memperkirakan produksi padi sepanjang Januari hingga Desember 2026 mencapai 57,45 juta ton gabah kering giling (GKG), turun 4,57 persen dibandingkan 2025. Sementara produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat diperkirakan mencapai 33,11 juta ton, juga turun 4,57 persen.
Produksi Jagung Nasional Diperkirakan Capai 16,39 Juta Ton
BPS mencatat luas panen jagung pipilan sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 2,23 juta hektare. Luas tersebut meningkat 1,64 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Untuk periode Oktober hingga Desember 2026, luas panen jagung pipilan diperkirakan mencapai 0,48 juta hektare. Namun, angka itu turun 7,30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan demikian, total luas panen jagung sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 2,71 juta hektare. Dibandingkan 2025, luas panen tersebut turun tipis 0,06 persen.
Dari sisi produksi, jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada Januari hingga September 2026 diperkirakan mencapai 13,16 juta ton. Produksi itu meningkat 2,73 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Adapun potensi produksi jagung pada Oktober hingga Desember 2026 diperkirakan mencapai 3,23 juta ton. Angka tersebut turun 3,55 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Secara keseluruhan, produksi jagung pipilan kering selama Januari hingga Desember 2026 diproyeksikan mencapai 16,39 juta ton atau meningkat 1,43 persen dari tahun sebelumnya.
Berdasarkan hasil KSA September 2026, luas panen padi sepanjang Januari hingga Desember 2026 diperkirakan mencapai 10,78 juta hektare. Luas tersebut turun 4,80 persen dibandingkan dengan 2025.
Khusus September 2026, luas panen padi tercatat 0,91 juta hektare, turun 19,40 persen dibandingkan September 2025 yang mencapai 1,13 juta hektare. Sementara itu, potensi luas panen padi pada Oktober hingga Desember 2026 diperkirakan mencapai 1,54 juta hektare, turun 17,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan luas panen tersebut sejalan dengan perkiraan produksi padi. Pada September 2026, produksi padi diperkirakan mencapai 4,88 juta ton GKG, turun 18,29 persen dibandingkan September 2025 yang sebesar 5,97 juta ton GKG.
Untuk periode Oktober hingga Desember 2026, potensi produksi beras diperkirakan mencapai 5,01 juta ton. Adapun produksi beras sepanjang Januari hingga Desember 2026 diproyeksikan mencapai 33,11 juta ton.
Cuaca Memengaruhi Perkembangan Pertanaman
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS RI, Ateng Hartono, mengatakan perkembangan pertanaman padi turut dipengaruhi kondisi cuaca. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah pada September 2026.
“Angka potensi masih dapat berubah. Ini bergantung pada kondisi pertanaman padi sepanjang nanti Oktober sampai Desember 2026, seperti pada saat adanya serangan hama atau organisme pengganggu tanaman (OPT), pada saat banjir, kekeringan, waktu pelaksanaan panen oleh petani mengalami perubahaan dan kondisi lainnya,” ujar Ateng Hartono di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Potensi panen padi pada Oktober hingga Desember 2026 diperkirakan terkonsentrasi di sejumlah wilayah, terutama Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Wilayah lain yang memiliki potensi panen meliputi Sumatra Utara, Lampung, Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















