Headline.co.id ~ Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid membahas potensi kerja sama pusat data dan infrastruktur komputasi Indonesia dan Finlandia untuk mendukung percepatan transformasi digital nasional. Pembahasan itu berlangsung saat Meutya menerima audiensi Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Pembangunan Finlandia Ville Tavio di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Rabu (14/10/2026). Kerja sama tersebut mencakup pemanfaatan teknologi, penguatan kapasitas komputasi, pengembangan kecerdasan artifisial (AI), serta dukungan terhadap layanan publik. Pembicaraan dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan Indonesia terhadap infrastruktur digital yang andal, merata, dan sesuai kondisi wilayah.
Indonesia Siapkan Diversifikasi Lokasi Pusat Data
Meutya mengatakan, pembangunan pusat data di Indonesia perlu memperhitungkan kebutuhan kapasitas komputasi, pemerataan lokasi, dan kesiapan infrastruktur pendukung. Pemerintah juga berkoordinasi lintas kementerian untuk menentukan lokasi pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan nasional.
“Kami tengah berkoordinasi dengan menteri-menteri lain untuk menentukan lokasi yang tepat serta melakukan perhitungan yang akurat dalam pembangunan pusat data,” ujar Meutya.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Menurut dia, luas wilayah Indonesia menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pengembangan pusat data. Saat ini, sebagian besar pusat data masih terkonsentrasi di satu wilayah. Karena itu, diversifikasi lokasi diperlukan untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan komputasi sekaligus memperkuat pemerataan infrastruktur digital nasional.
Pembahasan mengenai pusat data tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kolaborasi Indonesia dan Finlandia. Kerja sama kedua negara diarahkan untuk memadukan kebutuhan Indonesia terhadap infrastruktur komputasi dengan pengalaman Finlandia dalam pengembangan teknologi digital.
Nokia Terlibat dalam Proyek Pusat Data Bersama Indosat
Dalam pertemuan itu, Meutya juga menyoroti keterlibatan Nokia dalam proyek pusat data bersama Indosat. Perusahaan teknologi asal Finlandia tersebut dinilai dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkuat kemitraan teknologi kedua negara.
Keterlibatan Nokia juga membuka peluang partisipasi yang lebih luas bagi perusahaan Finlandia dalam pembangunan ekosistem digital Indonesia.
“Ini adalah tonggak pencapaian penting, tidak hanya bagi perusahaan Indonesia tetapi juga bagi Nokia, sebagai perusahaan Finlandia, untuk terlibat dalam salah satu proyek pusat data terbesar Indonesia,” ungkap Meutya.
Meutya mengatakan kebutuhan terhadap infrastruktur komputasi akan terus meningkat seiring pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung layanan publik. Salah satu penerapannya ialah digitalisasi perlindungan sosial yang sedang diuji coba pemerintah untuk meningkatkan ketepatan sasaran penerima bantuan.
Program tersebut direncanakan diperluas ke berbagai wilayah. Dengan perkiraan sekitar 50 juta penerima manfaat yang akan menerima bantuan dalam bentuk tunai, pemerintah membutuhkan dukungan infrastruktur digital dan AI yang memadai.
“Secara keseluruhan, diperkirakan ada sekitar 50 juta penerima manfaat yang akan menerima bantuan dalam bentuk tunai. Hal ini tentu membutuhkan infrastruktur digital dan infrastruktur AI yang memadai,” tegas Meutya.
Finlandia Tawarkan Pengalaman Energi dan Teknologi
Ville Tavio menyampaikan bahwa Finlandia memiliki pengalaman dalam pengembangan pusat data yang ditopang kondisi iklim, ketersediaan energi, dan kemajuan teknologi. Suhu yang relatif rendah di negara tersebut membantu mengurangi kebutuhan pendinginan pusat data.
Selain itu, lebih dari 95 persen pasokan listrik Finlandia berasal dari sumber yang bebas bahan bakar fosil.
“Sebagian besar listrik kami, yakni lebih dari 95 persen bebas bahan bakar fosil. Ini merupakan hal yang sangat baik bagi kami. Dengan demikian, sistem kami juga sangat mandiri,” jelas Tavio.
Finlandia juga menawarkan potensi kerja sama dalam pengembangan komputasi kuantum, kecerdasan artifisial, infrastruktur jaringan, dan kapasitas digital. Negara tersebut turut memperhatikan peluang pengembangan pusat data di Indonesia, termasuk melalui keterlibatan Nokia.
Selain pusat data, Finlandia melihat kemungkinan kolaborasi dalam perencanaan kota pintar di Ibu Kota Nusantara.
“Kami ingin meningkatkan partisipasi kami, khususnya dalam kerja sama dengan Indonesia,” ujar Tavio.
Peluang bagi Perusahaan Finlandia
Tavio menilai pertumbuhan ekonomi digital Indonesia membuka peluang bagi perusahaan Finlandia untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur dan layanan digital. Pemerintah Finlandia siap menyampaikan informasi mengenai peluang pengadaan dan tender publik di Indonesia kepada perusahaan yang memiliki kompetensi di bidang tersebut.
Meutya menegaskan pembangunan infrastruktur digital merupakan bagian dari Visi Digital Indonesia 2045. Visi tersebut berlandaskan tiga pilar, yaitu terhubung, tumbuh, dan terjaga.
Pemerintah ingin memastikan penguatan konektivitas berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pertumbuhan ekonomi digital, serta perlindungan masyarakat melalui ekosistem digital yang aman dan tepercaya.
Pertemuan Meutya dan Tavio menjadi langkah untuk menjajaki kolaborasi yang saling menguntungkan. Kerja sama Indonesia dan Finlandia diharapkan mendukung pembangunan ekosistem digital yang lebih tangguh serta memperluas manfaat transformasi digital bagi masyarakat.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
![[Siaran Pers] Meutya Hafid Bahas Potensi Kerja Sama Pusat Data dan Infrastruktur Komputasi dengan Finlandia](https://www.headline.co.id/wp-content/uploads/2026/10/siaran-pers-meutya-hafid-bahas-potensi-kerja-sama-pusat-data-dan-infrastruktur-komputasi-dengan-finlandia.jpeg)

















