Headline.co.id, Surabaya ~ Syarikat Islam (SI) menetapkan penguatan ekonomi umat sebagai arah utama kepemimpinan baru setelah Kongres Nasional Majelis Tahkim ke-42 di Asrama Haji Surabaya, Jawa Timur, Selasa (20/10/2026). Menteri Koperasi Ferry Juliantono terpilih sebagai Presiden Lajnah Tanfidziyah SI Masa Jihad 2026-2031, menggantikan Hamdan Zoelva yang menjadi Ketua Dewan Pusat. Agenda tersebut diarahkan untuk mengembalikan semangat awal SI sebagai Serikat Dagang Islam melalui program “Dakwah Ekonomi”. Pelaksanaannya ditempuh melalui kolaborasi Kementerian Koperasi, Kementerian Agama, Kementerian Ketenagakerjaan, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).
Perubahan kepemimpinan itu menandai babak baru bagi organisasi pergerakan Islam tertua di Indonesia. Di bawah kepemimpinan Ferry, SI mendapat mandat untuk merefleksikan kembali visi yang diletakkan H.O.S. Tjokroaminoto lebih dari seabad lalu, yakni memperkuat ekonomi umat sebagai bagian dari perjuangan kebangsaan.
Semangat tersebut diposisikan sebagai instrumen nasionalisme sekaligus upaya menghadapi kapitalisme yang dinilai kerap meminggirkan masyarakat kecil. Karena itu, kebangkitan ekonomi umat tidak hanya dibangun melalui satu lembaga, tetapi melalui sinergi lintas sektor yang menggabungkan kekuatan organisasi, kementerian, dan lembaga ekonomi syariah.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Lima Pilar Dakwah Ekonomi SI
Arah kebijakan SI akan difokuskan pada lima pilar, yaitu ekonomi syariah, koperasi, zakat dan wakaf, ekologi berkelanjutan, serta kewirausahaan umat. Fokus tersebut menjadi dasar untuk mendorong pemerataan akses permodalan yang selama ini disebut masih berputar di lingkaran ratusan korporasi besar.
Jaringan SI dari tingkat wilayah hingga cabang akan dikerahkan untuk membantu membebaskan masyarakat dari jeratan pinjaman ilegal. Gerakan itu juga akan ditopang dengan adopsi program unggulan Baznas agar program kesejahteraan sosial dan jaring pengaman pangan dapat menjangkau lapisan terbawah masyarakat.
Ferry meminta kader mengawal kepemimpinannya agar arah organisasi tetap sesuai dengan kaidah para pendahulu. “Saya apa adanya, maka ingatkan saya ketika saya salah atau keliru. Mari bersama-sama kita bangun pergerakan kebangsaan berlandaskan sebersih-bersih Tauhid, ilmu pengetahuan, dan siyasah,” kata Ferry di hadapan ribuan kader.
Penguatan ekonomi tersebut juga diselaraskan dengan implementasi program nasional Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Integrasi jaringan jamaah SI dan ekosistem koperasi desa ditargetkan menjadi mesin pemerataan bagi pengusaha muslim berskala mikro.
Masjid dan Pesantren sebagai Basis Pemberdayaan
Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai masjid dan pondok pesantren memiliki potensi besar untuk mendukung dakwah ekonomi. Potensi itu terlihat dari keberadaan ratusan ribu masjid dan puluhan ribu pondok pesantren di Nusantara yang dapat dioptimalkan sebagai pusat aktivitas ekonomi umat.
Salah satu bentuknya adalah pembangunan minimarket umat di lingkungan rumah ibadah. Aktivitas ritel tersebut dinilai dapat membantu membangun kemandirian finansial, dengan keuntungan yang berputar kembali untuk kesejahteraan jamaah.
“Jika kita ingin melihat sejarah pergerakan nasional yang paling pertama, itu adalah Serikat Dagang Islam. Visi pendahulu kita sangat jelas, bahwa memerdekakan umat harus melalui penguatan ekonomi agar tidak menjadi kaum yang termarginalkan,” ujar Nasaruddin.
Pernyataan itu menegaskan kaitan sejarah SI sebagai Serikat Dagang Islam dan agenda pemberdayaan ekonomi yang kini kembali dihidupkan. Penguatan ekonomi dipandang bukan hanya sebagai kegiatan usaha, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga kemandirian umat.
Kolaborasi Baznas dan Target Penyerapan Tenaga Kerja
Kementerian Ketenagakerjaan dan Baznas turut ditempatkan sebagai bagian penting dalam ekosistem kolaborasi tersebut. Baznas mengelola 32 sumber dana potensial yang nilainya ditaksir setara sepersepuluh Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Hingga kini, Baznas telah memberdayakan lebih dari 300 ribu mustahik atau penerima zakat. Sebanyak 15 ribu di antaranya disebut berhasil naik kelas menjadi pemberi manfaat.
Kolaborasi dengan SI diharapkan memperluas dampak pemberdayaan. Dengan kekuatan lebih dari sejuta anggota, SI diyakini dapat membantu menyerap ribuan tenaga kerja baru sekaligus meredam angka pengangguran apabila dikelola secara tepat.
Melalui kepemimpinan baru dan kolaborasi lintas sektor, SI diarahkan untuk bergerak dari wacana menuju program ekonomi yang lebih nyata. Penguatan koperasi, zakat, wakaf, kewirausahaan, serta pemberdayaan berbasis masjid menjadi bagian dari upaya membuktikan bahwa kesejahteraan ekonomi yang berkeadilan merupakan esensi kemerdekaan yang sejati.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















