Headline.co.id, Jakarta ~ Penggunaan media sosial berkaitan dengan tingkat kecemasan anak muda di Indonesia. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, Imran Pambudi, menyampaikan hal itu di Jakarta dan dikutip dari Detik Health pada Senin (11/10/26). Menurut Imran, remaja dan dewasa muda menjadi mayoritas pengguna layanan internet. Kecemasan muncul ketika pengguna membandingkan kehidupannya dengan gambaran kehidupan orang lain di media sosial yang belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya.
Pernyataan tersebut dimuat dalam artikel pada 15 Oktober 2026. Imran menyoroti kecenderungan pengguna media sosial untuk melihat kehidupan, kesukaan, serta pencapaian orang lain sebagai pembanding terhadap kondisi diri sendiri.
Media sosial tidak selalu gambaran nyata
Imran mengingatkan, tampilan kehidupan yang muncul di media sosial tidak selalu menggambarkan kenyataan secara utuh. Seseorang dapat menampilkan kehidupan yang terlihat sangat bahagia, tetapi kondisi tersebut belum tentu hadir tanpa “polesan”.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Dia [seseorang] akan melihat apa yang terjadi di ‘seberang’ sana [orang lain]. Idolanya seperti apa, kesukanya seperti apa,” ujar Imran.
Paparan terhadap berbagai unggahan tersebut dapat mendorong seseorang menilai kehidupannya berdasarkan apa yang dilihat dari orang lain. Perbandingan itu tidak hanya menyangkut gaya hidup, tetapi juga usia, pencapaian, dan kemampuan ekonomi.
Menurut Imran, kondisi tersebut pada akhirnya dapat menimbulkan kecemasan pada individu. Pengguna media sosial membandingkan kehidupan pribadi dengan kehidupan orang lain yang ditampilkan di platform digital.
“Itu akhirnya yang membuat cemas, kok dia di umurku ini bisa beli Porsche, saya kok masih naik motor. Sehingga dia membandingkan dengan orang lain,” tuturnya.
Kematangan berpikir berperan
Imran mengaitkan dampak media sosial terhadap kecemasan dengan tingkat kedewasaan seseorang dalam melihat fenomena sosial. Semakin baik tingkat kedewasaan seseorang, menurut dia, semakin besar pula kemampuannya untuk menerima kenyataan.
Ia menjelaskan, kematangan dalam berpikir memainkan peran besar ketika seseorang menghadapi berbagai informasi dan gambaran kehidupan di media sosial. Pengguna yang belum matang dalam memahami fenomena sosial dinilai dapat lebih mudah menerima tampilan digital sebagai gambaran yang sebenarnya.
Imran menyebut sejumlah studi menunjukkan otak manusia sepenuhnya matang dan dewasa pada usia sekitar 20-an. Karena itu, ia menyoroti kondisi orang yang usianya masih di bawah 20 tahun ketika menerima dan mencerna suatu informasi.
“Kalau sebelum umur 20, otak masih berkembang, sehingga dia masih, kalau ada suatu hal, otak itu mencernanya belum benar,” terangnya.
Remaja dan dewasa muda menjadi mayoritas pengguna internet
Kelompok remaja dan dewasa muda disebut menjadi mayoritas pengguna layanan internet. Dengan tingginya keterpaparan kelompok tersebut terhadap media sosial, proses membandingkan diri dengan orang lain menjadi salah satu hal yang disoroti Kementerian Kesehatan.
Perbandingan dapat muncul ketika pengguna melihat tokoh yang diidolakan, kesukaan orang lain, atau pencapaian yang ditampilkan melalui media sosial. Namun, Imran menekankan bahwa tampilan tersebut tidak selalu menunjukkan seluruh keadaan kehidupan seseorang.
Dalam penjelasannya, Imran tidak menyebut media sosial sebagai satu-satunya penyebab kecemasan. Ia menerangkan adanya kaitan penggunaan media sosial, kecenderungan membandingkan diri, serta tingkat kematangan seseorang dalam memahami apa yang dilihatnya.
Pesan utama yang disampaikan Imran adalah pentingnya kemampuan menerima kenyataan dan memahami bahwa gambaran di media sosial bisa saja telah melalui proses “polesan”. Pemahaman itu menjadi penting terutama bagi pengguna yang masih berada dalam tahap perkembangan otak dan kematangan berpikir.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















