Headline.co.id ~ Headline.co.id, Banten (Kemenag) — Wakil Menteri Agama Romo Syafi’i meminta santri menolak terorisme, penyalahgunaan narkoba, dan hasutan yang dapat memecah persatuan bangsa. Pesan itu disampaikan saat membuka Perkemahan Santri Pramuka Putri antarpondok pesantren se-Banten, Jawa Barat, dan Lampung di Banten, Senin (2/11/2026). Kegiatan tersebut digelar dalam rangka Milad ke-30 Pondok Pesantren Modern Manahijussadat. Dalam kesempatan itu, Wamenag juga mengajak santri menggunakan teknologi digital secara bertanggung jawab untuk memperluas pengetahuan dan mempererat silaturahmi.
Wamenag Minta Santri Waspadai Hasutan
Romo Syafi’i mengatakan, nilai-nilai kesantrian dan kepramukaan perlu dijadikan dasar pembentukan karakter santri. Menurutnya, kedua nilai tersebut dapat membentuk generasi yang agamis, nasionalis, patriotis, disiplin, dan bertanggung jawab.
“Jadikan semangat kesantrian dan kepramukaan sebagai dasar pembentukan mental kalian untuk menjadi warga negara Indonesia yang agamis, nasionalis, dan memiliki semangat patriotisme,” pesan Wamenag.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ia mengingatkan para peserta perkemahan agar mewaspadai berbagai ancaman yang dapat merusak masa depan generasi muda. Santri diminta menolak terorisme, penyalahgunaan narkoba, serta hasutan yang mendorong kebencian terhadap negara dan bangsa.
“Hati-hati dengan hasutan membenci negara kita sendiri, hasutan membenci bangsa kita sendiri, hasutan memecah belah persatuan bangsa. Dari mana pun datangnya, kita harus tegas menolak terorisme,” tegasnya.
Selain itu, Wamenag mengingatkan bahwa telepon genggam dapat memberikan manfaat maupun dampak negatif. Pengaruh perangkat tersebut, kata dia, bergantung pada pengendalian dan cara penggunaannya.
“Handphone ini bisa apa saja, tergantung pengendalian kita,” katanya.
Ia meminta santri menggunakan telepon genggam untuk kegiatan yang positif, termasuk mencari pengetahuan, membangun komunikasi, dan mempererat hubungan antarorang.
“Gunakan handphone untuk kepentingan-kepentingan yang benar, kepentingan-kepentingan yang baik, memudahkan komunikasi, dan memudahkan silaturahmi,” pesannya.
Pesantren Dinilai Berperan dalam Pembentukan Karakter
Wamenag menyampaikan bahwa para santri patut bersyukur karena memperoleh kesempatan menempuh pendidikan di pesantren. Selain mempelajari ilmu agama, santri dibiasakan hidup disiplin dan bertanggung jawab melalui berbagai kegiatan pembinaan, termasuk kepramukaan.
Ia juga membagikan pengalaman pribadinya yang sejak kecil ingin belajar di pesantren. Namun, keinginan itu belum terwujud karena keterbatasan akses dan kondisi ekonomi keluarga.
“Anak-anakku sekalian, kalian adalah orang yang terpilih, bisa belajar di pondok pesantren,” tuturnya.
Menurut Wamenag, kesempatan belajar di pesantren harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Pendidikan tersebut tidak hanya menjadi bekal untuk mencapai cita-cita pribadi, tetapi juga menghadirkan tanggung jawab agar santri dapat memberi manfaat bagi masyarakat dan negara.
“Jadi, saya berani mengatakan kalian orang hebat. Itu bukan hanya sekadar pujian, tetapi juga merupakan amanah,” tegasnya.
Ia berharap para santri tumbuh menjadi generasi yang berprestasi dan berintegritas serta mampu mengambil peran strategis dalam pembangunan Indonesia.
Santri Diingatkan pada Sejarah Perjuangan Bangsa
Dalam sambutannya, Wamenag menekankan kontribusi pesantren dalam perjalanan sejarah kemerdekaan Indonesia. Ia mengatakan, sejarah perjuangan bangsa tidak dapat dipisahkan dari peran para kiai dan santri dalam membangun kesadaran kebangsaan serta mempertahankan kemerdekaan.
“Karena wajah pesantren ini adalah wajah lahirnya negara Indonesia,” ungkapnya.
Wamenag juga menyinggung Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 sebagai salah satu tonggak perjuangan kaum santri dalam mempertahankan kemerdekaan. Menurutnya, semangat tersebut perlu diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan yang menanamkan kecintaan terhadap agama dan Tanah Air.
Karena itu, ia meminta para pengasuh pesantren terus memperkuat pembentukan karakter kebangsaan para santri.
“Para ustaz dan ustazah, para kiai, terima kasih atas perjuanganmu menjadikan anak-anak ini garda pemelihara moral bangsa. Terus didik mereka dengan semangat nasionalisme, bangun semangat patriotismenya,” pesannya.
Perkemahan Pererat Silaturahmi Antar-santri
Wamenag turut mengapresiasi perjalanan 30 tahun Pondok Pesantren Modern Manahijussadat di bawah kepemimpinan KH Sulaiman Effendi. Pesantren tersebut dirintis dengan lima santri dan kini memiliki sekitar 500 santri serta cabang di Kota Padang, Sumatera Barat.
Menurut Wamenag, perkembangan tersebut menunjukkan ketekunan, keuletan, dan keikhlasan para pengasuh dalam mengembangkan pendidikan Islam.
“Saya kira ini menggambarkan ketekunan, keuletan, dan di atas segalanya adalah keikhlasan untuk mengasuh santri di pondok pesantren,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Basmah Ihsan atas perhatian dan dukungannya terhadap pengembangan pendidikan pesantren di Indonesia.
Wamenag berharap perkemahan santri pramuka putri dapat mempererat persaudaraan peserta dari Banten, Jawa Barat, dan Lampung. Kegiatan itu juga diharapkan memperkuat karakter kepemimpinan generasi muda.
“Dan kalian mendapat semangat bonding yang bagus, menjalin silaturahmi Banten, Jawa Barat, dan Lampung,” harapnya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















