Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan Majelis Masyayikh harus memberi dampak nyata terhadap peningkatan mutu pendidikan pesantren. Penegasan itu disampaikan dalam kegiatan Finalisasi dan Penetapan Hasil Rekrutmen Anggota Majelis Masyayikh Masa Khidmat 2026–2031 di Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026). Kementerian Agama kini memfinalisasi rekrutmen anggota untuk menjaga kesinambungan fungsi penjaminan mutu karena masa khidmat Majelis Masyayikh periode pertama dijadwalkan berakhir pada 25 November 2026.
Dalam arahannya, Nasaruddin meminta proses rekrutmen Majelis Masyayikh mengutamakan figur yang memiliki kedalaman ilmu, integritas, keteladanan, serta marwah dan kewibawaan sebagai ulama. Menurut dia, keberadaan lembaga tersebut memiliki posisi strategis dalam menjaga dan meningkatkan kualitas pendidikan pesantren.
Menag menilai anggota Majelis Masyayikh tidak cukup hanya memiliki jabatan atau popularitas di ruang publik. Mereka harus mempunyai kapasitas keilmuan, kematangan spiritual, integritas tinggi, serta pengabdian yang diakui secara luas oleh lingkungan pesantren.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Ulama yang memiliki marwah adalah mereka yang dihormati karena kedalaman ilmu, akhlak, keteladanan, dan pengabdiannya, bukan semata-mata karena jabatan atau popularitas,” tegas Nasaruddin.
Rekrutmen Majelis Masyayikh untuk Jaga Mutu Pesantren
Nasaruddin mengatakan pengalaman pada periode sebelumnya perlu dijadikan bahan evaluasi bersama. Evaluasi itu diperlukan agar pelaksanaan fungsi penjaminan mutu pendidikan pesantren semakin efektif dan mampu menjawab berbagai tantangan zaman.
Ia juga mengingatkan pesantren memiliki tradisi keilmuan yang kuat dan telah berkontribusi dalam melahirkan ulama, tokoh bangsa, serta generasi yang berilmu dan berakhlak mulia. Tradisi tersebut, kata dia, harus tetap dijaga sebagai fondasi pengembangan pendidikan pesantren di tengah dinamika perubahan zaman.
Menurut Menag, penghormatan kepada guru, keteladanan kiai, adab dalam menuntut ilmu, dan kesinambungan sanad keilmuan merupakan bagian penting dari identitas pesantren. Peningkatan kualitas pendidikan harus berjalan beriringan dengan pelestarian nilai-nilai khas pesantren.
Dalam konteks penguatan kelembagaan, kehadiran Direktorat Jenderal Pesantren diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan, tata kelola, dan penjaminan mutu pendidikan pesantren. Penguatan itu tetap harus berpijak pada karakteristik khas pesantren serta menghormati kemandirian dan kewibawaan para kiai.
Nasaruddin berharap rekrutmen tersebut menghasilkan figur yang mampu menjalankan amanah secara profesional, menjaga kehormatan ulama, dan mendorong perbaikan mutu pendidikan pesantren secara berkelanjutan. Keterwakilan yang proporsional, termasuk unsur gender, juga menjadi perhatian untuk mewujudkan kelembagaan yang inklusif.
Tim AHWA Jaring 25 Calon Anggota
Direktur Jenderal Pesantren Basnang Said menyampaikan proses rekrutmen anggota Majelis Masyayikh masa khidmat 2026–2031 telah memasuki tahap finalisasi. Proses tersebut telah melalui serangkaian seleksi selama kurang lebih dua hingga tiga bulan.
Basnang menjelaskan, Tim Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) hadir secara langsung untuk menyelesaikan tahap penetapan hasil rekrutmen. Tim tersebut terdiri atas unsur ketua, sekretaris, dan anggota berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama.
Tim AHWA bertugas menjaring 25 calon anggota untuk kemudian disampaikan kepada Menteri Agama sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan komposisi keanggotaan definitif. Jumlah anggota yang ditetapkan mengacu pada ketentuan yang berlaku, yakni minimal sembilan orang dan maksimal 17 orang.
Percepatan diperlukan agar seluruh tahapan setelah penetapan dapat disiapkan sebelum masa khidmat Majelis Masyayikh periode pertama berakhir.
“Percepatan proses rekrutmen ini diperlukan mengingat masa khidmat Majelis Masyayikh periode pertama dijadwalkan berakhir pada 25 November 2026. Oleh karena itu, tahapan penetapan, pelantikan, hingga pembagian tugas perlu dipersiapkan sejak dini agar kesinambungan fungsi penjaminan mutu tetap terjaga,” ungkap Basnang.
Target Majelis Masyayikh Masa Khidmat 2026–2031
Kementerian Agama berharap proses rekrutmen yang transparan dan akuntabel dapat memperkuat kinerja Majelis Masyayikh masa khidmat 2026–2031. Lembaga tersebut diharapkan mampu menjaga marwah ulama, memperkuat tradisi keilmuan, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan pesantren di Indonesia.
Dengan proses penetapan, pelantikan, hingga pembagian tugas yang dipersiapkan sejak dini, fungsi penjaminan mutu pendidikan pesantren diharapkan tetap berjalan secara berkesinambungan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















