Headline.co.id, Jakarta ~ Indonesia menegaskan pencalonannya sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) serta mengusung Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebagai kandidat Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Penegasan itu disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Arrmanatha C. Nasir dalam pidatonya di hadapan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (19/10/2026). Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Indonesia untuk memperkuat sistem multilateral melalui keterlibatan dan kontribusi di tingkat internasional. Menurut Arrmanatha, komitmen itu dijalankan dengan membawa gagasan, sumber daya manusia, dan solusi ke dalam berbagai mekanisme PBB.
Pencalonan Indonesia untuk DK PBB dan Budi Gunadi Sadikin sebagai kandidat Dirjen WHO disampaikan dalam konteks politik luar negeri Indonesia yang menganut prinsip bebas aktif. Arrmanatha menjelaskan, prinsip tersebut berarti Indonesia memiliki kebebasan dalam menentukan sikap dan keputusannya sendiri, sekaligus aktif terlibat dan memberikan kontribusi di dunia internasional.
“Sebagai pembentuk jembatan, penjaga perdamaian, dan penghubung berbagai pihak, peran-peran ini bukan sekadar gelar. Semuanya merupakan tanggung jawab untuk membangun kepercayaan dan mewujudkan sistem multilateral yang lebih kuat dan efektif,” kata Menlu.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Indonesia Bidik DK PBB dan Kandidat Dirjen WHO
Arrmanatha menegaskan, Indonesia ingin menjalankan peran internasional dengan berlandaskan tanggung jawab untuk membangun kepercayaan serta memperkuat sistem multilateral. Dalam pidatonya, ia mengaitkan kontribusi Indonesia di dunia internasional dengan upaya membangun Indonesia yang kuat dan tangguh.
Menurut dia, Indonesia yang kuat dan tangguh akan memiliki kemampuan lebih besar untuk berkontribusi terhadap perdamaian dan kesejahteraan di luar batas wilayahnya. Kontribusi tersebut menjadi bagian dari hubungan timbal balik ketangguhan Indonesia dan ketangguhan dunia.
“Indonesia yang tangguh akan turut mewujudkan dunia yang lebih tangguh. Dunia yang tangguh, pada gilirannya, akan menjadikan Indonesia semakin kuat,” ucap Arrmanatha.
Pernyataan itu disampaikan untuk menegaskan arah keterlibatan Indonesia dalam organisasi internasional. Indonesia tidak hanya mencalonkan diri atau berpartisipasi dalam forum multilateral, tetapi juga ingin menawarkan gagasan dan solusi melalui kapasitas yang dimilikinya.
“Semangat inilah yang kami bawa ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kami hadir bukan sekadar untuk berpartisipasi, melainkan untuk membawa gagasan, mengerahkan sumber daya manusia, dan menawarkan solusi,” kata Arrmanatha Nasir.
Peran Indonesia dalam Misi Perdamaian PBB
Dalam pidatonya, diplomat senior itu turut menyampaikan rekam jejak Indonesia dalam mendukung kerja PBB. Pasukan penjaga perdamaian Indonesia telah mengabdi di bawah bendera biru PBB sejak 1957.
Selain berkontribusi dalam misi penjaga perdamaian, Indonesia juga memperjuangkan prinsip-prinsip negara kepulauan. Upaya tersebut dilakukan lain melalui perkembangan hukum laut internasional dan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut atau United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).
Keterlibatan Indonesia juga tercatat dalam keanggotaan di DK PBB. Sebelum pencalonan terbaru, Indonesia telah empat kali menjadi anggota tidak tetap DK PBB.
Indonesia turut berkontribusi dalam berbagai mekanisme PBB, termasuk Komisi Pembangunan Perdamaian. Catatan tersebut menjadi bagian dari keterlibatan Indonesia dalam agenda perdamaian dan kerja sama multilateral.
Indonesia Bertugas di Dewan Auditor PBB
Selain pengalaman sebagai anggota tidak tetap DK PBB, Indonesia saat ini bertugas di Dewan Auditor PBB. Indonesia juga menjabat sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia PBB.
Posisi tersebut menunjukkan keterlibatan Indonesia dalam sejumlah badan dan mekanisme PBB. Dalam konteks itu, pencalonan sebagai anggota tidak tetap DK PBB serta pencalonan Budi Gunadi Sadikin sebagai kandidat Dirjen WHO disampaikan sebagai bagian dari komitmen untuk memperkuat sistem multilateral.
Arrmanatha menyatakan, peran Indonesia di tingkat internasional tidak semata-mata dipandang sebagai gelar. Peran tersebut, menurut dia, membawa tanggung jawab untuk membangun kepercayaan dan mewujudkan sistem multilateral yang lebih kuat serta efektif.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















